Archive for the ‘Pendidikan’ Category

Bismillahirrahmanirrahim………….

Empati dan peduli adalah sebuah sifat sekaligus pekerjaan dalam menjalin hubungan antar sesama, baik sesama manusia maupun sesama makhluk hidup. Empati dan peduli adalah bekal untuk menjalin hubungan penuh cinta dan kasih sayang, tanpa pamrih dalam menebar cinta dan kasih sayang itu sehingga ia akan dikenang sepanjang masa, lekat dihati dan sangat berharga bagi kehidupan ini. Kehadirannya sangat dinanti dan kepergiannya tak diingini. Inilah hakikat persahabatan sejati yang terangkum dalam ukhuwah islamiyah penuh ridlo Ilahi.

Sosok manusia dewasa itu adalah hasil didikan ketika kecilnya.tipikal-tipikal manusia dewasa adalah tipikal pendidikan orang tuanya ketika masih dalam buaian ibu dan bapaknya.

Akan kita dapati ketika sudah menjadi istri dari seorang suami atau menjadi suami dari seorang istri terkadang watak-watak konyol ini
masih dipelihara. Kenapa bisa demikian ? karena begitulah orang tuanya dalam mendidiknya dulu. Kenapa sering kita jumpai baik istri maupun suami masih manja, masih ingin dilayani, masih cengeng, masih ingin diajari, masih suka diperhatikan. Karena begitulah dulu orang tuanya mendidiknya. Ketika dididik manja maka bisa jadi sampai besar ia akan memelihara sifat itu. Begitu juga dengan ketika semua  permintaan dituruti akhirnya membuat anak berwatak cengeng karena
ia terbiasa dilayani dan dipenuhi segala kebutuhnnya tanpa pernah dikenalkan sebuah usaha.

Namun juga akan kita dapati watak yang keras dan mandiri,cepat dan ligat dalam segala hal namun sekali lagi biasanya ini mempunyai sisi
negative yaitu mempunyai watak keras dan emosional. Kenapa bisa begini ? karena begitulah dulu orang tuanya mendidiknya. Orang tuanya mendidiknya dengan keras dalam disiplin sehingga memacunya untuk terus berpikir dan berpikir agar tidak kena marah dari orang tuanya. Ia akan dihadapkan pada segala masalah dan ia harus mencari solusinya sendiri. Belum lagi harus mencari kehidupannya sendiri
memperjuangkan kehidupannya sendiri. Benturan-benturan yang dihadapi dalam proses hidupnya akhirnya membentuknya menjadi sosok yang keras dan emosional. Namun terkadang orang yang berwatak seperti ini mempunyai sifat positif tambahan berupa kepedulian. Ia lebih tahu bagaimana sengsaranya hidup,bagaimana cara mendapatkan kebahagiaan yang penuh dengan penderitaan. Iapun mudah untuk berempati.

Sedangkan banyak kita jumpai yang mendapatkan pendidikan manja akan rapuh dalam hal kepedulian dan empati kepada orang lain.

Seorang anak dari kecil mari kita kenalkan tugasnya ketika dewasanya nanti. Ajari anak selalu membagi makananya untuk temannya. Ajari anak untuk selalu tersenyum kepada temannya. Ajari anak untuk membantu kedua orang tuanya. Itu bukan berlebihan ana rasa dengan catatan semua sesuai kapasitas kemampuannya.

Jikalau ia mempunyai adik ajari dia untuk merawat adiknya, menyayanginya dan menjaganya, menghiburnya dan belajar ngemong adiknya.Biasakan untuk selalu bersama. Sehingga kebersamaan yang terus menerus akan memunculkan rasa cinta. Ia tak akan lepas dari adiknya. Semua aktivitas akan bersama adiknya. Mulai dari makan ia akan memikirkan adiknya. Tidurpun akan bersama adiknya dan ia akan ngelonin adiknya. Itulah cinta  sang kakak, yang telah tumbuh sejak dini ,bila telah kita kenalkan dengan sebuah sifat bernama EMPATI DAN PEDULI.

Berilah ia sebuah peliharaan. Entah itu hewan atau tumbuhan.Ajarilah ia untuk merawatnya sehingga memunculkan sebuah tanggung jawab atas peliharaannya. Ia akan tahu apa tugasnya mempunyai peliharaan dimana ia harus memberinya makan dan memenuhi segala kebutuhannya. Misalkan kucing. Akukan seekor kucing menjadi miliknya. Beritahu ia bahwa itu miliknya dan harus dirawatnya
agar bisa tumbuh besar dan lucu. Ia akan bermain dengan hewan peliharaannya sebagai tanggung jawabnya. Ia akan memberinya rasa cinta dan sayang apa yang menjadi tanggung jawabnya. Karena ia telah belajar untuk peduli kepada sesam makhluk hidup bernama kucing.

Selain hewan ajarkan untuk cinta lingkungan. Ketika kita merawat bunga maka turutkan si kecil untuk membantu menyiraminya. Membantu mencabut rumputnya dan menatanya. Sehingga ia tahu bahwa tumbuhanpun perlu kasih sayang dan penjagaan. Dari situ ia akan menyirami bunga itu karena ia telah tahu bahwa air adalah kebutuhan makan bagi tanaman. Ia tahu kewajiban apa yang harus ia
kerjakan agar tanaman mendapatkan haknya.

Begitu juga dengan sampah. Ajari ia untuk membuang sampah pada tempatnya. Jelaskan bahwa membuang sembarangan akan memperbanyak kuman dalam rumah. Mengakibatkan banyak semut berdatangan dan mempercepat penyebaran penyakit. Selain itu sampah juga mengakibatkan ketidak nyamanan pemandangan mata. Bisa menimbulkan bau busuk yang bisa mengganggu lingkungan. Jika telah demikian maka akan mengganggu orang lain.

Dari sini anak akan belajar bagaimana ia tidak mengganggu privasi orang lain. Ia menjaga betul-betul sikapnya agar orang lain tetap
nyaman bersamanya. Ia berusaha menjadi sosok yang diterima oleh semua pihak dan pihak lain selalu senang bila berteman dengannya.

Care kepada teman. Ajari anak untuk saling berbagi ilmu. Ketika mereka bermain bersama mintalah ia untuk belajar bersama lebih dulu. Sehingga mereka akan saling bertukar informasi. Saling member ilmu. Saling bertanya dan membuka wawasan baru. Ini sangat penting dimana ini mengajari anak untuk bertanya, mempertanyakan apa yang menurutnya salah atau masih mengganjal dalam hatinya. Ini mengajari anak berani untuk mengungkapkan apa yang menjadi beda pendapat dan beda pemikiran baginya. Ia akan belajar untuk menerima perbedaan dan bagaimana cara menanggapinya. Inilah kajian ilmu bagi calon ilmuan itu.

Ia akan belajar menguak misteri misteri luar biasa dan cemerlang. Sehingga mengajari anak untuk tidak membebek saja. Dimana membebek adalah akan menjadikan ia mudah untuk dipecundangi orang dholim. Selain itu ia akan belajar melindungi teman yang mempunyai pendapat benar. Ia akan belajar saling tolong menolong dalam kebenaran dan mencegah kemungkaran.

Setelah itu izinkan untuk bermain bersama agar belajar untuk selalu itsar (berkorban) kepada temannya. Akan belajar bekerja sama dan saling tolong menolong. Biarlah mereka berdialog dan bercerita agar ia belajar untuk mendengrakan orang lain. Agar ia tahu apa yang menjadi keluh kesah orang lain dan ia belajar untuk member solusi bagi temannya.

Dan ajarilah juga untuk berteman kepada semua pihak baik yang dibawahnya, yang sebaya dan yang di atasnya. Sehingga ketika ia menjumpai teman yang dibawahnya ia akan belajar menyayangi seperti ia menyayangi adiknya. Jika ia bertemu dengan yang sebaya ia menyayangi dan kompak dengannya karena taraf pemikirannya dan perasaannya sama. Dan jika ia bertemu dengan yang umurnya di atasnya ia akan belajar menghormatinya sebagaimana ia menghormati
kakaknya dan kedua orang tuanya.

Jangan sering diberi teman yang lebih kecil umurnya karena ia akan bersifat kekanak-kanakan yang akibatnya akan selalu menuntut dalam
perjalanan hidupnya. Dengan sebaya atau di atasnya sepertinya lebih baik karena bisa diajak berpikir ke depan. Ada yang membimbingnya sehingga ia bisa lebih cepat untuk dewasa dan mengerti arti kehidupan. Lebih cepat tahu apa tugas yang harus ia kerjakan sehingga mendidiknya untuk tidak merepotkan orang lain. Kedewasaan
akan mendidik seseorang untuk berusaha sendiri, mandiri dan tak ingin
menggantungkan pada orang lain. Dengan begitu ia akan diajari untuk lebih bermanfaat bagi orang lain. Dalam dirinya akan muncul sebagai sosok dermawan dalam segala hal. Baik sikap, sifat bahkan materi.

Hmm…itulah mungkin secuil rasa empati dan peduli yang bisa kita tanamkan sejak kecil. Ketika kecil ia sudah tahu kewajiban apa yang ia
harus lakukan maka ketika besar ia akan bisa bersikap bijaksana, dewasa dan melindungi siapapun yang membutuhkannya. Ia akan selalu sayang kepada teman-temannya dengan sepenuh cinta tanpa pamrih dari yang dicintainya. Ia akan menebar cahaya hatinya ke semua yang mengenalnya. Ia akan berharga bagi dirinya dan bagi orang lain. Muncullah generasi itsar untuk umat dan perjuangan dakwah.Jauh dari kemanjaan dan kecengengan dan dekat dengan takwa, kesholihan dan kemandirian. Cerdas dan tertib serta komitmen dalam hal prinsip.

Anak yang mempunyai sifat peduli akan selalu berguna bagi sesamanya. Dan ikhlas untuk mewakafkan dirinya demia kebahagiaan umat yang dicintainya. Didiklah buah hati kita dengan cahaya Ilahi dan kedisiplinan diri. Agar muncul generasi-generasi tangguh yang kuat dan madiri namun ia sangat berempati dan peduli kepada lingkungan dan masalah umat. Mereka adalah manjanik-manjanik perubahan yang siap menggelontorkan revolusi keislaman dalam tubuh umat. Karena ikatan hati yang kuat antar calon mujahid berdasarkan rasa cinta mereka karena Allah dalam menegakkan Dienullah dimuka bumi ini. Mereka akan
bekerja tanpa pamrih dengan segenap cintanya. Karena mereka tahu bahwa orang tuanya mengajarkan begitu dan hanya mengharap ridlo dari Allah semata tak ada lainnya. Mereka akan tegas kepada thoghut karena kepedulian dan empati mereka telah terbina dari benih aqidah yang benar dari orang tuanya.

SELAMAT DATANG GENERASI ITSAR YANG AKAN MEMPERJUANGKAN
DIENULLAH DIMUKA BUMI DENGAN SEGALA PENGORBANANYA DEMI TERCAPAINYA KEJAYAAN YANG MEREKA BANGUN DENGAN TALI UKHUWAH YANG KUAT. SEMOGA GENERASI ANAK KITALAH YANG AKAN MENEGAKKAN  SYARIAT ISLAM ITU. DENGAN BEGITU ISLAM AKAN MEMIMPIN DUNIA DARI BENIH YANG KITA TANAM UNTUK MEREKA . TANAMKAN EMPATI DAN KEPEDULIAAN ITU SEJAK DINI AGAR MEREKA RINGAN TANGAN UNTUK MEWAKAFKAN DIRI DAN JIWANYA UNTUK MENGGAPAI CINTA ILAHI.

Takbiru ALLAHU AKBAR !!!*az

Bumi Allah, 16 Juni 2010
segores pengalaman dariku -*- Imatuzzahra Al Hurun’in -*-

angin sejuk menghampiri
pucuk-pucuk daunpun menari
untuk seorang yang sedang gundah hati…
gundahkah hatimu kini…?

burung pagi berkicau dengan riang..
ditengah padang penuh ilalang…
sebuah bayang wajah kehidupan…
penuh canda yang tak pernah lekang…
biarkan kota terus mengerang…
asal hatimu tetap berdendang…
itulah kehidupan,semoga engkau terus tersenyum untuk yang akan datang…

mentari mulai mekar di ujung timur..
itu berarti semangat mulai menjamur…
untuk merangkai kisah hidup yang makmur…
kala ayam jantan mulai berkokok panjang…
mengiringi si betina bertelur diatas petarangan…
untuk apa hati gelisah nan bimbang…

Wew…heheh…bagaimana kabarmu sobat hari ini ? Pastilah sangat luarbiasa karena engkau hari ini telah mampu menjalankan sebuah kewajiban besar bagi masa depanmu. Hmmm…apakah engkau merasa lelah dengan kewajibanmu yang telah menjadi rutinitasmu ? Belajar, yup sebuah kewajiban bagi seorang manusia hingga nanti ia mengakhiri kehidupannya di dunia.

Ketahuilah dalam setiap nafasmu, dalam setiap detak jantungmu ada kewajiban itu. Karena setiap lekang waktu pastilah engkau temui sesuatu yang baru.

Ada sebuah pertanyaan yang mungkin tergelayut dalam otakmu. Adalah pendidikan dan belajar itu sama ? Ketahuilah pendidikan itu hanya satu diantara proses belajar karena belajar itu tidak hanya diambil dari pendidikan saja.  Pendidikan itu adalah belajar secara formal dimana pendidikan akan memberikan sebuah legalitas atas kemampuanmu pada masyarakat.

Dunia pendidikan merupakan sebuah wadah yang harus dilalui oleh setiap warga Indonesia ini, karena semua instansi membutuhkan sebuah bukti dari legalitas kemampuan pendidikan kita. Lalu untuk sukses itu apakah harus berpendidikan ? Memang jawabannya tidak selalu iya, namun dengan ia mempunyai pendidikan yang tinggi maka kredibilitas ia dalam kesuksesan akan semakin mantap. So, tetaplah bersemangat dalam menjalani pendidikan yang kalian tempuh. Karena itu bekal kesuksesan kalian di masa yang akan datang. Dengan mempunyai legalitas pendidikan engkau akan mempunyai peluang besar untuk mencari hidup dan penghidupan.

Jenuh ? Itu pasti namun itulah kehidupan yang harus kita jalani. Itulah menuju proses kebahagiaan. Itulah sebuah perjuangan. Karena ketahuilah tak akan ada sebuah kebahagiaan tanpa sebuah usaha. Keikhlasan dan kesabaranmu dalam menjalani tahap demi tahap hidupmu itu adalah sebuah proses pendewasaanmu. Dimana disitu engkau akan ditempa dengan berbagai cobaan hidup.

Adakalanya engkau berselisih dengan dirimu sendiri, adakalanya engkau akan berselisih dengan orang tuamu, adakalanya engkau akan berselisih dengan saudaramu, adakalanya engkau akan berselisih dengan gurumu, adakalanya
engkau akan berselisih dengan temanmu dan adakalanya engkau akan berselisih dengan lingkunganmu bahkan dengan pemerintah alias pemimpinmu.

Itu semua memang harus engkau lewati sobat. Sekali lagi itu untuk menempa dirimu menjadi MUTIARA. Ibarat pedang maka ia harus digesek, dipanaskan dan melalui proses lain agar ia tajam. Begitu dengan MUTIARA ia harus digosok dan diproses dengan tahap lainnya agar ia selalu berkilau cahanya.

Proses-proses tadi itulah yang dinamakan belajar. Kita belajar ikhlas menerima semua ketetapan Allah pada kita, kita sabar menjalani tahapan kehidupan kita. Inilah tawakal (kepasrahan totalitas) sobat. Tanpa ini kita tidak akan bisa sukses menjalani hidup ini. O iya ada satu lagi jangan lupa untuk berdo’a karena ketahuilah do’a itu adalah sebuah amal yang bisa menggoyang “Arsy Allah. Untuk itu jangan lupa untuk berdo’a setiap waktu dan tempat. Ingatlah selalu sang Rabb semesta kita. Dekatlah dengannya agar semua keinginanmu dikabulkannya. Jadikan ia kekasihmu dalam hidup ini. Bila engkau mencintaiNya maka apapun yang engkau minta akan dikabulkannya. Percayalah itu pasti akan terjadi dalam hidupmu. Kesuksesan itu akan terwujud dengan mudahnya dan bukan isapan jempol semata. Karena pemberi hidup dan kehidupan itu hanya Allah maka cintailah dan sayangi Dia agar ia juga mencintai dan menyayangimu.
Karena semua jawaban itu ada padaNya maka engkau harus tunduk padanya agar engkau diberi kunci-kunci jawaban itu.

Hmm..sepertinya sudah sedikit panjang tulisan ini…heheh…semoga masih mau menyimak dengan senang hati dan lapang dada ya… 🙂

Tersenyumlah…itulah awal kebahagiaanmu. Ketahuilah orang yang marah itu agar menghilangkan vitamin C yang ada dalam dirinya sehingga akan membuat imunitas dirinya menurun. Untuk itu orang yang mudah marah itu akan
mudah sakit dan kelihatan tua. Karena kemarahan itu selain menghilangkan vitamin C maka ia juga mematikan sel-sel itu dengan lebih cepat sehingga akan memutus kehidupan sel itu secara lebih cepat dan mengurangi jatah hidup sel-sel
itu. Apakah tidak sayang bila itu terjadi ? Dan bukankah itu hanya kesia-siaan ? Klo iya untuk apa marah kita kerjakan ? Lebih baik tersenyum selain membuat hidup lebih panjang dan bahagia itu adalah sebuah amal teringan yang mendapat pahala lo..hehe..lalu untuk apa kita tunda untuk tersenyum. Tersenyumlah untuk semua orang  (namun hatimu jangan….ihik…itumah lagu dangdut.com hihi….)

Baiklah untuk mengawali perjumpaan kita sepertinya ini cukup sebagai pembakar semangat kita. Semoga kehidupan yang berjalan itu bisa kita lalui dengan bijaksana. Jalanilah tahapan hidupmu itu dengan keikhlasan dan kesabaran, jangan banyak mengeluh. Semua kejenuhan itu pasti berlalu karena semua orang juga melalui tahapan itu dan mereka juga mampu melewatinya dengan sukses. Bila orang lain bisa. Pastilah kita juga bisa karena Allah memberikan akal
kepada semua manusia yang bisa difungsikan secara sama.

OK ! Selamat berjuang sobat untuk kesuksesan kehidupanmu. Dalam kesakitan teruji kesabaran, dalam perjuangan teruji keikhlasan, dalam ukhuwah (persaudaraan/persahabatan) teruji ketulusan, dalam tawakal (usaha) teruji keyakinan. Hidup amat indah jika segalanya karena Allah. Semoga tetap istiqamah dalam perjuangannya….Aminn…Be YOUR BEST YOUR LIFE *az

~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~

Bumi Allah, 2 Mei 2010
Special for hari pendidikan nasional dari -*- IMATUZZAHRA AL HURUN’IN -*- note ini telah dimuat dalam buletin ELFATA Pematang Siantar

* Jika Anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki

* Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi

* Jika anak dibesarkan dengan ketakutan,ia belajar gelisah

* Jika anak dibesarkan dengan rasa iba, ia belajar menyesali diri

* Jika anak dibesarkan dengan olok-olok, ia belajar rendah diri

* Jika anak dibesarkan dengan iri hati, ia belajar kedengkian

* Jika anak dibesarkan dengan dipermalukan, ia belajar merasa bersalah

* Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri

* Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri

* Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia abelajar menghargai

* Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, ia belajar mencintai

* Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar mengenali tujuan

* Jika anak dibesarkan dengan rasa berbagi,ia belajar kedermawanan

* Jika anak dibesarkan dengan kejujuran dan keterbukaan, ia belajar kebenaran dan keadilan

* Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan

* Jika anak dibesarkan dengan persahabatan, ia menemukan cinta dalam kehidupan

* Jika anak dibesarkan dengan ketenteraman, ia belajar berdamai dengan pikiran

(Dorothy Law Notle)

Anak adalah anugerah terindah dalam hidup ini. Ia adalah amal yang akan kita tinggal didunia. Karena satu diantara amalan yang tak akan terputus di dunia ini adalah anak yang sholih dan sholihah. Namun anak sekaligus permata dalam keluarga, yaitu sebuah amanah yang harus dijaga.

Penanaman aqidah yang benar dalam diri anak akan membuahkan akhlak yang baik dalam kehidupannya. Karena buah dari keimanan yang baik adalah akhlakul karimah (Akhlak yang Mulia).

Tanamkan pemahaman Islam yang benar yang sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Jauhkan ia dari budaya hedonis barat yang telah menyerang umat muslim dunia. Bekali dia dengan syahsyiyah Islam (pemahaman ilmu keislam) yang benar agar ia bisa menakar mana yang sesuai dengan syariat dan mana yang hanya keabu-abuan atau kemungkaran. Jauhkan dia dari Ghoswul Fikri (Perang pemikiran) yang telah ditancapkan kaum kapitalis melalui tiga sarana (F3) : Fan (Hiburan), Food (Makanan), Facion (Pakaian atau cara berbusana atau tata cara bergaya)

Ajari anak dengan hiburan yang benar, kenalkan budaya Islam yang sesuai dengan syariat’nya. Kenalkan pada syair dan lagu serta music yang benar, yang dihalalkan oleh Islam, yang bisa menumbuhkan ghiroh juangnya untuk tertegaknya Islam,kenalkan pada ilmu dan teknologi yang benar agar ia bisa memakainya untuk kejayaan Islam tak sekedar untuk memenuhi nafsunya.

Ajari mencari dan memakan yang toyyib (baik) dan halal agar ia tak tercampuri barang haram dari proses mencari dan memakannya. Sehingga kesholihannya terjaga dari barang haram yang tak disangka-sangka. Karena makanan akan
membentuk tubuh manusia. Jika bahan pembentuk susunannya toyyib dan halal maka hasilnya pun akan toyyib dan halal, yaitu sebuah tubuh yang mencerminkan kesholihan dan terus bercahaya dimanapun ia berada.

Ajari anak untuk berpakaian sesuai Syari’atnya. Kenalkanlah pakaian yang bisa menutup auratnya. Bila laki-laki antara pusar dan lututnya…dan bila wanita seluruh tubuhnya kecuali telapak tangan dan mukanya. Biasakan memakai jilbab untuk anak perempuanmu…karena itu akan menjaga kehormatannya dan gampang untuk dikenali. Jilbab itu bukan kerudung namun jilbab itu adalah pakaian longgar yang menutupi seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Kerudung itu khimar yang berarti penutup kepala saja.

Didik ia menjadi pribadi idaman harapan tuhan, didik ia dengan kemandirian dan semangat pengorbanan terhadap agamanya. Agar bilamana Tuhannya menyeru untuk melaksanakan kewajibannya berjuang menegakkan Syari’atNya
ia tak enggan lagi untuk melaksanakannya. Semoga kita semua bisa menjadi orang tua yang bijaksana dan mendidik anak dengan keikhlasan dan kesabaran karena Allah semata.

Mari kita jadikan anak-anak kita seperti Abu Bakar Ashidiq yang teguh kejujuran dan keimanannya, mari kita jadikan anak kita Umar bin Khottob yang tegar dan berani kepada kafir durjana, Mari kita didik anak kita menjadi Ali bin Abi Tholib yang tangkas akan keahlian perangnya, Mari kita didik menjadi Usman bin Affan  yang rela meninggalkan harta kemewahannya demi keimanannya. Mari kita didik menjadi  Khodijah yang selalu setia dengan pengorbanannya dan keteguhan imannya. Mari kita didik menjadi Aisyah yang encer otak dan kepiawaiannya, mari kita didik menjadi Fatimah yang bisa menentramkan suaminya, mari kita didik menjadi Asiyah yang bisa menebar kesabaran atas semua
takdir hidupnya dan mari kita didik seperti Naila yang sangat setia terhadap suaminya.

Jadilah Lukman yang selalu berpesan pada anaknya…

”…..Wahai anakku ! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”

Dan kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik kepada)kedua orang tuannya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah  yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepadak Ku dan kepada Orang Tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduannya di dunia dengan baik, dan ikutilah
jalan orang yang kembali kepadaKu. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beritahu kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

“Wahai anakku ! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, Niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Maha Luas dan Maha teliti.

Wahai anakku ! Dan Laksanakanlah Sholat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara
yang penting.

Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.

Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai” (QS. Lukman : 13-19)

“Dan barang siapa berserah diri kepada Allah, sedangkan dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul (tali) yang kokoh. Hanya kepada Allahlah kesudahan segala urusan (QS. Lukman :
22)

Sedikit goresan mata pena dari seorang *-*-*Imatuzzahra*-*-* yang sedang berusaha dan sedang belajar untuk mejadi bunda penghasil generasi Robbani dalam binaan rumah tangga yang Idiologis…semoga bisa menjadi pembakar yang lainnya untuk menjadi orang tua yang selalu mendidik anak dengan kesholihan sebagai persembahan pada perjuangan menegakkan DienNya di muka bumi ini. Teruslah berkarya dan cetak generasi Rabbani untuk mencapai cita-cita perjuangan ini. Khilafah Rasyidah ‘Ala Minhajul Nubuwwah sebagai tanda janji kita pada kekasih kita Rasulullah SAW. dan Allah SWT.*az