~»* [Diary Imatuzzahra] Tak Sekedar Tukang Ikan *«~

Posted: 18 Oktober 2011 in Diary

Siang sudah beranjak naik,sepertinya sudah mendekati dhuhur. 2 anakku sudah tertidur lelap. Begitulah yg kubiasakan untuk sang kakak Syahla. Pulang sekolah,cuci kaki,ganti baju,mengerjakan PR,makan siang dan minum susu lalu istirahat siang. Ketika aku sedang asyik membaca terdengar suara tukang ikan. Aku baru teringat kalau kemarin aku pesan tulang sumsum untuk si adik ghozy yang sedang menjalani terapi akibat dampak dari radang otak. Krn sangat terik tiba-tiba aku terhuyung dan kucari bongkahan batu sisa bahan bangunan rumah kami. Entah knp tiba-tiba aku nyeletuk, “Abang tahu obat flu berat itu apa ? Udah sy istirahat full,minum madu,habatussauda,kunyit,kencur batuk pilek sy kok blom baik2”.

“Flu itu sembuh sendiri tuh bu”, jawabnya santai.

“Iya sih bang, dulu sampai sy divonis ngidap TBC kelenjar, udah habis antibiotik segebok tak baik2, krn dah bosen minum obat,sy biarkan sj,dan sy hanya istirahat total,banyak makan buah dan sayur. Alhamdulillah hilang semua benjolan sy dileher dan sekitar telinga. Dan batuk sy jg berhenti sendiri”, ceritaku panjang lebar sambil sedikit dongkol dg dokter yg kadang aku gak percaya dg penyakit yg divoniskannya.

Abang tukang ikan itupun hanya tersenyum tipis. Setelah aku duduk, si abang bertanya, “kemarin yg datang anggota kajian ibu ya ?”

“Iya bang, rumahnya di daerah kota mrk,mpe malu sy dijenguk krn sdh 1 bln gak nongol sakit semua,” aku bercerita sekenanya. Karena tiap hari kerumah, si abang ini pun sudah akrab dg ku. Ya akupun jg begitu orgnya. Senya-senyum kalau ketemu orang…heheh…cuman kalau sdh digarai…hmm…keluar dah taring galaknya.

“Ibu orang PKS ya ?” Tiba-tiba si abang nyeletuk.

Aku pun hanya tersenyum tipis. Ah langsung terlabel begitu.

“Saya memang tercatat di sana bang,cuman kalau sy ngisi kajian sy tdk pernah ngajak orang ke PKS,” aku pun jg nyeletuk tak mau kalah seru.

“Iya lah bu, partai kan hanya alat,” si abang menjawab dg ringan.

Dalam hati sy membatin, “Sepertinya ia orang yang faham.” Akupun langsung memberondong pertanyaan, “Lah abang aktif di JT ya?”

Aku main tebak saja karena banyak pedagang disini yg ikut kajian Jama’ah Tabligh.

“Nggak bu, sy sebenere juga sering diundang ngisi wirid (semacam yasinan),ngisi ceramahnya,kalau pas lebaran ‘Id sy kadang juga disuruh ceramah”,dia bercerita sambil menarik dorongan tempat jualan ikannya.

“Hmm…” hanya itu yg bs kuucapkan. Seperti hal yang tak pernah kuduga, laki-laki pendek berbaju lusuh yg tak pernah ganti bajunya ktk jualan,sambil mendorong beko tempatnya jualan ikan,berkulit hitam dengan rambut kriting kumal keturunan bermarga batak itu sangat mengejutkan.

“Abang dulu dari pesantren ?” Aku masih penasaran.

“Nggak bu, sy dulu sempat di UISU (Universitas Islam Sumatera Utara). Cuman gak lulus,” dia bercerita nyantai. Aku langsung terdongak.

“Kok bs begitu bang ?” Mulutku terus mencecar pertanyaan.

“Ya gimana bu, waktu itu mau KKN. Trus berbenturan dengan pekerjaan. Waktu itu sy disuruh milih, milih kuliah apa milih kerja ama bos sy. Akhirnya kalau milih kuliah apa yg sy pakai untuk biaya. Ya…sy tinggalkan sj demi mencari penghasilan untuk hidup.

Aku hanya bs manggut-manggut dan merasa sedih. Begitu banyak orang cerdas dari kalangan tak mampu namun tak bs mengenyam indahnya perguruan tinggi hingga sarjana, apalagi untuk S2 atau S3.

“Ah sayang kali ya bang…udah mau kelarpun,” mau gak mau aku berkomentar sedih.

“Ya gimana lg bu,” jawabnya pasrah.

“Cuman gelar juga tak menjamin hidup seseorang bang,” aku berusaha menghibur.

“Betul-itu bu,cuman gelar sekarang dipakai senjata untuk dapat pekerjaan lebih layak,” jawabnya tabah.

“Iya,” hanya itu yg bs kumenimpali.

Mentari semakin terik, entah kenapa si abang enggan untuk pergi. Sedangkan aku masih penasaran dengan sosoknya yg rupanya juga seorang da’I. Aku pun terus nyerocos melempar banyak pertanyaan,berusaha untuk mengajak diskusi tentang problem yang sangat mendasar di umat Islam.

“Memanglah benar bu,masyarakat ini Islam tapi tidak tahu tentang keislamannya,”tiba-tiba ia sudah bersuara sebelum ditanya.

“Wah memang betul-bang…” Jawabku.

“Seperti yg ibu bilang tadi,untuk sholat aja masih berantakan.” Dia masih terus bercerita menanggapi ceritaku tentang ibu-ibu yang kubina ngaji sholatnya masih berantakan. Kalau jama’ah masih lowong2 dan tak mau mepet, padahal kalau lowong ditempati syaithon.

“Cobalah kita lihat habluminallahnya aja kayak githu,knp bahas yg hablu minannas. Pasti juga berantakan,” dia masih melanjutkan.

“Begini bang…pokok permasalahannya itu adalah banyak ulama yg tidak mau menyampaikan urusan syari’at 1, yaitu urusan Syahadatain. Padahal disitulah pangkal permasalahan dan tonggak solusi problem umat ini. Cobalah abang lihat, abang pernah mendengar ustadz membahas tentang syahadatain ? Mereka menyembunyikannya bang,takut dituduh teroris,takut dituduh melawan negara,” aku berusaha mendudukkan masalah. Si abang tukang ikan pun menggeleng dan manggut-manggut.

“Nah itu dia bu, ustadz itu takut. Termasuk sy jg bingung gimana menyampaikannya. Padahal memang islam demikian. Cemana kalau tidak kita sampaikan, pastilah kita yg akan diseret duluan ke neraka,”timpalnya antusias.

“Nah itulah, abang sudah ngerti. Mau tak mau kalau kita sudah Islam, kan arti Islam itu tunduk kan bang, berarti tunduk pd apa yg diperintah yg dinamkan syari’at Allah dan apa yg dilarang Allah kan bang…dan berarti sistem yang harus kita pakai adalah sistem Allah bukan sistem undang2 manusia. Dan jihad itu bukan terorisme kan bang…itu kan perintah Allah yg banyak disebut dalam al qur’an kan ?” Aku memberondong banyak hal untuk ku doktrinkan. Kupikir, walau dia seorang tukang ikan, namun ia mempunyai cara berpikir luas dan pemahaman yang perlu diluruskan sesuai al qur’an dan assunnah.

“Iya memang begitu ya bu,” ia menimpali dg manggut-manggut.

“Banyak diantara kaum muslimin yg tidak tahu konsekuensi dari syahadahnya, tidak tahu pentingnya syahadahnya, banyak yang tidak tahu apa yg membatalkan syahadahnya. Musyrik itukan membatalkan syahadah dan musyrik itu kan tidak hanya pergi ke dukun sj kan bang…ketika kita sudah tidak berhukum sesuai dg al qur’an dan assunnah berarti itu kan sudah musyrik kan bang…berarti itu kan sudah menduakan Allah dg manusia.” Aku masih sangat semangat mendoktrin si abang yg serius mendengarkan. Walau kepalaku cemot2 kepanasan dan menahan ingus yg gak mau keluar sendiri jk tak dikeluarkan,rasa pening dan berat kepalaku seakan hilang begitu sj.

“Wah betul-itu bu,” si abang manggut-manggut setuju.

“Jadi abang kalau ngisi kajian,katakan apa yg dikatakan al qur’an dan sunnah. Biar sj mereka menuduh,biar sj mereka menjauh, katakan ini kata qur’an kalau mau ikut ayo, kalau ndak ya tidak apa2. Kita kan hanya menyeru,” tegasku.

“Iya..ya bu,” dia terlihat semangat.

“Abang masih ingat perang badar kan ? 100 orang islam mengalahkan 1000 orang kafir. Kita tak butuh banyak pengkut kok bang,tapi kita butuh orang2 yang beriman dg segenap keikhlasannya. Karena hanya dg keikhlasan syaithon tak bs mengalahkan manusia,” sambungku.

“Iyalah bu, banyak kalau jadi buih untuk apa,” ia pun menimpali dan aku hanya tersenyum tipis.

Dan tak terasa kepalaku benar2 sangat berat. Dan sepertinya si abang tukang ikan tahu aku sedang menahan sakit. Diapun berpamitan pergi sambil mendorong bekonya.

“Ah pakaiannya sangat lusuh,jelek orangnya cuman gak tahunya ia orang yg agak faham dan seorang da’I. Pantas saja suami sering bilang abang itu sering sholat jum’at di masjid komplek sambil bawa bekonya. Tidak malu dan nyantai saja. Terkadang penampilan menipu,”hatiku nyerocos sendiri sambil memasuki rumah. Gelap. Rupanya panas di luar membuatku tak bs melihat ketika masuk ruangan. Dan pelan-pelan pendar isi ruangan mulai terlihat.siang yg menakjubkan. *az ^_^

Tanah Perantauan, 30 September 2011

**********************

Ya penampilan kadang menipu, untuk itu jangan pernah menilai,menghukumi seseorang sebelum benar-benar tahu watak dan tabi’atnya serta pemahamannya. Krn terkadang kita akan dibuat tercengang-cengang oleh sosok yang mungkin kita anggap remeh namun tidak tahunya lebih “BERISI” dari kita. Jalinlah ukhuwah dg siapa saja,berkomunikasilah dg siapa sj,dapatkan ilmu dari siapa saja. Krn setiap orang yang didatangkan oleh allah untuk menemui kita itu pasti membawa pelajaran berharga yang tidak disangka-sangka. Untuk itu jangan sampai menyepelekannya.

***********************

Komentar
  1. Rahman mengatakan:

    hmm… ya.. ya.. paten!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s