Archive for the ‘Harakiyah’ Category

Bahaya Al Qu'ud

Bahaya yang menimpa golongan yang aktif dalam agama Allah dan menyebabkan kokohnya kebatilan ialah sikap berpangku tangan (Al Qu’ud). Agar orang yang tertimpa bahaya ini dapat membersihkan diri dari padanya dan agar orang yang telah diselamatkan Allah azza wajalla dapat menjaga diri.

Pengertian Berpangku Tangan (Al Qu’ud)
1. Pengertian menurut Bahasa

Dalam Bahasa arab AL Qu’ud mempunyai beberapa pengertian :

a. Duduk setelah berdiri. Jika mengatakan, “Qa’ada fulanun” artinya si fulan duduk setelah sebelumnya berdiri.

b. Menghentikan dan meninggalkan karena suatu hal atau terlambat melakukannya. Jika kami berkata, “Qa’adat al mar’ah ‘anil haidhi wal waladi”, artinya wanita itu berhenti dari haid dan punya anak. “Qa’ada ‘anil amri” artinya meninggalkan atau mengabaikannya.

c. Terhambat untuk melakukan sesuatu. Jika kami berkata, “Ma qa’ada ‘anil amri ?”dan “wa”aq’adaka” artinya apa yang telah menghambatmu.

d. Tidak mementingkan sesuatu. Kami berkata, “Qa’ada “anil amri”, artinya dia tidak mementingkan perkara itu.

e. Penyakit yang menimpa tubuh sehingga ia duduk (lumpuh). Dikatakan penyakit ini menyerang pangkal paha unta, lalu menyondongkannya ke tanah. Atau ia penyakit menahun yang tidak dapat disembuhkan.

Makna-makna tersebut tidak bertentangan, karena saat penyakit itu bersarang dalam tubuh, maka ia menghambat si penderita dari melakukan perjalanan. Dengan demikian penderitanya terduduk dan berhenti melakukan kegiatannya, atau paling tidak menangguhkan pelaksanaan susuatu tanpa memberikan perhatian dan kepentingan terhadapnya.

2. Pengertian menurut istilah
Berpangku tangan (Al qu’ud) menurut istilah para da’I yang aktif dalam agama Allah ialah “penyakit yang menimpa seseorang”. Bila penyakit ini merasuki dalam tubuhnya, maka ia akan terhambat perjalanannya menuju tujuan. Sehingga secara tiba-tiba, ia terduduk dan menghentikan langkahnya atau minimal terlambat dari rombongan tanpa menunjukkan kepedulian atau kepentingan terhadapnya.
Ibnu Athiyah menafsirkan ayat, “Dan dikatakan, ‘Berpangku tanganlah kalian bersama orang yang berpangku tangan’, yang dimaksud Al qu’ud adalah terlambat atau mengakhirkan diri, seperti yang ditulis penyair :

“Terlambat karena engkau pemberi makan dan pakaian”.

Sementara Al ‘Alamah Al Alusi mengatakan rahimahumullah menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut, “Ayat ini menggambarkan perkara yang membuat makhluk Allah ta’ala berpangku tangan. Allah memasukkan kebencian hati mereka untukberangkat ke medan perang melalui perintah berpangku tangan. Atau ayat itu menerangkan bisikan syaithon supaya mereka berpangku tangan. Ayat ini bukanlah ayat yang memerintah sebenarnya. Ayat ini senada dengan firman Allah, “Allah berfirman kepada mereka, Matilah!’ Kemudian Dia menghidupkan mereka.

Ayat itupun menceritakan ucapan sebagaian dari mereka kepada sebagian yang lain, atau meminta izin kepada Rasulullah melalui mereka untuk tidak ikut berperang. Yang dimaksud “Al Qa’idin” ialah orang-orang yang berpangku tangan dan mematung di dalam rumah, seperti halnya kaum wanita, anak-anak, dan orang yang sakit menahun. Atau orang yang berpenyakit dan penyakitnya menghambat mereka untuk bepergian. Ayat itu –dengan kemungkinan beberapa makna tersebut—mengandung celaan jika direnungkan.

Maka jelaslah bahawa beberapa kemungkinan yang memastikan celaan menurut pandangan Al ‘Alusi ialah kemungkinan yang diungkapkan dengan, “Mungkin yang dimaksud ayat ini ialah menceritakan ucapan sebagian dari mereka kepada sebagian yang lain”.

B. Wujud berpangku tangan dan kedudukannya dalam Islam

1. meninggalkan manhaj Alloh secara total, dan berhukum kepada manhaj manusia. Walaupun wujud itu sedikit, namun terlihat dalam dunia nyata.

2. Tidak berdakwah di jalan Allah padahal ia mempunyai kemampuan diri, keluarga, dan anak.

3. mencurahkan diri untuk menyakiti orang-orang yang aktif berdakwah di jalan Allah. Kadang-Kadang hal ini dilakukan dengan merendahkan, menghina dan mencela program mereka. Serta mendukung orang yang mencela dan menghina mereka, baik secara sembunyi-sembunyi, maupun secara terang-terangan, mencaci mereka bahkan menyakiti secara terang-terangan.

4. berupaya mencabik-cabik barisan orang-orang yang aktif dengan menyusun sebuah program yang sesuai dengan manhaj Allah. Namun isi dan esensinya bertolak belakang. Kemudian mengajak khalayak terutama kaum muda, untuk bernaung dibawah bendera yang direkayasa untuk oleh mereka. Hal itu dilakukan dengan cara melibatkan diri mereka, kemudia mereka keluar, lalu menyatakan kepada khalayak, tidaklah mereka keluar dari program tersebut melainkan karena keburukannya.

5. cenderung kepada orang-orang zalim dengan suatu bentuk kemudian membela kaum zalim itu dengan segala macam cara dan sarana.

6. mencari tahu beberapa kesalahan orang-orang yang aktif di jalan Allah dengan mengatakan, “Semua manusia suka melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang salah ialah yang bertaubat”. Kemudian kesalahan yang telah diketahuinya itu disebarkan dan dipublikasikan kepada khalayak.

7. menggunakan nash agama bukan pada tempatnya, atau mengutip nash tersebut dan mengacaukannya sesuai dengan selera pribadinya. Hal ini dilakukan karena kedengkian, kebencian kepada agama Allah, dan kebencian orang-orang yang aktif dalam agama.

Iklan

PENGANGGURAN HARAKI

Posted: 16 April 2013 in Harakiyah

pengangguran haraki

Syeikh Muhammad Ghazali Rahimahullah berkata, “Dalam suasana pengangguran terlahir ribuan keburukan dan menetas berbagai bakteri kebinasaan, jika kerja merupakan message kehidupan, maka para penganggur adalah orang-orang yang mati, dan jika dunia ini merupakan efek dari tanaman kehidupan yang lebih besar, maka para penganggur adalah sekumpulan manusia yang paling pantas dikumpulkan dalam keadaan bangkrut, tidak ada panen bagi mereka selain kehancuran dan kerugian.”

Ada beragam penyakit tarbawi yang sangat berbahaya, jika ia tersebar dalam barisan dakwah, dan mendapatkan tempat dalam jiwa personelnya, maka pasti yang terjadi adalah keterpurukan, keguguran, menarik diri dan meninggalkan kancah dakwah secara diam-diam, kemudian kebangkrutan dalam arti yang luas dan menyeluruh Di antara penyakit tersebut dan utamanya adalah al-bithalah ad-da’awiyah (pengangguran da’awi) atau al-kasal al-haraki (kemalasan haraki) atau futur, al-faragh (tidak ada pekerjaan), al-qu’ud ‘anil ‘amal (berpangku tangan), at-taqa’us ‘an ada’ al-wajib (tidak menunaikan kewajiban), at-tanashshul minal qiyam bil maham ad-da’awiyah (tidak menjalankan tugas-tugas da’wah) yang sangat beragam, istimra’ halat ar-rahah (terbiasa menikmati suasana santai), at-taharrur min tahammul at-tabi’ah wal mas-uliyyah (berlepas diri dari upaya memikul beban dan tanggung jawab).

Semua tadi merupakan gejala satu penyakit yang jika menimpa para aktivis di medan dakwah dan harakah, niscaya menimpa pada posisi yang mematikan, kecuali jika segera mendapatkan kebangkitan hati, atau mengambil ibrah dari suatu mau’izhah, atau mengambil manfaat dari suatu nasihat, dan tentunya, sebelum, saat dan setelah itu ia mendapatkan rahmat, kebersamaan dan taufiq Allah SWT.

Berdasarkan pengalaman dan mu’ayasyah (interaksi) tampak bahwa ada sejumlah faktor yang memberi andil bagi terjadinya penyakit ini, utamanya adalah:

1. Menurunnya tingkat keikhlasan dan masuknya niat yang tidak baik.

2. Ada masalah pada unsur-unsur pemahaman.

3. Tidak mengetahui jati diri dakwah dan harakah.

4. Merespon berbagai godaan dunia dan mengejar kemilauannya yang palsu.

5. Melupakan ghayah, atau inhiraf dan lalai darinya.

6. Putus asa, frustasi dan memprediksi keburukan.

7. Mengambang dan target yang tidak jelas.

8. Tidak interaktif dengan proses tarbawi.

9. Menghilangnya akhlaq yang menjadi tuntutan marhalah, seperti: tsabat, sabar, tsiqah, tajarrud, tadh-hiyah dan lainnya.

10. Melemahnya rasa tanggung jawab Merasa panjang perjalanan dakwah yang mesti ditempuh.

11. Menghilangnya semangat dan padamnya bara keinginan untuk beramal.

12. Rancunya jenjang prioritas, kalaupun masih ada, dakwah ditempatkan pada posisi prioritas paling akhir.

13. Berkaratnya sisi ruhani, tarbawi dan imani serta rusaknya komitmen.

14. Buntunya selera beramal serta tidak merasakan kelezatan mengerahkan jerih payah fi sabilillah.

15. Hilangnya citarasa berlelah dan bersungguh-sungguh beramal di berbagai medan dakwah.

16. Kehilangan rasa ber-intima’ kepada dakwah dan harakah dan semakin kurusnya unsur-unsur wala’ kepadanya.

17. Tertutupnya bentuk izzah kepada manhaj dakwah dan dinginnya ghirah terhadapnya.

18. Melemahnya immunitas fikriyah, imaniyah dan tarbawiyah.

 

Semua faktor, sebab ini mendorong seseorang untuk qu’ud (berpangku tangan), menarik diri, menjauh dari lapangan amal dan membikin-bikin alas an untuknya. Karenanya, seseorang yang seperti ini akan menjadi beban berat dakwah dan harakah. Akibat berikutnya, dakwah semakin merintih karena memikul bebannya dan menyeretnya, padahal seharusnya, orang itulah yang semestinya memikul dakwah serta membawanya kepada cakrawala masa depan yang luas Jika penyakit pengangguran da’awi dan haraki menyebar, akan muncullah ribuan perilaku-perilaku rendah, baik dalam skala perseorangan maupun jama’i, sebab, “barisan yang didalamnya tersebar pengangguran, maka akan banyaknya kerusuhan” dan “rumah yang kosong, akan banyak kebisingan.”

Maka hendaklah para pembawa panji dakwah dan harakah tidak berhenti di tengah jalan. Jangan pula semangatnya mendingin dan efektivitasnya padam setiap kali berhembus angin keputusasaan. Jangan pula harakahnya lumpuh, jalannya terhenti dan arahnya berubah saat bertiup badai fitnah, sebab mereka mengetahui bahwa, “Sifat mulia terkait dengan hal-hal yang tidak disukai, dan kebahagiaan tidak dapat dicapai kecuali melalui jembatan kesulitan, karenanya, tidak mengantarkan untuk mencapainya kecuali menggunakan kapal keseriusan dan kesungguhan.”

Tidak ada kegiatan bagi pasukan infantry adalah ghaflah. Di antara penghancur tekad adalah mimpi yang terlalu jauh dan senang bersantai-santai. Angan-angan hendaklah diiringi amal, jika tidak, ia hanyalah sekedar mimpi yang terpulang kepada pemiliknya. Suatu hari Alhasan al-bashri melihat seorang pemuda yang bermain-main dengan batu kecil sambil berdoa, “Ya Allah, nikahkan aku dengan bidadari”, maka Al-Hasan berkata, “Anda adalah pelamar yang paling buruk, melamar bidadari dengan modal main-main batu kecil!” Begitu juga dengan kita, tidak mungkin kita melamar cinta kasih tamkin, taghyir dan ishlah sementara kita bermain-main dengan sesuatu yang lebih rendah dari batu kecil, sementara itu kita adalah para penganggur, bermalas-malasan, dan cukup menjadi penonton, sebab, seorang pelamar mestilah membawa mahar, dan “siapa yang meminang wanita cantik, maka ia tidak mempedulikan mahalnya mahar.”

Dan sebagaimana dinyatakan oleh imam Al-Banna rahimahullah: “Saya dapat membayangkan seorang mujahid adalah seseorang yang menyiapkan segala yang diperlukannya, membawa yang diperlukannya, niat jihad telah memenuhi seluruh jiwa dan hatinya, selalu dipikirkan, memberi perhatian besar, selalu dalam posisi siap, jika diundang memenuhi, jika dipanggil menyambut, paginya, petangnya, pembicaraannya, omongannya, kesungguhannya dan main-mainnya tidak melampaui medan yang ia telah persiapkan dirinya untuknya, dan ia tidak mengambil selain fungsi yang sesuai dengan kehidupan dan kehendaknya. Spirit berjihad fi sabilillah dapat dibaca dari garis-garis wajahnya, tampak dalam kilatan sinar matanya, dan terdengar dari celetukan lisannya sesuatu yang menggambarkan betapa besar gelora yang ada dalam hatinya, gelora yang selalu ada, menjadi duka hatinya yang terpendam. Juga terbaca dari jiwanya yang bertekad membaja, semangat tinggi dan cita-cita yang jauh. Itulah sosok mujahid, secara personal maupun bangsa. Engkau dapat melihatnya secara jelas pada suatu bangsa yang menyiapkan dirinya untuk berjihad tampak pada forum-forumnya dan klub-klubnya, tampak di pasar dan di jalan, terasa di sekolah, di rumah, terlihat pada generasi muda dan tua, lelaki dan wanita, sehingga anda membayangkan bahwa semua tempat merupakan medan, dan setiap gerakan adalah jihad. Saya dapat membayangkan hal ini karena jihad merupakan buah dari pemahaman yang melahirkan perasaan, menghilangkan ghaflah, perasaan membangkitkan perhatian dan kebangkitan, dan perhatian berdampak kepada jihad dan amal. Dan masing-masing mempunyai dampak dan penampilan Adapun mujahid yang tidur sekenyangnya, makan sepuasnya, tertawa sekerasnya dan menghabiskan waktu untuk bermain-main, maka bagaimana mungkin termasuk yang beruntung atau terhitung dalam barisan mujahidin?!”

Umat yang berpandangan bahwa perannya dalam berjihad hanyalah kosa kata yang diucapkan, atau makalah yang ditulis, lalu jika hati mereka diperiksa ternyata kosong, saat diuji perhatiannya melompong, tenggelam dalam ghaflah dan tidur yang molor, maka tempat, forum dan klub mereka tidak ditemui selain hal-hal tidak berguna, ketidakseriusan, main-main, hiburan dan menghabiskan waktu tanpa guna. Seluruh perhatian perseorangannya hanyalah kesenangan yang fana, kelezatan semu, bersantai-santai dan bersenang-senang, maka umat yang seperti ini lebih dekat kepada main-main daripada serius dan bahkan tidak mengenal keseriusan sama sekali. Jadi, pengangguran adalah jalan kebangkrutan, sementara kepeloporan, kepemimpinan dan ketokohan tidak dapat diraih kecuali dengan keseriusan dan kesungguhan dan tidak dapat dicapai kecuali dengan segudang pengorbanan.

Hal ini terbukti secara praktis sepanjang sejarah dan seorang aktivis dakwah dan harakah semestinya merupakan bagian dari mata rantai emas para nabi, rasul, sahabat, tabiin, ulama dan dai aktivis, karenanya, ia tidak akan mendapatkan kehormatan sebagai anggota dan diberi kartu keanggotaan kecuali jika ia telah membayar.

Dan Ibnu Qayyim lebih berterus terang daripada saya, sebab ia memandang seseorang yang mengklaim menjadi bagian dari mata rantai mulia ini tanpa memberi bukti sebagai bentuk kebancian tekad. Beliau berkata: “Wahai seseorang yang bertekad banci, di manakah kamu berada? Sementara jalan yang akan kamu tempuh adalah jalan di mana nabi Adam telah capek, nabi Nuh telah kehabisan suara, nabi Ibrahim telah dilemparkan ke dalam api, nabi Ismail telah digeletakkan untuk disembelih, nabi Yusuf telah dijual murah dan mendekam beberapa tahun dalam penjara, nabi Zakariya telah digergaji, nabi Yahya telah disembelih, nabi Ayyub telah menderita, nabi Daud telah melebihi kadar dalam menangis, nabi Isa telah berjalan sendirian dan nabi kita Muhammad SAW telah bergelut dengan berbagai kemiskinan dan berbagai rasa sakit, sedangkan engkau berbangga dengan hal-hal itu“. Smg bermanfaat