Archive for the ‘Diary’ Category

 

Kamis 27 Oktober 2011

Siang mulai terik,hari ini adalah halaqoh pengganti hari rutin yg biasanya harus saya hadiri.

Krn ada sebuah kegiatan maka kegiatan mengaji dalam sebuah halaqoh hrs diganti. Dan kemarinlah sebagai gantinya. Salah satu agenda kajian adalah membahas tentang firqoh-firqoh dakwah di dunia yang kemudian masuk ke indonesia. Firqoh tersebut adalah :

1. Hizbut Tahrir

2. Salafy

3. Ikhwanul Muslimin

4. Jama’ah Tabligh.

Ketika saya datang rupanya mereka sudah selesai tilawah dan langsung masuk pd agenda berikutnya. Rupanya sy sudah ditunggu untuk menyampaikan satu firqoh dahwah bersama seorang teman sy. Tema yang dijatahkan untuk sy adalah harokah Hizbut Tahrir. Karena mereka melihat suami saya seorang syabab Hizb. Ketika sy menyampaikan sedikit ttg HT ada sebuah hal yg disela oleh rekan sy yg akan menambahi materi tersebut. Di dalam referensi yg dia dptkan tanggal berdirinya berbeda dan dg apa yg saya ingat juga berbeda. Sy mengingatnya HT berdiri di th 1940-an sedangkan dibuku yang dibawa seorang rekan tahun 1952 dan hasil print out internet th 1953. Kemudian sy lihat di majalah al wa’I terbitan Hizb tahun 1953. Kemudian rekan saya tadi jg menyela tentang kasus Taqiyudhin Annabhani mendirikan Hizb. Dibuku itu tertulis bahwa Taqiyyudin Annabhani tergabung dengan ikhwanul muslimin kemudian membuat tulisan2 yang ia sebarkan ke masyarakat. Dan Hasan Al Banna terkaget-kaget melihat keadaan itu yang rupanya tulisan dikeluarkan oleh Taqiyudin dimana Taqiyudin telah membuat Partai sendiri bernama Hizbut Tahrir (Partai Pembebasan).

Waktu itu sy menyampaikan HT berdiri ketika terjadi carut marutnya umat islam waktu itu dan Ikhwanul Muslimin dalam keadaan “bubar” (dalam artian kepemimpinan disana (IM) sedang mengalami pergolakan oleh tekanan Inggris di mesir. Secara jujur awal cerita berdirinya ini sy pd dasarnya tdk begitu faham. Ketika dl di SMU sy membaca referensinya berbunyi sama dengan terbitan buku yg dibawa seorang kawan tersebut. Sedangkan sy pernah mengkonfrontir ttg urusan itu ke syabab-syabab HT bahwa Taqiyyudin tdk tertandzi (terstruktur dlm ikhwanul muslimin) melainkan Taqiyyudin merupakan teman dari Hasan Albanna dan mereka sering kunjung mengunjungi,mereka sering melakukan diskusi dll. Sy pun jd berpikir begini. Itu tulisan yg dibuku seorang teman sepertinya persis dg tulisan ttg HT yang tertulis di buku terbitan WAMY. Dan akhirnya sy langsung mengatakan “jangan menggunakan refrensi dari pergerakan-pergerakan Islam yg dikeluarkan WAMY isinya penuh fitnah. Dan sy melihat buku itu hampir sama dg terbitan WAMY isinya,begitu juga yg tertulis di buku menuju jama’atul muslimin. Tuduhan tentang dibolehkannya ciuman lawan jenis bukan mahram,dibolehkan melihat hal porno,itu semua adalah fitnah yg dibuat inggris dan itu sudah dijawab oleh HT sendiri ketika menjawab tudingan yg dilayangkan salafy dalam majalahnya dan kemudian di jawab oleh ismail yusanto di majalah al wa’I. Jd tidak usah dipermasalahkan lg”

Namun ketika sy mau sholat dhuhur persoalan itu masih dibahas di obrolan temen2. Dan ketika sy sodorkan penjelasan yg tertulis di majalah al wa’I tentang ma’rifatul Hizbut Tahrir ia lebih memilih untuk mencopy buku terbitan al I’thishom tersebut. Dan sy hanya bs mengatakan, “tolong ttg 2 hal tadi tdk usah diikutkan.” Dan seorang rekan ini menjawab, “ah biarin saja nanti kalau mereka merasa gak cocok mereka biar tanya sendiri”. Sungguh sy sangat khawatir dan akhirnya sy berkata, “pada dasarnya semua sudah th itu buku mengandung fitnah,dan itulah yg dipertanyakan temen2 HT, kenapa buku itu masih beredar dikalangan kader tarbiyah dan dijadikan referensi membaca ?” Ia hanya menjawab “ooo…”

Mungkin banyak oorang akan menilai sy membela HT dan tidak diposisi jama’ah yg sedang sy terangkum didalamnya,krn suami sy seorang syabab. Bagi sy, sy lebih memilih tabayyun (penjelasan) dari orang bersangkutan ketimbang sy harus percaya pd sebuah buku yg kadan dijadikan sebuah intimidasi,stigmasi,konfrontasi dan lain sebagainya. Sy yang bergelut dibidang kepenulisan sangat faham apa arti sebuah tulisan. Ia bagaikan 2 mata pedang. Dan masih ingatkan kita bagaimana Hitler bs mengubah dunia dan menancapkan faham idiologi yg ia anut ? Ia hanya menulis dan menyebarkan tulisan-tulisan yang bernilai ruh komunis. Lalu bagaimana dengan buku tersebut ? Sy menyimpulkan bahwa tujuan disebar dan dicetak kembali di indonesia oleh sebuah penerbit ternama itu diharapkan mempunyai sebuah legalitas yg bs dipertanggung jawabkan dan dijadikan referensi bagi banyak orang yg menggunakan rujukan buku2 keluaran penerbit tersebut. Sy juga menyimpulkan ada misi dicetak ulang tulisan yg sama bunyinya dan sama pembahasannya.

Memang tidak heran ketika fitnah itu muncul pd sebuah firqoh dimana HT merupakan satu-satunya firqoh yg mendengungkan daulah khilafah secara terang-terangan. Dimana daulah khilafah adalah ibarat kuntilanak yg menyeramkan bagi dunia barat. Dunia barat sangat takut jika kekuasaan raksasa dari islam itu tumbuh kembali. Itulah kenapa Barat terus menghembuskan fitnah yang seperti badai menerjang HT. Mereka ingin tidak atau paling tidak hanya sedikit yg menjadi pendukung atau syabab HT.mereka ingin menjauhkan firqoh-firqoh dakwah dengan HT,agar tidak bertemu dalam 1 uslub dakwah yaitu mendirikan kekuasaan raksasa bernama daulah khilafah. Mereka ingin mengadu domba antar firqoh dg fitnah-fitnah yang dihembuskan.

Dan sekali lagi umat menjadi komoditi bisnis fitnah dan komoditi pollitik adu domba barat serta menjadi komoditi antar kepentingan. Dan buku tersebut menjadi “SAMPAH” dalam ukhuwah pergerakan islam. Lalu pertanyaannya ? APAKAH BENAR DALAM PENCETAKANNYA HANYA MENJADI LAHAN BISNIS SERTA UNTUK MENYUDUTKAN FIRQOH-FIRQOH PENGUSUNG DAULAH KHILAFAH YANG NOTABENE TIDAK HANYA HT YANG GENCAR, MELAINKAN JAMA’AH ISLAMIYAH DENGAN JARGON JIHADNYA DAN IKHWANUL MUSLIMIN DENGAN KEKHASANNYA MEREBUT PARLEMEN2 DISELURUH NEGERI2 MUSLIM ?

Semoga kita menjadi individu yg bijak dalam mengambil sebuah referensi buku. Kita harus tahu betul-siapa penulis dan penerbit buku tersebut.latar belakang penulis harus sangat jelas apalagi bila itu dipakai untuk rujukan urusan syara’. Kemudian kita harus melihat itu buku di tulis dalam tekanan atau ide kreatif penulis itu sendiri. Lalu kapan ditulisnya ? Apakah masih relevan dg saat sekarang ? Maksud relevan itu begini, ketika kita berbicara sebuah masa pemerintahan yg dholim begini kemudian di asosiasikan dg pemerintahan khulafaur rasyidin atau kekhilafah usmani ya itu sangat tidak cocok. Seperti hujah untuk menaati penguasa itu dikeluarkan ketika pemerintahan diatur dg syari’at islam. Jk hujah itu untuk menaskan kita harus taat pd pemimpin2 sekarang maka hujah itu tertolak karena tidak ada pemimpin yang menggunakan syari’at islam yang mengatur politik,sosial,ekonomi,budaya,pendidikan dll dalam pemerintahannya. Disinilah perlunya kita mencari referensi buku oleh penulis2 dari ulama yg bs ditsiqohi (dipercaya) di masanya. Dan yg menjadi catatan BANYAK ULAMA KONTEMPORER YANG DIJADIKAN ALAT UNTUK MENDANGKALKAN TSAQOFIYAH (PEMAHAMAN) ISLAM DAN JUGA DIPAKAI UNTUK ALAT DERADIKALISASI DEMI MENGEKSISKAN KEKUASAAN KAFIR BESERTA KRONI2 DAN PENDUKUNGNYA

Jika tahu itu fitnah dalam sebuah tulisan maka jangan dijadikan lagi sebagai rujukan untuk membina generasi-generasi dakwah. Jangan ikut menanam benih adu domba, atau jangan ikut menebar racun ukhuwah. Karena seorang murobi/murobiyah (pembina sebuah kelompok kajian) itu menjadi pemegang keputusan atas binaannya. Jd dia yg akan mempertanggung jawabkan bagaima kondisi dan nilai binaannya. Jika murobbi/murobiyah bijak maka akan dihasilam binaan yang bijak. Namun jika murrobi/murrobiyah yg suka menghukumi dan mempercayai informasi tak jelas maka akan dihasilkan binaan yg seperti itu juga.

Semoga catatan ini bs dijadikan renungan bagi mereka yg bergerak dalam pergerakan dakwah islam. INGATLAH ! TUJUAN KITA ADALAH UNTUK MENYATUKAN UMAT,BUKAN PENDUKUNG PROYEK RAKSASA MENGKOTAK-KOTAKKAN UMAT. JADILAH BENIH PEMERSATU DAN SALING MELINDUNGI,SALING MENTABAYYUN SECARA ADIL DAN SALING MENASEHATI DALAM HAL KEBENARAN SECARA AHSAN DAN ADIL. Semoga berkah,wallahu’alam bishowab.

Tanah Perantauan, 28 Oktober 2011

*saat menunggu 1/3 malam disini.dan saatnya untuk mentaqorubkan diri dipelukan Rabbi ^_^

Siang sudah beranjak naik,sepertinya sudah mendekati dhuhur. 2 anakku sudah tertidur lelap. Begitulah yg kubiasakan untuk sang kakak Syahla. Pulang sekolah,cuci kaki,ganti baju,mengerjakan PR,makan siang dan minum susu lalu istirahat siang. Ketika aku sedang asyik membaca terdengar suara tukang ikan. Aku baru teringat kalau kemarin aku pesan tulang sumsum untuk si adik ghozy yang sedang menjalani terapi akibat dampak dari radang otak. Krn sangat terik tiba-tiba aku terhuyung dan kucari bongkahan batu sisa bahan bangunan rumah kami. Entah knp tiba-tiba aku nyeletuk, “Abang tahu obat flu berat itu apa ? Udah sy istirahat full,minum madu,habatussauda,kunyit,kencur batuk pilek sy kok blom baik2”.

“Flu itu sembuh sendiri tuh bu”, jawabnya santai.

“Iya sih bang, dulu sampai sy divonis ngidap TBC kelenjar, udah habis antibiotik segebok tak baik2, krn dah bosen minum obat,sy biarkan sj,dan sy hanya istirahat total,banyak makan buah dan sayur. Alhamdulillah hilang semua benjolan sy dileher dan sekitar telinga. Dan batuk sy jg berhenti sendiri”, ceritaku panjang lebar sambil sedikit dongkol dg dokter yg kadang aku gak percaya dg penyakit yg divoniskannya.

Abang tukang ikan itupun hanya tersenyum tipis. Setelah aku duduk, si abang bertanya, “kemarin yg datang anggota kajian ibu ya ?”

“Iya bang, rumahnya di daerah kota mrk,mpe malu sy dijenguk krn sdh 1 bln gak nongol sakit semua,” aku bercerita sekenanya. Karena tiap hari kerumah, si abang ini pun sudah akrab dg ku. Ya akupun jg begitu orgnya. Senya-senyum kalau ketemu orang…heheh…cuman kalau sdh digarai…hmm…keluar dah taring galaknya.

“Ibu orang PKS ya ?” Tiba-tiba si abang nyeletuk.

Aku pun hanya tersenyum tipis. Ah langsung terlabel begitu.

“Saya memang tercatat di sana bang,cuman kalau sy ngisi kajian sy tdk pernah ngajak orang ke PKS,” aku pun jg nyeletuk tak mau kalah seru.

“Iya lah bu, partai kan hanya alat,” si abang menjawab dg ringan.

Dalam hati sy membatin, “Sepertinya ia orang yang faham.” Akupun langsung memberondong pertanyaan, “Lah abang aktif di JT ya?”

Aku main tebak saja karena banyak pedagang disini yg ikut kajian Jama’ah Tabligh.

“Nggak bu, sy sebenere juga sering diundang ngisi wirid (semacam yasinan),ngisi ceramahnya,kalau pas lebaran ‘Id sy kadang juga disuruh ceramah”,dia bercerita sambil menarik dorongan tempat jualan ikannya.

“Hmm…” hanya itu yg bs kuucapkan. Seperti hal yang tak pernah kuduga, laki-laki pendek berbaju lusuh yg tak pernah ganti bajunya ktk jualan,sambil mendorong beko tempatnya jualan ikan,berkulit hitam dengan rambut kriting kumal keturunan bermarga batak itu sangat mengejutkan.

“Abang dulu dari pesantren ?” Aku masih penasaran.

“Nggak bu, sy dulu sempat di UISU (Universitas Islam Sumatera Utara). Cuman gak lulus,” dia bercerita nyantai. Aku langsung terdongak.

“Kok bs begitu bang ?” Mulutku terus mencecar pertanyaan.

“Ya gimana bu, waktu itu mau KKN. Trus berbenturan dengan pekerjaan. Waktu itu sy disuruh milih, milih kuliah apa milih kerja ama bos sy. Akhirnya kalau milih kuliah apa yg sy pakai untuk biaya. Ya…sy tinggalkan sj demi mencari penghasilan untuk hidup.

Aku hanya bs manggut-manggut dan merasa sedih. Begitu banyak orang cerdas dari kalangan tak mampu namun tak bs mengenyam indahnya perguruan tinggi hingga sarjana, apalagi untuk S2 atau S3.

“Ah sayang kali ya bang…udah mau kelarpun,” mau gak mau aku berkomentar sedih.

“Ya gimana lg bu,” jawabnya pasrah.

“Cuman gelar juga tak menjamin hidup seseorang bang,” aku berusaha menghibur.

“Betul-itu bu,cuman gelar sekarang dipakai senjata untuk dapat pekerjaan lebih layak,” jawabnya tabah.

“Iya,” hanya itu yg bs kumenimpali.

Mentari semakin terik, entah kenapa si abang enggan untuk pergi. Sedangkan aku masih penasaran dengan sosoknya yg rupanya juga seorang da’I. Aku pun terus nyerocos melempar banyak pertanyaan,berusaha untuk mengajak diskusi tentang problem yang sangat mendasar di umat Islam.

“Memanglah benar bu,masyarakat ini Islam tapi tidak tahu tentang keislamannya,”tiba-tiba ia sudah bersuara sebelum ditanya.

“Wah memang betul-bang…” Jawabku.

“Seperti yg ibu bilang tadi,untuk sholat aja masih berantakan.” Dia masih terus bercerita menanggapi ceritaku tentang ibu-ibu yang kubina ngaji sholatnya masih berantakan. Kalau jama’ah masih lowong2 dan tak mau mepet, padahal kalau lowong ditempati syaithon.

“Cobalah kita lihat habluminallahnya aja kayak githu,knp bahas yg hablu minannas. Pasti juga berantakan,” dia masih melanjutkan.

“Begini bang…pokok permasalahannya itu adalah banyak ulama yg tidak mau menyampaikan urusan syari’at 1, yaitu urusan Syahadatain. Padahal disitulah pangkal permasalahan dan tonggak solusi problem umat ini. Cobalah abang lihat, abang pernah mendengar ustadz membahas tentang syahadatain ? Mereka menyembunyikannya bang,takut dituduh teroris,takut dituduh melawan negara,” aku berusaha mendudukkan masalah. Si abang tukang ikan pun menggeleng dan manggut-manggut.

“Nah itu dia bu, ustadz itu takut. Termasuk sy jg bingung gimana menyampaikannya. Padahal memang islam demikian. Cemana kalau tidak kita sampaikan, pastilah kita yg akan diseret duluan ke neraka,”timpalnya antusias.

“Nah itulah, abang sudah ngerti. Mau tak mau kalau kita sudah Islam, kan arti Islam itu tunduk kan bang, berarti tunduk pd apa yg diperintah yg dinamkan syari’at Allah dan apa yg dilarang Allah kan bang…dan berarti sistem yang harus kita pakai adalah sistem Allah bukan sistem undang2 manusia. Dan jihad itu bukan terorisme kan bang…itu kan perintah Allah yg banyak disebut dalam al qur’an kan ?” Aku memberondong banyak hal untuk ku doktrinkan. Kupikir, walau dia seorang tukang ikan, namun ia mempunyai cara berpikir luas dan pemahaman yang perlu diluruskan sesuai al qur’an dan assunnah.

“Iya memang begitu ya bu,” ia menimpali dg manggut-manggut.

“Banyak diantara kaum muslimin yg tidak tahu konsekuensi dari syahadahnya, tidak tahu pentingnya syahadahnya, banyak yang tidak tahu apa yg membatalkan syahadahnya. Musyrik itukan membatalkan syahadah dan musyrik itu kan tidak hanya pergi ke dukun sj kan bang…ketika kita sudah tidak berhukum sesuai dg al qur’an dan assunnah berarti itu kan sudah musyrik kan bang…berarti itu kan sudah menduakan Allah dg manusia.” Aku masih sangat semangat mendoktrin si abang yg serius mendengarkan. Walau kepalaku cemot2 kepanasan dan menahan ingus yg gak mau keluar sendiri jk tak dikeluarkan,rasa pening dan berat kepalaku seakan hilang begitu sj.

“Wah betul-itu bu,” si abang manggut-manggut setuju.

“Jadi abang kalau ngisi kajian,katakan apa yg dikatakan al qur’an dan sunnah. Biar sj mereka menuduh,biar sj mereka menjauh, katakan ini kata qur’an kalau mau ikut ayo, kalau ndak ya tidak apa2. Kita kan hanya menyeru,” tegasku.

“Iya..ya bu,” dia terlihat semangat.

“Abang masih ingat perang badar kan ? 100 orang islam mengalahkan 1000 orang kafir. Kita tak butuh banyak pengkut kok bang,tapi kita butuh orang2 yang beriman dg segenap keikhlasannya. Karena hanya dg keikhlasan syaithon tak bs mengalahkan manusia,” sambungku.

“Iyalah bu, banyak kalau jadi buih untuk apa,” ia pun menimpali dan aku hanya tersenyum tipis.

Dan tak terasa kepalaku benar2 sangat berat. Dan sepertinya si abang tukang ikan tahu aku sedang menahan sakit. Diapun berpamitan pergi sambil mendorong bekonya.

“Ah pakaiannya sangat lusuh,jelek orangnya cuman gak tahunya ia orang yg agak faham dan seorang da’I. Pantas saja suami sering bilang abang itu sering sholat jum’at di masjid komplek sambil bawa bekonya. Tidak malu dan nyantai saja. Terkadang penampilan menipu,”hatiku nyerocos sendiri sambil memasuki rumah. Gelap. Rupanya panas di luar membuatku tak bs melihat ketika masuk ruangan. Dan pelan-pelan pendar isi ruangan mulai terlihat.siang yg menakjubkan. *az ^_^

Tanah Perantauan, 30 September 2011

**********************

Ya penampilan kadang menipu, untuk itu jangan pernah menilai,menghukumi seseorang sebelum benar-benar tahu watak dan tabi’atnya serta pemahamannya. Krn terkadang kita akan dibuat tercengang-cengang oleh sosok yang mungkin kita anggap remeh namun tidak tahunya lebih “BERISI” dari kita. Jalinlah ukhuwah dg siapa saja,berkomunikasilah dg siapa sj,dapatkan ilmu dari siapa saja. Krn setiap orang yang didatangkan oleh allah untuk menemui kita itu pasti membawa pelajaran berharga yang tidak disangka-sangka. Untuk itu jangan sampai menyepelekannya.

***********************

Awan bergelayut disini,ketika kutulis note ini. Angin kencang menderu bagai badai yang memburu. Atap rumah seakan terbang diterpa angin yang sangat kencang.

dengan pelan kutorehkan sebuah dentang kehidupan, yang terus bertalu, berirama penuh syahdu. Nasyid Unic itu mengiringi…dan ketika telah selesai berdendang menyayi…hanya titik air mata yang membasahi pipi….

PERTEMUAN

Ketika dirimu menjadi sinar
Setitis cahaya menyinari haluan
Adakalanya langkah tersasar
Tersungkur dilembah kegelapan

Bagaikan mendengar bisikan rindu
Mengandung kalimat,menyapa keinsafan
Kehadiranmu,menyentuh qolbu
Menyalakan obor pengharapan

Ketika ku kealpaan,kau bisikkan
Bicara keinsafan,kau beri kekuatan
Ketika aku diuji dengan dukaan
Saat kukehilangan keyakinan
Kau nyalakan harapan
Saat ku meragukan keagungan Tuhan
Betapa rahmatNya mengatasi segala

Menitis air mataku keharuan
Kepada sebuah pertemuan
Kehadiranmu,mendamaikan
Hati yang dahulu keresahan
Cinta yang semakin kesamaan
Kau kilang cahaya kebahagiaan
Tulus keikhlasan,menjadi ikatan
Dengan restu kasih, Oh Tuhan…

Titis air mata
Penyubur cinta, kan rindu berbunga
Agar tak pernah layu
Damainya hati, yang dulu resah keliru

Cintaku takkan pernah pudar, diuji dukaan
Mengharum dalam harapan
Moga kan kesampean, kepada Tuhan
Lantaran diriku,hamba kerdil dan hina (UNIC)

Ya….. pertemuan dengan seseorang yang bisa membawa kita menjadi lebih baik itu bagaikan menemukan mutiara dalam lautan. seseorang itu bisa memompa ruhiyah kita, bisa memperbaiki sikap dan emosi kita, bisa menyalakan obor semangat dalam diri kita hingga kita mencapai puncak ghiroh dan akhirnya bisa tegak dalam menjalani hidup ini.

Namun ketika akhirnya harus melepasnya….apakah kita sanggup menahan getir perpisahan itu….? Aku sangat tahu semua pasti ada akhirnya….Aku sangat tahu semua hanya titipan Allah semata kepada kita…dan tugas kita merawat dan memelihara dengan baik apa yang telah dititipkannya kepda kita…namun ketika semua itu tumbuh subur dengan baiknya….berbunga dengan mekarnya…dan tak disangka akhirnya diputuskan untuk pergi begitu saja…sanggupkah kita menanggungnya….

Padahal ia sangat menopang hidupmu…ketika engkau jatuh tersungkur, ia menegakkanmu perlahan dan akhirnya engkau bisa melihat kehidupan dengan jernih kembali bahwa semua yang engkau hadapi adalah ujian….kemudian ia menumbuhkan semangat dalam dirimu…walau tak banyak yang ia sampaikan namun ketika kepedulian dan perhatian, serta kasih sayang bahkan cinta tulusnya diberikan untukmu dan kemudian engkau bisa tegar menjalani apa yang menjadi takdirmu…apakah engkau snaggup menerimannya….?

Rupanya satu paragraf itu lebih baik ditujukan padaku….bukan kepada kalian karena aku yang merasakannya sekarang. ketika aku tersungkur dan tak mampu lagi bangkit Allah mengirimkan seorang sahabat untukku….walau terkadang hanya membisu namun perhatian,kasih sayang,empati,bahkan cinta tulus itu ia berikan padaku…satu demi satu kekalutan terurai, satu demi satu asa itu melaju dengan penuh perkasa hingga akhirnya asa itu berbuah dengan manisnya.

Kehidupan tertata rapi kembali. Misi dan visi terjalani begitu rapi. semua sungguh membahagiakan hati. kehadirannya sangat menentramkan hati.

Namun sebuah simpul menjadi ujian kami dan itu sangat sulit untuk diurai…hari demi hari terjalani dengan penuh pahit dan nyeri dihati…hingga terbacalah olehku sebuah pesan pendek di HP ku ini….

“aku tak bermaksud memutus silaturahim.mungkin ini keputusan pahit.smg engkau senang,bahagia,sehat, lbh fokus dalam berdakwah u keluarga maupun teman2. maafkan salahku,begitu pula salahmu telah kumaafkan sblm engkau pinta.biarlah kisah itu membekas dlm hidupku.tolong jika engkau mencintainya dg tulus,jgnlah menggangguku lg. smg do’a2 yg baik kmrn dikabulkan Alloh.Maafkan aku..”

Sungguh bagai belati menusuk dalam hati….aku tak tahu apa yg sebenarnya terjadi..namun  ketika aku berhasil sedikit mengurai simpul itu dan akhirnya bisa memancarkan sedikit cahaya…kenapa malah terjadi sebuah keputusan seperti itu….sungguh luar biasa tersayatnya hati ini….bergetar tangan ini tak sanggup untuk memegang benda yang tertulis sebuah kata….dada itu langsung sesak tak terkira….air matapun bercucuran entah kemana….

Oh Allah….selalu Engkau mengambil titipan itu pada waktu aku merasakan kedamaiannya…dan kenapa ketika rezqimu yang satu ini Engkau juga mengambil pada waktu aku sedang merasakan kedamaian yang sedang mekar2nya..? sungguh terkadang aku tak mengerti tentang hidup ini. beginilah selalu kisah hidupku…..begitu pilu dan menusuk qalbu…dan ini sudah kesekian dlm hidupku….memang di dunia tak ada yang abadi….

Aku tahu hanya Allah sandaran hidup, aku sangat faham hanya Allah tempat mengadu, aku sangat mengerti Allah muara segala cerita kehidupan…namun aku  juga manusia biasa yang butuh teman untuk bercerita,butuh teman untuk menguatkan. jika ada sebuah ungkapan mengatakan “Seseorang yang hanya mengharap perhatian,cinta dan kasih sayang adalah ibarat hamparan lautan.sedangkan seseorang yang hanya ingin mencurahkan perhatiannya adalah ibarat arus sungai yang tak henti mengalirkan sumber mata air menuju samudera” dan mungkin aku adalah lautan itu walau aku juga sering menjadi arus sungai di kala waktu.

Dan seorang sahabat mengirim pesan pendek untukku “jika ia boleh mengetahui masa pasangmu, maka izinkan ia mengetahui masa surutmu”….dan  mungkin inilah masa surutku itu wahai sahabatku…..sungguh sesuatu yang belum bisa kuterima karena aku belum siap untuk dilepasnya….ujian itu masih meroket dengan segala dentumannya…namun akhirnya ia pergi begitu saja….padahal aku sangat mengharapkan kehadirannya….

Ia ibarat satu diantara tiang pokok yang menyangga rumah, bisa bayangkan jika satu tiang pokok itu tak ada apa yang terjadi pada rumah itu…? Namun…ku berusaha berbaik sangka pada Allah yang Maha Mencinta…ia menguji cintaku padanya….menguji keikhlasanku untuk menerima keputusannya….menguji kesabaranku untuk menjalani takdir ini semua…karena dikala halilintar itu menyambar Allah megirimkan hujan begitu derasnya….Allah memberikan kabar bahwa aku menang dalam menulis karya tulis di Jeany Dive dan Sahabat, aku menjadi juara 1-nya….sungguh sesuatu yang terkadang sulit untuk dicerna…..

Sungguh….Fabiayyi ‘aala irabbikuma tukadzibaann… “nikmat mana lagi yang engkau sekutukan ?” dan sungguh….Fainna mangal ‘usri yusroo, inna mangal ‘usri yusroo “sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan,sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”….begitulah yang sedang kujalani. setiap kesulitan pasti ada kemudahan…dan ini yang selalu tergaung dalam hati. sehingga masih bisa tegar hingga saat ini. Sekali lagi aku  hanya manusia biasa…semua perlu proses untuk mengikhlaskan apa yang telah ditetapkanNya.

Dan apa yang menurut kita baik belum tentu baik bagi Allah dan apa yang menurut kita buruk belum tentu buruk bagi Allah. Mungkin inilah ketetapan itu….dan aku akan berusaha mencari dimana sebenarnya letak keburukannya dan letak kebaikannya semoga aku segera menemukannya sehingga aku bisa ikhlas melepasnya.

Sungguh sebuah lara jika bertemu tak ada sapa tak ada kata…hanya rasa yang berbicara….sampai kapan hal ini nampak di depan mata…padahal jiwa terus bercerita, hati kecil berpetuah penuh bijaksana,”sudahlah..bila jodoh tak akan kemana, bila cinta tak akan menghianatinya,bersabarlah…keikhlasan itu tak usah diulang-ulang lagi karena ikhlas itu hanya sekali bila diulang itu sudah jadi penyakit hati”…dan akhirnya hanya terdiam…

Persahabatan adalah kepompong merubah ulat menjadi kupu-kupu….maka bila tak terjadi itu, persahabatan itu hanya semu….dan ketahuilah apa yang telah kusampaikan kepadamu itu akan kuukir hingga akhir hayatku…aku tak akan melupakannya bahkan aku akan menyiraminya….karena ketika itu semua karena Allah semata aku berharap akan dikumpulkannya kembali di akherat sana…semoga itu dikabulkan olehNya.

Dan kusampaikan kepada yang telah pergi..aku tak akan menghapus fhoto maupun namamu di daftar list my best friendku, aku tak akan menghapus semua tulisanmu, dan aku tak akan menghapus kontakmu. Semoga Allah masih meberikan kesempatan untuk bertemu sehingga aku akan menceritakannya kembali untukmu. Karena ketahuilah seorang sahabat adalah ia yang mengetahui nyanyian hatimu dan akan menyanyikannya kembali untukmu. semoga kita adalah seorang sahabat itu. walau belum bertentang mata semoga petuah itu bisa menjadi pengikat jiwa…semoga engkau baik-baik saja dan semoga engkau bahagia dengan mendapatkan apa yang engkau dambakan di dunia hingga akherat sana. Amiinnn….

Kepada to All my best friend : walau engkau tak hadir dihadapanku namun kabar dan kehadiranmu di dunia maya ini sangat berarti bagiku karena ketahuilah engkau sangat berharga bagiku….semoga Allah selalu menyampaikan getar rindu dan cinta dariku untuk kalian sehingga itu bisa pengikat tali ukhuwah kita. teruslah menjalin cinta diantara manusia dengan porsinya masing-masing karena itu penyubur ghiroh untuk terus memperjuangkan Dien Allah SWT di dunia…semoga Allah meridhoi semua ini…dan mengabulkan do’a2 yang telah kita lantunkan selama ini.

“Ya Allah , engkau telah mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta kepada-Mu, telah berjumpa dalam taat pada-Mu, telah bersatu dalam dakwah kepada-Mu, telah terpadu dalam membela syari’at-Mu, kokohkanlah Ya Allah ikatannya. Kekalkanlah cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah hati ini dengan nur-nur cahaya-Mu yang tiada pernah pudar. Lapangkanlah dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu. Nyalakan hati kami dengan bermakrifat kepada-Mu. Matikanlah ia dalam syahid di jalan-Mu. Sesungguhnya engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Ya Allah..Amin…Sampaikanlah kesejahteraan ya Allah pada junjungan kami Muhammad, keluarga dan sahabat-sahabatnya dan limpahkanlah kepada mereka keselamatan. Amiinn ya rabbal ‘Alamin….

dan untuk yang telah meninggalkan…kemarin setelah engkau memutuskan keputusan itu tak sengaja ku mendengar sebuah group musik melantunkan lagu ini…sungguh aku terharu..kenapa lagu itu benar2 kurasakan saat itu…

Tetaplah Bertahan -suara merdu dari WALI-

Tak pernah ku sangka Tak pernah ku duga
Kita kan berjumpa Dan telah bersama
Disiang malam aku Memikirkan kamu
Siang malam kamu Terfikirkan aku

Kita menyatu…
Jangan marah bila ku tak datang bila
Ku tak pulang bukan ku tak sayang
Kumohon kau jangan marah karena
Akan datang waktu ku tak pulang waktu
Ku tak datang.

Kini tiba saatnya kupergi
Kumohon jangan tangisi walau perih
Suatu saat nanti untukmu disini
Ku akan kembali…

Cobalah tetap bertahan Untukku
Dan coba terus bertahan menantiku
Sampai hari nanti sampai ku kembali

…..Ya aku akan bertahan…hingga engkau kembali….. semoga aku tetap bisa tegar menjalani takdirku….semoga ketika engkau menemukanku kembali aku telah menjadi kupu-kupu itu…bila tak di dunia semoga engkau menemukanku di syurgaNya kelak…semoga aku satu diantara bidadari yang bermata jeli itu…”hurun’in”…semoga nama itu membawaku menuju syurga itu…Aminn…baik-baik disana semoga Allah selalu melimpahkan hidayah itu untukmu…dan semoga engkau dijaganya…walau harus menitikkan air mata melepasmu namun ini sudah ketentuannya…mau tidak mau harus menerima dengan lapang dada….kutitipkan rindu pada bayu semoga ia menyampaikannya padamu…jadilah yang terbaik dalam setiap langkah hidupmu….orang baik itu tidak selalu mendapatkan yang terbaik namun ia selalu menjadi yang terbaik apa yang hadir dalam hidupnya…terimakasih telah menjadi penopang hidupku, terikasih telah mengorbankan apa yang ada padamu untukku…terimakasih semuanya…Semoga Allah membalasnya melebihi apa yang engkau minta…….Aminnn…

sekali lagi memang benar…Pertemuan itu akan ada akhirnya karena tak ada yang abadi di dunia….dan itu butuh keimanan yang kuat untuk menrima sebuah ketentuan Allah yang terkadang kita tak siap menerimanya….*-catatan menyapa senja -*-*- imatuzzara-*-*-

I Love You Mom

Posted: 21 Desember 2009 in Diary

Ibu…………

Ibuku oh ibu
Betapa ikhlas kau menyayangiku
Jiwamu tulus memeliharaku
Tiada mengharap balasanku

Ya Allah Tuhanku
Bukakanlah pintu ampunanmu
Curahilah dia dengan rahmatmu
Yang merawatku sejak kecilku

Oh ibu kini kujauh darimu
Ingin kuluruh kepangkuanmu
Rengkuhlah aku dengan do’a malammu
Semoga yang membimbing langkahku

Oh ibu kini air mataku berderai rindu belai kasih sayangmu
Dengan ketulusan hati yang dalam
Maafkanlah anakmu ini…..

Tanggak 22 Desember orang menyebutnya hari ibu. Dan malam ini telah menginjakkan waktu di tanggal ini. Malam kian larut…dingin sangat menyengat kulit. Setes air mata mengalir. Sudah 5 tahun seorang ibu meninggalkanku untuk selamanya. Dan satu hal yang dipesankannya, cepatlah menikah agar engkau ada yang mengurus dan melindungi ketika ibu tiada, dan berbuat baiklah pada kakak-kakakmu.

Hmm………sungguh mengena pesan itu. Sebuah pesan yang sangat asing bagiku. Waktu itu mungkin aku orang yang paling cuek sedunia mengenai sosok laki-laki di hatiku. Namun pesan ibu sungguh aneh, sinyal darimana aku bias cepat menikah. Kenal laki-laki saja bisa dihitung jari. Bahkan sangat malas aku bergaul dengan mereka. Mungkin karena aku sudah didoktrin tentang bagaimana pergaulan laki-laki dan perempuan dalam Islam sehingga aku sangat menjauh dengan makhluk namanya laki-laki agar aku tak tertular virus hati.

Entah kenapa selepas ibu berpesan begitu kehidupanku jadi lain. Tiba-tiba aku sering dikhitbah oleh orang. Aku benar-benar tidak nyaman. Kelimpungan alang kepalang. Apa yang harus kujawab. Langsung menolakkah…rasanya tidak etis, namun bila digantungkan ntar dipikir aku mempermainkan orang. Jika dijawab iya….wah gubrakk, tahu apa aku tentang rumah tangga dan pernikahan. Walau orang sering menyebutku dewasa namun aku merasa masih seperti anak ingusan kemaren sore yang baru mengenal dunia.

Waktu terus berjalan. Ibuku selalu menanyakan sudah atau belum aku menemukan calonku. Dan aku hanya menjawab lemas, “belum”. Kemudian dilanjutnya dengan protesnya, “Yang kemarin sering telepon itu apa bukan pacarmu?”. Gubrak..! pacar ? bukannya dalam Islam tidak ada istilah pacar. Wah ibuku ini memang tidak bisa membedakan. Setiap laki-laki yang berhubungan denganku dikira calonku. Padahal mereka adalah partner dakwah di sekolah atau dikampus. Aku terus memutar otak, siapa yang bisa kuajak diskusi. Akhirnya aku pergi kesebuah warnet. Disebuah webchat aku berdiskusi hebat dengan orang-orang yang sama sekali tak kukenal. Hingga akhirnya ada seorang laki-laki yang berkirim pesan lewat email.
Entah sudah ditakdirkan mungkin aku begitu welcome menerima laki-laki itu. Padahal sekalipun aku belum pernah jumpa. Tiba-tiba aku ditanya, “Yang anti maksud ta’aruf disini apa ta’aruf biasa atau ta’aruf khusus”. Gubrak…emang dalam Islam ada defenisi ta’aruf yang seperti itu. Dalam keadaan puyeng akhirnya aku menyerahkan semua definisi yang ia kehendaki. Dan diakhir pembicaraan dalam chatting dibilang, “Ini ta’aruf khusus (dalam artian perkenalan untuk pernikahan). Orang gila pikirku. Tahu, kenal kagak main tembak saja.

Tak lama dia bilang mau kerumah mengkhitbahku. Jurus nekat ke berapalah ini… mending klo tetangga tahu setiap harinya. Nih baru kenal pula dengan tempat tinggalnya yang jauuuuuuuuhhhhhhh nun disana di ujung pulau barat Jawa alias Jakarta. Hmm…jempolan juga nih laki-laki… berani juga dia… hiks…hiks… akhirnya mau tak mau kukabarkan pada orang tuaku. Betapa senangnya hati ibuku. Padahal sekalipun ibu belum melihat tampangnya,namun ia sangat yakin bahwa ia adalah jodoh yang dikirimkan Allah padaku. Ketika dia sampai dirumah ibukupun langsung jatuh cinta dan aku hanya melongo tak mengerti apa yang akan kukatakan padanya. Bagaimana bisa aku hidup dengan orang yang sama sekali aku tak mengenalinya. Sepertinya berbaris-baris kalimat dalam diskusi itu tak bisa deh jadi cerminan tentang laki-laki ini.

Beberapa bulan setelah kedatangan laki-laki ini ibu selalu mendesak ingin segera menikahkanku. Padahal belum ada secara resmi orang tua laki-laki ini untuk datang ke orang tuaku. Pikiranku tambah ancur tidak tahu apa yang harus kuperbuat. Sudah kusampaikan pada keluarga laki-laki ini agar cepat datang kerumah. Dan aku sangat menghormati keputusannya karena masih menyiapkan segalanya. Hingga akhirnya ibu tiba-tiba sakit struk.

Waktu itu aku sangat takut bila permasalahan nikahku itu menjadi sebab dari struknya ibu. Namun akhirnya kutahu bahwa bukan itu penyebabnya. Ketika ibu mulai membaik dia mulai cerita semuanya bahwa memang ada masalah keluarga dan sebelum sakit ibu sempet kena omongan pedas dari salah satu anaknya. Satu bulan kemudian ibu mulai membaik, namun memperlihatkan tanda yang aneh. Sifatnya berubah total menjadi sangat baik. Yang awalnya gampang sakit hati menjadi sangat mudah memaafkan, awalnya sedikit “pelit” menjadi sedekah terus. Silaturahim yang pernah putus disambungnya. Yang awalnya jarang jamaah ke musholla akhirnya rajin di hampir lima waktunya.

Memang aneh namun aku merasa senang, mungkin ibu sudah intropeksi diri dan bertaubat. Hanya itu yang terpikir dalam otakku. Hingga akhirnya aku pulang dari kuliah untuk membantu acara buka bersama. Sungguh aneh, ibuku tak seperti ibu yang kukenal. Pandanganya kosong,seprti tak ada nyawa yang mengendalikannya. Tingkah lakunya aneh. Tiba-tiba memelukku erat dan tak mau melepaskannya. Aku tidur selalu dielus-elusnya dan ditungguinya. Hingga esoknya aku kembali kuliah dan diantarkannya dari depan rumah, ia meneteskan air mata….sebenarnya aku sangat sedih namun bagaimana. Aku hanya berpesan insyallah aku cepat pulang, deket lebaran bu. Begitu juga saudara yang lain. Ibu merasa berat ditinggal anak-anaknya. Dia hanya bilang, “Jangan lama-lama pulang, nanti tidak ketemu ibu”. Kami hanya diam. Mengganggapnya wajar seorang ibu ingin terus ditemani anaknya.

Kemudian apa yang terjadi, benarlah yang dibilang ibu, dua hari kemudian ibu meninggal dengan keadaan rumah yang sepi. Hanya bapak dan kakak iparku. Ibu hanya bilang perutnya sakit dan kemudian oleh bapak disuruh istirahat. Dan bapak mandi karena akan pergi sholat jum’at. Innalillahi Wainna ilaihi rajiunn. Ketika nafas mulai pelan bapakpun hanya bisa menuntun dengan kalimah toyyibah. Dan ibupun menghembuskan nafas terakhir dengan mudahnya. Subhanallah, dihari jum’at yang cerah. Tak panas dan tak hujan namun cerah dan pas di bulan Ramadhon sepuluh hari terakhir. Semoga itu pas hari yang malamnya turun lailatul qadr. Semoga Khusnul Khotimah. Amiiiiiinnn.
Aku hanya bias menitikkan air mata, tak sanggup berkata apa-apa. Jadi apa yang kulihat dan yang kufirasatkan itu benar adanya atas semua keanehan yang muncul didepan mata. Mungkin hanya aku yang merasa, karena semua kakak-kakakku tak ada yang menyangka. Namun sebenarnya aku sudah sejak awal ibu sakit aku sudah mulai mempasrahkan diri ketika harus berpisah selamanya dengan seorang ibu yang sangat kucinta. Dan diperkuat dengan cerita seorang teman bahwa neneknya dia mengawali peristiwa-peristiwa aneh yang seperti ibu alami (merasa melihat makhluk-makhluk aneh dan selalu diajak oleh makhluk-makhluk itu). Nenek temanku juga hanya selama 1,5 bulan saja sehat dan akhirnya menemui Allah untuk selamanya. Dan tidak tahunya kejadiannya sama persis dan sakitnya pun sama persis seperti yang dialami ibu.

Ya Allah ya Tuhan… semua ini milikmu dan hanya kepadaMu semua akan kembali. Siapa yang sabar maka dialah yang mendapat rahmatNya . Ketika engkau menunjukkan jalan kepadaku tentang masa depanku, ibu pun langsung setuju. Sepertinya ibu jauh-jauh hari sudah merasa bahwa dia akan lebih cepat untuk meninggalkanku. Mangkanya ia selalu bertanya kapan aku menikah. Dan Allah mengabulkan do’anya, dengan menetapkan takdirku pas sesuai dengan keinginan ibuku. Sungguh Allah MahaTahu. Dan kini akhirnya aku menikah dengan laki-laki yang memang tak kukenal itu, dia adalah pilihan ibuku yang diberikan Allah kepadaku. Ibu selalu berdo’a kepadaku,”semoga engkau jadi orang sukses. Jika engkau pinjam sepeda motor saja tidak boleh, semoga engkau nanti mendapat suami yang sarjana,kaya dan kamu naik mobil kemana-mana. Hidupmu lebih mulia dari mereka”. Subhanallah do’a itu makbul. Dan betapa senangnya jika ibu melihat semua ini. Aku mendapatkan semua yang dido’akan ibu untukku. Dan subhanallah dia memang menjagaku seperti keinginan ibu. Terimakasih ibu……… atas semua kasih sayangmu,perhatianmu,pengorbananmu dan do’amu. Sekarang aku baru tahu bahwa menjadi ibu itu sungguh luar biasa, semua harus bisa dikerjakannya. Dan tidak tahunya menjadi ibu tidak semudah yang dilihat, dibaca dibuku bacaan, di teori yang beragam. Begitu subhanallah ketika menjalankannya, pengorbanan dan giat belajar harus terus mengiringinya. Dan satu hal yang paling luar bisa beratnya sabar dan ikhlas membutuhkan perjuangan jiwa dan raga. Namun aku baru tahu bahwa itulah yang membuatmu mulia ibu…… dan semoga aku bisa meraihnya menjadi istri yang sholehah bagi suamiku, ibu yang baik bagi anak-anakku. Amiin……

Dingin pagi sepertinya telah mendekati fajar…….. walau air mata terus menetes semoga ini air mata bahagia dan do’a untuk engkau wahai ibuku tercinta. Semoga engkau dilapangkan kuburnya,diterangi kuburnya,ditemani dengan amal sholihmu,diampuni semua dosamu,dimudahkan hisabmu,diringankan dalam melewati shorotNya,dan semoga kita dikumpulkan di akherat dan di syurga Allah kelak. Amiinnnn. Sekali lagi ibuku, TERIMAKASIH SEMUANYA YANG TELAH KAU BERIKAN PADAKU. HANYA DO’A YANG BISA KUBERIKAN SEBAGAI BALASANKU. I LOVE YOU MOM.

*Tulisan ini kuhadiahkan untuk IBUKU tercinta, Suamiku yang telah mendampingiku, Kakak-Kakak perempuanku yang telah menuntunku, Sahabat Peerempuanku-semoga kalian bisa jadi istri yang sholehah,ibu yang baik bagi anak-anak kalian. Amiinnnnnn…..

AKU CINTA PADA KALIAN IBU INDONESIA, BERIKAN YANG TERBAIK UNTUK KELUARGA DAN ANAK-ANAK KITA UNTUK MEWUJUDKAN NEGARA YANG SENTOSA, MADANI PENUH BERKAH DARI ALLAH SEMATA. KARENA HANYA DITANGAMU WAHAI IBU INDONESIA,NEGARA INI TERUS BISA TEGAK DAN JAYA UNTUK SELAMANYA………..TERUS SEMANGATTTTTTTT. ALLAHU AKBAR !

Untuk Para Lelaki

Posted: 3 Desember 2009 in Diary

Jum’at 4 Desember 2009 Jam 02.00 dini hari

Malam ini sepertinya mendung disini. Dingin pun mulai menyelimuti bumi. Aku pun mendesah sunyi, termenung memikirkan takdir ilahi.

Ya….perempuan bernama istri. Ia adalah sosok wanita sejati yang mau berkorban untuk sebuah keluarga di muka bumi ini. Setiap hari ia harus bergelut dengan sebuah kesibukan yang tak pernah berhenti. Mulai bangun hingga tidur lagi. Bahkan sampai ia mengorbankan hak dirinya untuk begadang sampai pagi demi si kecil yang rewel tiada henti.

Ketika semua terlelap dengan beribu mimpi sang istri menyelesaikan tugasnya yang masih menumpuk hingga malam nan sepi. Ia mencuci pakaian yang dipakai anak dan suami. Memasak untuk besok untuk sarapan pagi. Mumpung anak sedang pulas tidur ia teruskan untuk menseterika baju agar semua kelihatan rapi. Lalu ia istirahat untuk menghilangkan penat diri. Namun apa yang terjadi ? si bayi bangun minta disusui. Akhirnya sang istri harus begadang lagi. Belum lagi jika suami minta jatah untuk dilayani. Hemm….kapankah diri ini akan istirahat untuk memanjakan diri ?

Sebuah kewajiban yang terus terjadi setiap hari dan tak akan berhenti sampai mati. Namun terkadang niat baik ini belum memuaskan suami. Ia terkadang masih mencaci. Entah yang bilang tak beres urusan rumah dan anak yang tak bisa dibilangi. Padahal ia belum istirahat dari pagi hingga malam di setiap hari. Apalagi kalau sudah masalah gaji. Uang belanja yang dipake untuk nomboki utang sana sini dan kemudian habis, namun dibilang boros tiada henti. Subhanallah….hanya air mata yang bisa menitik dari mata ini.

Alangkah bahagianya jika para lelaki memahami akan beratnya tugas dan kewajiban seorang istri. Ia harus melayani, mendidik dan mengayomi anak bahkan suami yang dicaci oleh orang yang tak menyukai. Alangkah bahagianya jika suami tahu dan paham akan kebutuhan istri. Alangkah bahagianya jika para suami mendengarkan keluhan hati. Alangkah bahagianya jika suami mau menyadari bahwa seorang istri juga perlu untuk diperhatikan setiap hari. Alangkah bahagianya jika suami mau bertanya pada raut suntuk istri. Alangkah bahagianya jika sesekali suami melayani istri. Alangkah bahagianya jika suami peduli. Alangkah bahagianya jika suami tidak egois dengan merasa ialah yang meperjuangkan keluarga ini, membanting tulang bekerja tanpa henti. Apakah engkau tahu wahai suami bahwa istrimu bekerja selama 24 jam tanpa henti. Sedangkan engkau hanya bekerja selama 8 jam mungkin bisa lebih hingga 12 jam. Dan satu hal lagi engkau hanya bekerja mencari uang. Sedangkan seorang istri harus memborong semua pekerjaan. Ia menemani, melayani, mencuci, mensetrika, memasak, mendidik anak dan masih banyak lagi. Apa engkau pikir itu mudah ? Sedangkan engkau dititipin anak selama 1-2 ja untuk belanja atau mengaji saja engkau sudah merepet tak karuan ? Ketika istrimu sakit engkau hanya mampu memasak mie dan anakmu akhirnya hanya rewel saja hingga akhirnya istrimu juga yang melayani walau ia sakit yang entah apa rasanya ini. Apakah engkau tak sadar jika engkau sakit larinya ke istri ? jika anak sakit larinya ke istri ? sedangkan jika istri sakit ia akan lari pada siapa wahai suami ?

Ini bukan sebagai hujatan atau makian. Namun sebagai peringatan dan nasehat bahwa sebaik laki-laki yang menjadi suami adalah yang memuliakan istrinya. Yang mengerti apa yang dibutuhkan oleh istrinya.
Lalu apa yang dibutuhkan istri ? Ia tak mau ditinggal pergi, ia selalu ingin ditemani. Bagi istri kehadiran suami di depan matanya itu sangat menyenangkan hatinya walau sang suami tak berbuat apa-apa. Ia merasa tenang dan nyaman karena ada yang melindungi dan menemaninya disetiap detak perjuangannya. Ia ingin didengar keluhan hati yang tertuang dalam cerewet yang tiada henti. Untuk itu jangan ditinggal pergi jika seorang istri sedang cerewet atau marah. Ia hanya ingin didengar dan dimengerti. Itu sudah tabiat seorang istri. Ia ingin dibantu menyelesaikan tugasnya yang sangat berat setiap hari jadi jangan mengeluh jika dimintai tolong untuk menggantikan popok si bayi atau menemani dan melayani si kakak yang sedang sendiri. Kerjakanlah dengan ikhlas agar engkau mengetahui bahwa istrimu sungguh luar biasa karena ia bisa menyelesaikan semua kewajiban disetiap harinya tanpa peduli apa yang terjadi pada dirinya.

Wahai para suami jika engkau tak mau diperepetin istrimu, perhatikan dan jangan kau lupakan apa yang dipesankan istrimu. Contoh kecil, jika istrimu bilang kalau ambil baju jangan diberantakin. Ya kerjakanlah demikian karena sudah tabiat perempuan tidak suka yang berantakan. Dan satu hal yang perlu engkau ketahui jika engkau mengabil baju dari lemari dengan sembarangan maka itu akan menambah beban pekerjaan istri. Mau tak mau ia akan membereskannya lagi karena ia tak mau engkau bilang tak pecus membereskan rumah ini. Ingat dia bukan pembantumu dia adalah partner hidupmu. Ada lagi, jangan menaruh barang atau handuk sembarangan, kembalikan semua yang telah engkau ambil pada tempatnya agar istrimu tak keluar kata dari mulutnya. Masih ada lagi, jangan engkau lebih suka mendengarkan nasihat orang lain ketimbang nasihat istrimu. Istrimu pasti lebih peduli ketimbang orang lain. Istrimu memberi pertimbangan karena ia sangat sayang padamu. Jangan sampai engkau melontarkan sebuah saran dari orang lain dan engkau menyetujuinya padahal jauh-jauh hari istrimu sudah mengutarakannya kepadamu. Namun kenapa engkau tidak mau mendengarnya ? itu adalah sebuah penghinaan dan tidak menghargai istri. Jika saran dan pendapat istri itu baik kenapa harus gengsi untuk mengakuinya bahwa itu baik untuk sebuah kemajuan dirimu ? Apa salahnya engkau mencobanya dulu dan jika tak cocok engkau katakan baik-baik pada istrimu bahwa saran ini tak bisa kulakukan.

Jika engkau baik pada istrimu maka istrimu akan lebih baik kepada engkau. Itu sudah catatan. Jangan engkau sentil dengan hal-hal yang menurutmu sepele padahal bagi istri sangat berarti. Berhati-hatilah ketika mengungkapkan kata-kata atau bersikap karena istri sangat sensitive menanggapinya. Jangan sampai salahpaham sehingga menimbulkan desir kekesalan dalam jiwa istri. Jika sudah kesal biasanya akan sembarangan dalam mengerjakan segala sesuatunya. Bila dikerjakan dengan baik itu hanya karena kasihan pada engkau dan pada anak-anak engkau. Itulah istri, walau kesal setengah mati namun masih mau mengerjakan tugas setiap hari. Rasa iba istri bisa menutupi rasa benci sehingga ia pun mengikhlaskan diri walau ia disakiti jiwa dan pikiran ini.

Bimbinglah istri karena itulah harapan ketika di awal pernikahan. Jangan seperti anak kecil yang selalu diingatkan. Istri akan muak melihatnya. Jika tak ada anak, engkau akan diceraikannya. Karena sebenarnya perempuan bisa hidup mandiri tanpa seorang laki-laki. Namun kodrat perempuan adalah menjadi seorang istri dan mempunyai anak darimu. Karena sayang dan kasihannya pada anak ia tak mungkin meninggalkan engkau wahai para lelaki. Karena anak juga butuh pada bapaknya. Dan seorang ibu pasti tak mau berpisak dengan anaknya. Dan anak pasti lebih butuh dengan ibunya. Karena ibu yang mengandung dan melahirkannya. Mendidik dan merawatnya.

Satu lagi, jangan sekali-kali menyakiti istri karena bukan kepadamu ia akan melapiaskan diri. Namun ia akan memaki anak-anakmu dan mencari kesalahan yang sebenarnya kesalahannya tak berarti. Ia melakukan itu karena mau tak mau anak pasti mendengarkan keluhkesahnya sedangkan engkau jika istri marah malah mo tinggal pergi. Jangan sampai ini terjadi. Apakah engkau rela terjadi hal seperti ini ? Selesaikanlah jika ada yang mengganjal dalam hati. Carilah celah dan bahasa yang berbudi. Jangan kau pendam dalam hati dan tak pernah menceritakan keluh kesahmu pada istri.

Jadikan ia tempat curhatmu agar istri merasa berarti bagimu. Jangan sekali-kali engkau lebih nyaman bercerita pada orang lain dan akhirnya istri mengetahuinya. Itu sangat menampar hatinya. Ia merasa dibuang dan tak berarti lagi bagimu. Terkadang suami salah mengambil persepsi, dengan bercerita masalah pekerjaan atau yang lainnya akan menambah beban seorang istri. Itu tidak benar bahkan salah besar. Istri akan sangat senang mendengarkan suami bercerita apa yang dikeluhkesahkannya. Karena tadi ia merasa berrti bagi suaminya. Dan persepsi inilah yang harus dirubah. Sekali lagi salah besar jika suami bercerita tentang keluh kesah hatinya menjadi beban bagi istrinya. Ini Sangat salah besar.

Jujurlah akan segala hal. Entah masalah keuangan (kau terima berapa, kau belanjakan berapa, kau kasihkan keluargamu berapa) agar tidak timbul kecurigaan, entah masalah persahabatan (siapa teman-temanmu, siapa teman dekatmu, siapa kawan yang engkau percaya) agar dia tidak berpikiran buruk padamu. Cobalah untuk memahami bila engkau ingin memahami istrimu. Karena perempuan sebenarnya tak butuh materi dia hanya ingin dipahami, dimengerti oleh seorang laki-laki yang dicintai dan disayanginya. Materi hanyalah yang kesekian kalinya demi kelangsungan sebuah perjalanan pernikahan.

Dan bagi para lelaki yang belum menikah, berpikirlah matang jika ingin bersanding dengan namanya perempuan. Pernikahan tidak hanya sebuah keinginan. Pernikahan adalah kisah hidup yang sangat dahsyat. Kenapa disebut setengah dien karena didalamnya penuh perjuangan dan pengorbanan. Bukan setengah dien itu adalah ijab kabulnya, namun perjalanan dalam meniti hingga akhir hayat bersama pasangan itulah yang disebut setengah dien itu. Jika itu tak sempurna maka jangan harap engkau lulus setengah dien yang dinamakan pernikahan. Pernikahan tak seindah yang dibayangkan, tak semudah teori yang ditulis orang tentang liku-liku kehidupannya. Setiap pasangan punya kisah masing-masing yang perlu sebuah pembelajaran disetiap detak kehidupan. Masalah dan solusi tak bisa sama antara pasangan satu dengan yang lainnya karena setiap manusia punya watak yang berbeda-beda. Sehingga perlu pembelajaran untuk mengabil cara terbaik dala menyelesaikan semua masalahnya.

Dan yang terakhir setiap perempuan pasti ingin menjadi permata dunia alias WANITA SHOLIHAH. Namun gelar ini sungguh berat untuk mencapainya. Butuh keikhlasan dan kesabaran. Dan keikhlasan dan kesabaran itu bukanlah mudah untuk menjalankannya ia butuh keimanan yang tinggi. Dan keimanan itu butuh lingkungan yang baik dan dukungan yang kuat dari seseorang yang sangat dekat dengannya yang bernama suami. Untuk itu bantulah istrimu untuk mewujudkan cita-citanya yaitu menjadi WANITA SHOLIHAH. Jika istrimu baik maka engkau akan mendapatkan kebaikannya dan sebaliknya jika istrimu buruk perangainya maka engkau akan mendapatkan dampaknya. Suami istri adalah cermin. jika cerminnya retak maka akan retak pula gambarnya. So keep istiqamah dengan Islam yang mulia dalam rumah tangga. Jangan sekali-kali engkau meremehkan bahkan meninggalkan Islam dalam setiap jengkal kehidupan. Titip salam untuk para perempuan yang telah menjadi istri dari seorang laki-laki. Semoga aku dan engkau cepat meraih gelar PERMATA DUNIA “ISTRI SHOLIHAH”yang selalu didamba oleh setiap wanita yang hidup di dunia ini. Amin*az

*kenang-kenangan dari suara hati seorang perempuan yang telah menjadi istri dari seorang suami