Revolusi Aqidah Menuju Revolusi Peradaban

Posted: 17 Juli 2012 in Artikel


 


Peradaban adalah satu hal diantara hal lain yang sangat urgent dalam sebuah kebangkitan. Kebangkitan kejayaan sebuah bangsa maupun kebangkitan sebuah masa kekuasaan.

Perubahan peradaban sebuah masa dipengaruhi oleh idiologi yang berkembang dalam masyarakat di masa itu. Idiologi inilah yang akan mempengaruhi pola pikir, keyakinan dan tingkah laku masyarakatnya.

Dari peradaban purba hingga peradaban modern, hanya peradaban Islamlah yang mampu mengakumulasi seluruh aspek kehidupan menjadi lebih baik. Dan ini telah terbukti, dimana ketika Islam menguasai 2/3 dunia umat sangat sejahtera, baik itu muslim maupun kafir (di zaman kekholifahan Umar Bin Abdul Aziz sebagai contohnya). Karena hak-hak kemanusiaannya terjaga oleh sebuah hukum Allah dalam naungan daulah kekhilafahan. Hanya Islam yang menjunjung tinggi akhlak, murninya pola pikir dan kebersihan hati. Karena Islam telah sesuai dengan fitrah manusiawi.

Manusia berkualitas baik, bila pola pikirnya lurus, jauh dari pikiran kotor dan yang merusak lingkungannya, dan ini adalah kolaborasi dari hatinya yang penuh dengan keimanan serta ketaqwaan kepada Rabbnya. Tanda kesucian hatinya buah dari rasa taqwanya dan ini semua yang membuahkan akhlak yang mulia. Akhlak yang selalu mengedepankan pembangunan jiwa dan fisik lingkungannya hingga terbentuk sebuah peraturan dalam hidupnya maupun lingkungannya.

Kenapa harus revolusi aqidah ?

Aqidah adalah sumber idiologi yang mengajarkan sumber kehidupan. Sehingga idiologi inilah nantinya yang akan berperan dalam setiap sistem kehidupan manusia. Untuk itu, diperlukan sebuah revolusi dari sumber segala sumber kehidupan yaitu aqidah tauhid yang dipahami setiap manusia.

Ketika idiologi jahiliyah yang difahami oleh sebuah umat, maka kehidupannya akan jahiliyah. Dalam kehidupan jahiliyah yang ada adalah sebuah kehidupan yang tidak mencerminkan keimanan sama sekali, dan jauh dari rasa ketaqwaan. Kehidupan jahiliyah tidak sesuai dengan sisi kemanusiaan, dimana hanya faham materialistis yang menjadi pokok bahasan. Sehingga, kultur yang tertanam adalah materi dunia yang dijadikan orientasi, ukuran dan tujuan.

Revolusi aqidah wajib dilakukan demi perubahan sebuah sistem yang membangun peradaban. Terutama revolusi itu dimulai dari sebuah keluarga. Karena keluarga merupakan sebuah sistem terkecil dalam masyarakat. Keluarga adalah basis pendidikan anak paling utama. Anak yang baik dalam kacamata segala hal (baik akhlak,baik pola pikir, baik hati) itu bisa muncul dari keluarga yang baik. Takaran baik disini adalah, keluarga baik menurut kacamata agama yaitu Islam. Untuk itu pondasi pemahaman Islam dalam keluarga haruslah kaffah (sempurna).

Ketika seorang ibu yang merupakan pendidik bagi anak-anaknya, dan kemudian dikokohkan oleh seorang ayah yang merupakan qowam-nya(pemimpin dan pelindungnya), mempunyai kolaborasi pemahaman Islam yang sempurna (kaffah), maka akan muncul anak-anak (jundi-jundi) yang berkualitas tinggi.

Dari kedua orang tua yang mempunyai pemahaman akan hakikat dari kedua kalimah syahadah (tauhid dasar Islam) yang diucapkannya, maka akan muncul akhlak-akhlak dasar seorang muslim dari keluarga tersebut, diantaranya :

1)        Al wala’ dan Al bara’ (loyal dan anti loyal). Ia sangat loyal kepada rabbnya dan ia akan sangat benci kepada musuh Allah. Musuh yang merusak peradaban tertinggi yang telah diturunkan ke muka bumi ini yaitu Islam.

Seorang ayah atau ibu yang berloyal kepada Allah maka ia akan tahu hakikat ta’lif (beban) hidupnya, yaitu meninggikan kalimat tauhid itu agar tegak di muka bumi. Sehingga kemurnian imannya akan terjaga dan ia akan menularkan kepada anak-anaknya. Mereka akan mencetak generasi sekualitas diri mereka bahkan melebihinya.

Seorang ayah atau ibu yang anti loyal (berlepas diri) kepada musuh-musuh Allah, akan selalu menjaga anak-anaknya dari penghancuran kualitas pribadi manusia yang dilancarkan musuh Allah. Keduanya akan menjaga anak-anaknya dari ghozwul fikri (perang pemikiran) yang begitu merusak peradaban. Keduanya akan menjaga anak-anaknya dari bahaya hedonisme yang sangat merusak akhlak dan moral manusia.

2)   ‘Adzillah ‘alal muslimin (lemah lembut terhadap sesama muslim)

Jika seorang ayah dan ibu tahu hakikat tauhidnya maka ia akan mempunyai rasa ukhuwah  (persaudaraan) yang tinggi terhadap sesamanya. Ia akan memunculkan generasi itsar- yang rela berkorban untuk saudaranya. Mementingkan kepentingan umat daripada kepentingan dirinya.

Dan generasi itu akan terbentuk sebuah akhlak tinggi berupa loyal terhadap perbaikan lingkungannya. Ia akan ringan tangan membantu siapa yang kekurangan. Ia akan mendidik siapa yang masih terbelakang. Ia akan terus berkorban, menabur cinta tanpa ada pamrih sedikitpun terhadap manusia. Hanya demi satu keinginanan tertegaknya keadilan dan kesejahteraan dalam segala aspek kehidupan yang meliputi fisik, ukhrowi dan pola pikir manusia dan sistem kehidupan yang membangunnya.

3)            ’A ‘izzah ‘alal kafirin (tegas terhadap orang kafir)

Kaum kuffar adalah kaum pembelot di mana yang ada dalam otaknya adalah kerakusan, kedengkian, serta kedholiman. Kaum kuffar tidak akan rela atas kejayaan kebaikan di muka bumi ini, sehingga merekalah musuh peradaban sebenarnya. Mereka perusak peradaban hakiki, peradaban Rabb bumi. Untuk itu peradaban kuffar harus dihancurkan, harus dibenci agar tak meracuni fikroh generasi.

Lalu bagaimana generasi bisa selamat dari hal ini ? kembali kepada kedua orang tuanya yang harus faham terhadap agamanya, terhadap aqidah tauhidnya. Kedua orang tua harus tahu apa yang harus ia lakukann terhadap musuh agamanya. Dan ini semua harus ditanamkan kepada anak-anak mereka. Sehingga mereka pun tahu bagaimana dalam menjaga peradaban Rabbnya yang telah menjadi rahmatalil’alamin di muka bumi ini.

4)     Mahabbatullah ( Mencintai Allah )

Mencintai Allah adalah buah dari keimanan dan ketaqwaan seorang muslim. Konsekuensi dari orang yang mencintai adalah melakukan semua perintah dan larangan dan menjauhi larangan Allah. Semua ini bisa dilakukan ketika manusia itu faham akan hukum-hukum Allah.

Apa yang diperintahkan Allah adalah hal yang selalu mendatangkan kebarokahan untuk manusia, mendatangkan kemaslahatan dan memunculkan rahmah di muka bumi. Sedangkan apa yang dilarang Allah adalah mendatangkan kehancuran, mendatangkan kedholiman, mendatangkan kebencian dan itulah awal dari hancurnya sebuah peradaban.

Keluarga yang tahu akan hukum-hukum Allah, maka ia akan memilih untuk mencintai Allah dan akan menebar apa yag diperintahNya. Melakukan segala amalan hanya untuk mendapatkan ridho Allah dan sangat jauh dari pamrih dari manusia.

5)        Jihad Fisabilillah (Jihad di medan perang)

Jihad adalah amalan tertinggi dari agama. Jihad adalah eksistensi dari mempertahankan tetap tegaknya kalimatullah di muka bumi. Jihad adalah pertahanan dari sebuah penghancuran peradaban dari kaum kuffar. Dan semangat jihad harus terus dibina dalam sebuah keluarga, yang harus ditanamkan di jiwa anak-anaknya, agar muncul generasi pejuang yang mempunyai prinsip “Hidup Mulia Di Bawah Naungan Syari’at Allah atau Mati Syahid”. Generasi yang mempunyai imunitas terhadap musuh-musuhnya.

Hidup mulia dengan hukum-hukum Allah yang bernuansa keimanan, yang membawa pada kemaslahatan dan keberkahan manusia atau lebih baik mati syahid, tidak melihat dan tidak merasakan kekejian peradaban jahat yang menggerus dan melumatkan manusia.

Fakta keluarga dalam masyarakat

Dalam masyarakat banyak kita jumpai fakta tentang kebobrokan peradaban yang selalu mereka pakai. Dimana banyak keluarga yang masih mengadopsi hukum-hukum selain Islam. Misalnya ketika mendidik anak.

Dalam mendidik anak, banyak orang tua yang menanamkan orientasi dunia ketimbang orientasi akhiratnya. Materialistis hedonis mungkin itu lebih tepatnya. Contohnya begini, banyak orang tua yang mengatakan kepada anaknya “Nak, nanti besar jadi dokter ya…biar bisa ngumpulin banyak uang, bisa beli mobil, beli rumah, hidup enak dan dihormati tetangga”. Kemudian setelah anak besar dan takdir berpihak pada anak itu untuk menjadi dokter, lalu apa yang terjadi pada anak itu ?

Maka anak itu akan terus membangun persepsi dalam dirinya, pola pikirnya dan hatinya dengan kalimat ini “aku harus menjadi dokter handal sehingga tarifku mahal”. Nah apa yang terjadi berikutnya ? ia akan mengambil spesialis dan kemudian tarifnya tinggi, lalu ia malas untuk dipekerjakan di rumah sakit umum (pemerintah) maupun malas untuk mengadakan bakti sosial atau malas untuk diterjunkan ke medan konflik perang. Ia malas untuk melayani kaum dhuafa karena semua itu tak ada uangnya.

Ia akan lebih memilih praktik di rumah sakit swasta dan membuka klinik spesialis sendiri. Karena itu yang mendatangkan uang yang banyak baginya. Sehingga iapun hanya memikirkan kesuksesan dan kejayaan dirinya sendiri dan lupa akan tugas hakikinya “ABDI UMAT MASYARAKAT, PEMBANGUN PERADABAN SEGI KUALITAS HIDUP SEHAT”. Ia lupa, karena yang ada di otaknya hanya cinta dunia (ia memburu materi sebagai orientasi hidupnya) dan takut mati (ia tak mau mengorbankan dirinya untuk umat.).

Itu fakta jika kedua orang tuanya yang medidik dokter tadi adalah orang tua yang tak faham akan Islam. Orang tua yang materialistis bahkan oportunis. Anaknya hanya diajari untuk memikirkan diri sediri, menjilat penguasa atau orang berpengaruh dan berharta demi sebuah cita-cita.

Namun lain halnya jika yang berbicara dan berpesan tadi adalah kedua orang tua yang benar-benar faham akan agama. Faham akan hakikat syahadah dan ketauhidannya. Yang benar-benar faham akhlak apa yang harus ia junjung tinggi dan pada akhirnya orang itu akan berbicara dan berpesan kepada anaknya’ “Nak, nanti kalau besar engkau harus jadi mujahid, apapun profesimu, niatkan semua untuk ibadah kepada Allah. Takutlah kepada Allah karena Allah selalu mengawasimu. Insya Allah keberkahan akan selalu ada dalam kehidupanmu.”

Dan Ketika anak itu besar, maka ia akan mencari jati dirinya ia akan mencari tahu kenapa aku diciptakan ke dunia ? kenapa aku harus jadi mujahid apapun profesiku ? kenapa aku harus ibadah ? dan kenapa keberkahan bisa kudapat jika aku melakukan itu semua ?

Dari situ sang anak akan terus mencari dengan bimbingan kedua orang tuanya yang lurus fikroh dan imannya. Dan ia pun tumbuh dalam suasana ketaqwaan dan ia pun tahu hakikat hidupnya. Ia tahu ta’lif (beban) terciptanya di dunia yaitu menegakkan kalimatullah.

Jikalau ia harus jadi dokter maka ia menjadi dokter yang loyal. Ia tak peduli berapa imbalan yang diberikan manusia, yang ada dalam otak dan hatinya hanyalah berjuang, membagun kualitas hidup umat yang lebih baik dan ridho serta pahala dari Allah semata. Dan itulah sumbangsihnya dalam membangun peradaban manusia, peradaban yang mensejahterakan demi keadilan umat.

 

Kesimpulan

Perbaikan peradaban kehidupan itu dimulai dari perbaikan keyakinan (idiologi yang difahaminya), revolusi tentang tauhid aqidahnya, revolusi pemahaman terhadap sumpah tertinggi yaitu “Laa illaaha illallah, Muhammaddur Rasulullah”. Sumpah inilah yang akan membuahkan keimanan dan akhlak yang baik, yang bisa mencetak manusia penuh ketaqwaan dalam setiap detak hidupnya.

Keimanan itu tak sekedar diucapkan melainkan mencakup 3 hal yaitu diyakini dalam hati, diucapkan dalam lisan dan diamalkan dengan amal perbuatan. Jika setiap pribadi faham betul dengan syahadahnya maka keimanannya akan menghujam di jiwanya, tak lekang oleh waktu, tempat, kondisi dan tak lekang oleh apapun. Imannya akan ia bawa kemana saja karena ia tahu, Allah mengawasiya. Ia faham Allah tidak tidur, sehingga Allah selalu tahu apa yang ada dalam telisik hati dan rencana dalam otaknya. Sehingga ia akan selalu jujur, tanpa pamrih, menebar maslahah dalam perbaikan masyarakat. Karena yang diharapkan adalah hanya ridlo Allah bukan pujian manusia.

Dan itulah generasi yang muncul dari keluarga yang merevolusi tauhidnya menjadi tauhid yang satu, yang benar menurut dienullah. Sehingga ia pun akan membangun peradaban yang benar sesuai perintah Rabbnya. Karena iman dan taqwanya telah beririgan dalam kehidupannya

Ingin revolusi peradaban yang sesuai fitrah manusia ? jawabnya adalah revolusi aqidah setiap keuarga maka akan muncul generasi tangguh harapan tuhan yang bisa memunculkan peradaban tinggi, yang menjadi rahmat seluruh alam. Yaitu Islam. Sebuah idiologi yang mampu memunculkan generasi yang beriman dan bertaqwa dalam membangun peradaban di masanya, yang hanya memikirkan perjuangan dan jauh dari orientasi materialistis kapitalis maupun pujian manusia sehingga akan menghasilkan peradaban yang murni sesuai fitrah manusia. Wallahu’alam bi showab*az

Komentar
  1. Mika Kisworo mengatakan:

    Saya tertarik dengan artikel di atas karena artikel tersebut membahas tentang bagaimana peradaban islam mampu mengakumulasi seluruh aspek kehidupan dan mampu mensejahterakan umat. Dalam artikel tersebut Islam sangat menjunjung tinggi akhlak, murninya pola pikir dan kebersihan hati karena islam telah sesuai dengan fitrah manusiawi. Revolusi aqidah wajib dilakukan demi perubahan sebuah sistem yang membangun peradaban dari generasi ke generasi. Dari generasi yang baik maka akan terbentuk sebuah akhlak tinggi berupa loyal terhadap perbaikan lingkungannya. Dari sinilah dapat diambil kesimpulan bahwa peradaban yang ada pada Islam dari generasi ke generasi selalu berkaitan erat, artinya perubahan revolusi aqidah pada setiap zamannya hingga saat ini semata-mata hanya untuk menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya agar kita menjadi umat manusia yang penuh dengan keimanan dan ketaqwaan dalam membangun peradaban di masanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s