BAHAYA AL QU’UD (BERPANGKU TANGAN)

Posted: 16 April 2013 in Harakiyah

Bahaya Al Qu'ud

Bahaya yang menimpa golongan yang aktif dalam agama Allah dan menyebabkan kokohnya kebatilan ialah sikap berpangku tangan (Al Qu’ud). Agar orang yang tertimpa bahaya ini dapat membersihkan diri dari padanya dan agar orang yang telah diselamatkan Allah azza wajalla dapat menjaga diri.

Pengertian Berpangku Tangan (Al Qu’ud)
1. Pengertian menurut Bahasa

Dalam Bahasa arab AL Qu’ud mempunyai beberapa pengertian :

a. Duduk setelah berdiri. Jika mengatakan, “Qa’ada fulanun” artinya si fulan duduk setelah sebelumnya berdiri.

b. Menghentikan dan meninggalkan karena suatu hal atau terlambat melakukannya. Jika kami berkata, “Qa’adat al mar’ah ‘anil haidhi wal waladi”, artinya wanita itu berhenti dari haid dan punya anak. “Qa’ada ‘anil amri” artinya meninggalkan atau mengabaikannya.

c. Terhambat untuk melakukan sesuatu. Jika kami berkata, “Ma qa’ada ‘anil amri ?”dan “wa”aq’adaka” artinya apa yang telah menghambatmu.

d. Tidak mementingkan sesuatu. Kami berkata, “Qa’ada “anil amri”, artinya dia tidak mementingkan perkara itu.

e. Penyakit yang menimpa tubuh sehingga ia duduk (lumpuh). Dikatakan penyakit ini menyerang pangkal paha unta, lalu menyondongkannya ke tanah. Atau ia penyakit menahun yang tidak dapat disembuhkan.

Makna-makna tersebut tidak bertentangan, karena saat penyakit itu bersarang dalam tubuh, maka ia menghambat si penderita dari melakukan perjalanan. Dengan demikian penderitanya terduduk dan berhenti melakukan kegiatannya, atau paling tidak menangguhkan pelaksanaan susuatu tanpa memberikan perhatian dan kepentingan terhadapnya.

2. Pengertian menurut istilah
Berpangku tangan (Al qu’ud) menurut istilah para da’I yang aktif dalam agama Allah ialah “penyakit yang menimpa seseorang”. Bila penyakit ini merasuki dalam tubuhnya, maka ia akan terhambat perjalanannya menuju tujuan. Sehingga secara tiba-tiba, ia terduduk dan menghentikan langkahnya atau minimal terlambat dari rombongan tanpa menunjukkan kepedulian atau kepentingan terhadapnya.
Ibnu Athiyah menafsirkan ayat, “Dan dikatakan, ‘Berpangku tanganlah kalian bersama orang yang berpangku tangan’, yang dimaksud Al qu’ud adalah terlambat atau mengakhirkan diri, seperti yang ditulis penyair :

“Terlambat karena engkau pemberi makan dan pakaian”.

Sementara Al ‘Alamah Al Alusi mengatakan rahimahumullah menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut, “Ayat ini menggambarkan perkara yang membuat makhluk Allah ta’ala berpangku tangan. Allah memasukkan kebencian hati mereka untukberangkat ke medan perang melalui perintah berpangku tangan. Atau ayat itu menerangkan bisikan syaithon supaya mereka berpangku tangan. Ayat ini bukanlah ayat yang memerintah sebenarnya. Ayat ini senada dengan firman Allah, “Allah berfirman kepada mereka, Matilah!’ Kemudian Dia menghidupkan mereka.

Ayat itupun menceritakan ucapan sebagaian dari mereka kepada sebagian yang lain, atau meminta izin kepada Rasulullah melalui mereka untuk tidak ikut berperang. Yang dimaksud “Al Qa’idin” ialah orang-orang yang berpangku tangan dan mematung di dalam rumah, seperti halnya kaum wanita, anak-anak, dan orang yang sakit menahun. Atau orang yang berpenyakit dan penyakitnya menghambat mereka untuk bepergian. Ayat itu –dengan kemungkinan beberapa makna tersebut—mengandung celaan jika direnungkan.

Maka jelaslah bahawa beberapa kemungkinan yang memastikan celaan menurut pandangan Al ‘Alusi ialah kemungkinan yang diungkapkan dengan, “Mungkin yang dimaksud ayat ini ialah menceritakan ucapan sebagian dari mereka kepada sebagian yang lain”.

B. Wujud berpangku tangan dan kedudukannya dalam Islam

1. meninggalkan manhaj Alloh secara total, dan berhukum kepada manhaj manusia. Walaupun wujud itu sedikit, namun terlihat dalam dunia nyata.

2. Tidak berdakwah di jalan Allah padahal ia mempunyai kemampuan diri, keluarga, dan anak.

3. mencurahkan diri untuk menyakiti orang-orang yang aktif berdakwah di jalan Allah. Kadang-Kadang hal ini dilakukan dengan merendahkan, menghina dan mencela program mereka. Serta mendukung orang yang mencela dan menghina mereka, baik secara sembunyi-sembunyi, maupun secara terang-terangan, mencaci mereka bahkan menyakiti secara terang-terangan.

4. berupaya mencabik-cabik barisan orang-orang yang aktif dengan menyusun sebuah program yang sesuai dengan manhaj Allah. Namun isi dan esensinya bertolak belakang. Kemudian mengajak khalayak terutama kaum muda, untuk bernaung dibawah bendera yang direkayasa untuk oleh mereka. Hal itu dilakukan dengan cara melibatkan diri mereka, kemudia mereka keluar, lalu menyatakan kepada khalayak, tidaklah mereka keluar dari program tersebut melainkan karena keburukannya.

5. cenderung kepada orang-orang zalim dengan suatu bentuk kemudian membela kaum zalim itu dengan segala macam cara dan sarana.

6. mencari tahu beberapa kesalahan orang-orang yang aktif di jalan Allah dengan mengatakan, “Semua manusia suka melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang salah ialah yang bertaubat”. Kemudian kesalahan yang telah diketahuinya itu disebarkan dan dipublikasikan kepada khalayak.

7. menggunakan nash agama bukan pada tempatnya, atau mengutip nash tersebut dan mengacaukannya sesuai dengan selera pribadinya. Hal ini dilakukan karena kedengkian, kebencian kepada agama Allah, dan kebencian orang-orang yang aktif dalam agama.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s