MEMBELA SIAPAKAH PENGUASA NEGERI INI ?

Posted: 10 September 2012 in Opini

Bumi Alloh, 10 September 2010

Bismillahirrohmanirrohim….

Dari rentetan kasus demi kasus yang mereka namakan “terorisme” seharusnya aparat yang menangani kasus itu berpikir keras TENTANG SEBAB. KARENA MENYEMBUHKAN PENYAKIT HANYA DENGAN RESEP “TAK JELAS” HANYA MENJADI MALL PRAKTIK.

KETIKA APARAT MENJADI “DOKTER” YANG SEHARUSNYA IA KERJAKAN PERTAMA KALI KALI ADALAH MENGANALISIS SEBAB. karena kejadian itu tidak hanya sekali maupun dua kali, namun berkali-kali dan terus berantai.

seharusnya MEREKA KAUM APARAT ITU BERPIKIR, “KENAPA YANG ‘TERORIS’ SERANG BUKAN PASAR, BUKAN TEMPAT2 SIPIL ? NAMUN KENAPA MEREKA YANG MENEGAKKAN HUKUM ?

dari jawaban bayu seharusnya aparat keamanan itu lebih sensitif dengan apa yg mereka mau. dan itulah sebab mereka melakukan aksi tersebut.

ketika sebab itu direspon dengan positif oleh aparat, yakinlah aksi mereka akan mereda.

MERESPON TIDAK USAH DIARTIKAN ITU TUNDUK DENGAN MEREKA. NAMUN WAHAI PARA APARAT, PIKIRKANLAH KEMASLAHATAN RAKYAT YANG KALIAN AMANKAN. WAHAI PARA PEMIMPIN, PIKIRKANLAH KEMASLAHATAN RAKYAT YANG ANDA PIMPIN.

sungguh dari alasan yang diungkapkan oleh bayu…itu telah terjadi kedholiman dan kesenjangan sosial dalam tubuh rakyat. Pemimpin dan para tangan kanannya MEMASANG HIRARKI SOSIAL. DAN ITULAH SEBAB KERUSUHAN TETAP BERMUNCULAN DI NEGERI INI.

SELAIN ITU, UCAPAN-UCAPAN YANG DISAMPAIKAN ‘SEBAGIAN’ PARA PENEGAK DAN PENJAGA KEAMANAN NEGERI INI ADALAH SEBUAH PERKATAAN YANG MEMICU KERUSUHAN.

kalimat itu adalah :
1. masyarakat harus lebih waspada dan intensif mengamati lingkungannya dan segera melaporkan apabila ada sesuatu kegiatan yang mencurigakan. —–> kegiatan “mencurigakan” ini tidak dirinci secara detail. sedangkan SDM masyarakat juga belum bisa memaknai apa arti khusus dari ‘mencurigakan’ tersebut.

misalkan ada oknum tidak suka dengan si A. akhirnya ia membuat berita ‘ada yg mencurigakan’ apa yang kita bayangkan ? si oknum yang ingin ‘cuci tangan’ akhirnya mengerahkan masa untuk menggerebek orang yang melakukan ‘sesuatu yang mencurigakan tersebut’. padahal mencurigakan tadi belum jelas apa dan hanya berdasarkan ‘katanya’.

dan ini sudah sering terjadi dibelahan nusantara ini.

2. mereka ‘menjual’ kata ‘JIHAD’ untuk keperluan mereka. —–> sungguh wallahi ! ini adalah kata2 hina yang mereka sampaikan.

mereka tahu siapa yang melakukan ‘aksi’ , yaitu dari barisan gerilyawan mujahidin. sungguh jelas-jelas yang melakukan adalah mujahidin. apa tugas mujahidin ? ya berjihad. jadi itu sudah poksi mereka dalam bekerja. JADI MEREKA TIDAK MENJUAL ‘JIHAD’ NAMUN ITU ADALAH PEKERJAAN MEREKA, TUGAS MEREKA.

KETIKA MEREKA MENGHINA PIMPINAN MUJAHIDIN BERARTI MEREKA MENGHINA ULAMA, MENGHINA BARISAN MUJAHIDIN, PADAHAL ULAMA ADALAH PEWARIS PARA NABI. DAN ALLOH JUGA MEMULIAKAN MEREKA.

banyak ayat yang menyatakan kemuliaan dari Alloh untuk para mujahidin itu. Namun kenapa para hamba yang mengaku hamba Alloh memojokkan, merendahkan, bahkan melegitimasi mereka ?

3. para da’i harus bersertifikasi —–> apa maksud dari perkataan ini. berdakwah harus mendapatkan restu mereka. memang siapa mereka ? mereka ulama bukan ? faham al qur’an saja tidak ? islamnya sudah benar-benar tunduk pada alloh atau belum ?

BEGITU… MAU MEMBERIKAN SERTIFIKASI DA’I KEPADA PARA PENYERU ISLAM. KEPADA PARA PEJUANG ISLAM.

SUDAH SANGAT TERBUKTI DARI ZAMAN ORDE LAMA HINGGA ORDE BARU HINGGA REFORMASI MEREKA ADALAH PENGGIAT UNTUK MENANGKAPI PARA DA’I DAN PEJUANGNYA. LALU KEPADA MEREKA PARA DA’I DAN PEJUANG HARUS MEMINTA SERTIFIKASI DAKWAH ? ya…nonsen akan diberikan sertifikasi sesuai dengan al qur’an. lawong mereka sendiri memusuhi al qur’an dengan dibuktikan mereka memusuhi ulama sebagai pewaris para ambiya’.

dan yang menjadi catatan adalah ISLAM TIDAK PERNAH MENYURUH KAUMNYA UNTUK MENCARI SERTIFIKASI UNTUK KELEGALAN DAKWAHNYA. DAN ISLAM HANYA MENYAMPAIKAN “SAMPAIKAN WALAU SATU AYAT”. jadi ketika seorang muslim sangat memahami tentang 1 ayat ia wajib menyampaikannya. ketika ia memahami 2 ayat maka ia wajib menyampaikannya. apalagi kalau yang ia fahami beratus dan beribu ayat, maka segitulah kewajiban yang dibebankan Allah terhadap hambaNya untuk disampaikan kepada sesamanya.

dan masih banyak yang harus dicermati, dikaji dari perkataan-perkataan para petinggi penegak hukum dan keamanan negeri ini.

KESIMPULANNYA :
MASALAH ITU MUNCUL DARI MEREKA SENDIRI, KARENA MEREKA TERLALU DINI MEMBUAT PERNYATAAN, TERLALU MUDAH MEREKA BERUCAP. MEREKA TIDAK SADAR KALAU YANG MEREKA UCAPKAN ITU AKHIRNYA MALAH MEMICU HURU HARA NEGERI YANG SANGAT RENTAN DENGAN SARA-NYA.

ketika mereka menyuruh untuk bijak menghadapi bhineka tunggal ika, tapi KENAPA MALAH MEREKA MERUSAK KEBINEKHAAN YANG ADA ?

*inilah pertanyaan anak negeri yang sudah lelah dengen kemelut negeri ini…..

akhirnya menjadi ingat sebuah pernyataan :KETIKA BELI BARANG KELIHATANNYA BAGUS, DIBELI DENGAN HARGA MAHAL. NAMUN TIDAK TAHUNYA TIDAK BISA DIGUNAKAN DENGAN MAKSIMAL, BAHKAN TIDAK BISA DIPAKAI UNTUK MENYELESAIKAN PEKERJAAN DAN MALAH MEMBUAT MASALAH. MAKA BARANG INI LEBIH BAIK DIAFKIRKAN, DAN BELI BARANG BARU. JIKA TERLALU CINTA MAKA BARANG ITU DIPAJANG SAJA, JIKA PUNYA DANA LEBIH UNTUK MEMELIHARANYA.

keadilan dan kebhinekaan, serta toleransinya hanya simbol…toh nyatanya rakyat sendiri yang menjadi “tumbal eksistensi para penguasanya”

Allah Maha Adil dan Maha Melihat serta maha Menilai

Komentar
  1. malik abdullah mengatakan:

    Padahal baru usulan dalam obrolan nonformal dari seorang sosiolog UNAS Nia Elvina tentang (perlu dipikirkan) sertifikasi da’i dengan analog adanya sertifikasi guru dan dosen. Guru dan dosen bisa disertifikasi, mengapa tidak dicoba dengan profesi da’i? Alamak! Guru dan dosen itu banyak PNS di sana. Syarat sertifikasi guru dan dosen itu harus profesional dulu. Syarat lain jabatan profesional itu diberi gaji dan tunjangan, baik oleh pemerintah maupun oleh swasta di tempat mereka bernaung. Ada peraturan dan perundang-undangan untuk profesi itu. Lha, kalau da’i? Mereka ini umumnya mandiri. Kompeten atau tidaknya mereka, profesional atau tidaknya mereka, bukan datang dari pengakuan lembaga, tetapi dari masyarakat. Para da’i ini tidak digaji. Mereka ini mandiri dan independen. Konsekuensinya kalau da’i dilabeli bersertifikat, berarti dia baru boleh berdakwah. Kalau tidak dapat sertifikat dakwah, bagaimana? Dilarangkah? Kalau dilarang, mereka mencari nafkah, menghidupi keluarga, bagaimana? Kalau di Australia, Swedia, atau Jerman yang kaya sih para pengangguran bisa diberi tunjangan, kalau di Indonesia? Wong duit rakyat dari pajak dan investasi asing yang luar biasa melimpah dikorup oleh maling2 parlente berdasi dengan jabatan anggota dewan yang terhormat, ketua umum partai, anggota dewan pembina partai, wamen, dirjen, direktur, de el el, mbelgedes!

    • walaupun masih sebuah diskusi namun itu adalah sebuah isu yang mulai digulirkan untuk membungkam umat islam. untuk itu harus segera ada reaksi, sehingga para wakil rakyat sudah mempunyai analisis tentang bagaimana respon masyarakat jika mereka turut menggulirkan UU tersebut.

      kemudian ada hal yang perlu saya luruskan, yaitu PROFESI DA’I TIDAK BOLEH DIJADIKAN SEBUAH PEKERJAAN ALIAS UNTUK MENCARI PENGHASILAN. menjadi seorang da’i itu adalah tugas yang diembankan kepada setiap muslim. itu adalah salah satu tugasnya untuk melaksanakan amar ma’ruf dalam tubuh umat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s