Arsip untuk Oktober, 2011

Siang sudah beranjak naik,sepertinya sudah mendekati dhuhur. 2 anakku sudah tertidur lelap. Begitulah yg kubiasakan untuk sang kakak Syahla. Pulang sekolah,cuci kaki,ganti baju,mengerjakan PR,makan siang dan minum susu lalu istirahat siang. Ketika aku sedang asyik membaca terdengar suara tukang ikan. Aku baru teringat kalau kemarin aku pesan tulang sumsum untuk si adik ghozy yang sedang menjalani terapi akibat dampak dari radang otak. Krn sangat terik tiba-tiba aku terhuyung dan kucari bongkahan batu sisa bahan bangunan rumah kami. Entah knp tiba-tiba aku nyeletuk, “Abang tahu obat flu berat itu apa ? Udah sy istirahat full,minum madu,habatussauda,kunyit,kencur batuk pilek sy kok blom baik2”.

“Flu itu sembuh sendiri tuh bu”, jawabnya santai.

“Iya sih bang, dulu sampai sy divonis ngidap TBC kelenjar, udah habis antibiotik segebok tak baik2, krn dah bosen minum obat,sy biarkan sj,dan sy hanya istirahat total,banyak makan buah dan sayur. Alhamdulillah hilang semua benjolan sy dileher dan sekitar telinga. Dan batuk sy jg berhenti sendiri”, ceritaku panjang lebar sambil sedikit dongkol dg dokter yg kadang aku gak percaya dg penyakit yg divoniskannya.

Abang tukang ikan itupun hanya tersenyum tipis. Setelah aku duduk, si abang bertanya, “kemarin yg datang anggota kajian ibu ya ?”

“Iya bang, rumahnya di daerah kota mrk,mpe malu sy dijenguk krn sdh 1 bln gak nongol sakit semua,” aku bercerita sekenanya. Karena tiap hari kerumah, si abang ini pun sudah akrab dg ku. Ya akupun jg begitu orgnya. Senya-senyum kalau ketemu orang…heheh…cuman kalau sdh digarai…hmm…keluar dah taring galaknya.

“Ibu orang PKS ya ?” Tiba-tiba si abang nyeletuk.

Aku pun hanya tersenyum tipis. Ah langsung terlabel begitu.

“Saya memang tercatat di sana bang,cuman kalau sy ngisi kajian sy tdk pernah ngajak orang ke PKS,” aku pun jg nyeletuk tak mau kalah seru.

“Iya lah bu, partai kan hanya alat,” si abang menjawab dg ringan.

Dalam hati sy membatin, “Sepertinya ia orang yang faham.” Akupun langsung memberondong pertanyaan, “Lah abang aktif di JT ya?”

Aku main tebak saja karena banyak pedagang disini yg ikut kajian Jama’ah Tabligh.

“Nggak bu, sy sebenere juga sering diundang ngisi wirid (semacam yasinan),ngisi ceramahnya,kalau pas lebaran ‘Id sy kadang juga disuruh ceramah”,dia bercerita sambil menarik dorongan tempat jualan ikannya.

“Hmm…” hanya itu yg bs kuucapkan. Seperti hal yang tak pernah kuduga, laki-laki pendek berbaju lusuh yg tak pernah ganti bajunya ktk jualan,sambil mendorong beko tempatnya jualan ikan,berkulit hitam dengan rambut kriting kumal keturunan bermarga batak itu sangat mengejutkan.

“Abang dulu dari pesantren ?” Aku masih penasaran.

“Nggak bu, sy dulu sempat di UISU (Universitas Islam Sumatera Utara). Cuman gak lulus,” dia bercerita nyantai. Aku langsung terdongak.

“Kok bs begitu bang ?” Mulutku terus mencecar pertanyaan.

“Ya gimana bu, waktu itu mau KKN. Trus berbenturan dengan pekerjaan. Waktu itu sy disuruh milih, milih kuliah apa milih kerja ama bos sy. Akhirnya kalau milih kuliah apa yg sy pakai untuk biaya. Ya…sy tinggalkan sj demi mencari penghasilan untuk hidup.

Aku hanya bs manggut-manggut dan merasa sedih. Begitu banyak orang cerdas dari kalangan tak mampu namun tak bs mengenyam indahnya perguruan tinggi hingga sarjana, apalagi untuk S2 atau S3.

“Ah sayang kali ya bang…udah mau kelarpun,” mau gak mau aku berkomentar sedih.

“Ya gimana lg bu,” jawabnya pasrah.

“Cuman gelar juga tak menjamin hidup seseorang bang,” aku berusaha menghibur.

“Betul-itu bu,cuman gelar sekarang dipakai senjata untuk dapat pekerjaan lebih layak,” jawabnya tabah.

“Iya,” hanya itu yg bs kumenimpali.

Mentari semakin terik, entah kenapa si abang enggan untuk pergi. Sedangkan aku masih penasaran dengan sosoknya yg rupanya juga seorang da’I. Aku pun terus nyerocos melempar banyak pertanyaan,berusaha untuk mengajak diskusi tentang problem yang sangat mendasar di umat Islam.

“Memanglah benar bu,masyarakat ini Islam tapi tidak tahu tentang keislamannya,”tiba-tiba ia sudah bersuara sebelum ditanya.

“Wah memang betul-bang…” Jawabku.

“Seperti yg ibu bilang tadi,untuk sholat aja masih berantakan.” Dia masih terus bercerita menanggapi ceritaku tentang ibu-ibu yang kubina ngaji sholatnya masih berantakan. Kalau jama’ah masih lowong2 dan tak mau mepet, padahal kalau lowong ditempati syaithon.

“Cobalah kita lihat habluminallahnya aja kayak githu,knp bahas yg hablu minannas. Pasti juga berantakan,” dia masih melanjutkan.

“Begini bang…pokok permasalahannya itu adalah banyak ulama yg tidak mau menyampaikan urusan syari’at 1, yaitu urusan Syahadatain. Padahal disitulah pangkal permasalahan dan tonggak solusi problem umat ini. Cobalah abang lihat, abang pernah mendengar ustadz membahas tentang syahadatain ? Mereka menyembunyikannya bang,takut dituduh teroris,takut dituduh melawan negara,” aku berusaha mendudukkan masalah. Si abang tukang ikan pun menggeleng dan manggut-manggut.

“Nah itu dia bu, ustadz itu takut. Termasuk sy jg bingung gimana menyampaikannya. Padahal memang islam demikian. Cemana kalau tidak kita sampaikan, pastilah kita yg akan diseret duluan ke neraka,”timpalnya antusias.

“Nah itulah, abang sudah ngerti. Mau tak mau kalau kita sudah Islam, kan arti Islam itu tunduk kan bang, berarti tunduk pd apa yg diperintah yg dinamkan syari’at Allah dan apa yg dilarang Allah kan bang…dan berarti sistem yang harus kita pakai adalah sistem Allah bukan sistem undang2 manusia. Dan jihad itu bukan terorisme kan bang…itu kan perintah Allah yg banyak disebut dalam al qur’an kan ?” Aku memberondong banyak hal untuk ku doktrinkan. Kupikir, walau dia seorang tukang ikan, namun ia mempunyai cara berpikir luas dan pemahaman yang perlu diluruskan sesuai al qur’an dan assunnah.

“Iya memang begitu ya bu,” ia menimpali dg manggut-manggut.

“Banyak diantara kaum muslimin yg tidak tahu konsekuensi dari syahadahnya, tidak tahu pentingnya syahadahnya, banyak yang tidak tahu apa yg membatalkan syahadahnya. Musyrik itukan membatalkan syahadah dan musyrik itu kan tidak hanya pergi ke dukun sj kan bang…ketika kita sudah tidak berhukum sesuai dg al qur’an dan assunnah berarti itu kan sudah musyrik kan bang…berarti itu kan sudah menduakan Allah dg manusia.” Aku masih sangat semangat mendoktrin si abang yg serius mendengarkan. Walau kepalaku cemot2 kepanasan dan menahan ingus yg gak mau keluar sendiri jk tak dikeluarkan,rasa pening dan berat kepalaku seakan hilang begitu sj.

“Wah betul-itu bu,” si abang manggut-manggut setuju.

“Jadi abang kalau ngisi kajian,katakan apa yg dikatakan al qur’an dan sunnah. Biar sj mereka menuduh,biar sj mereka menjauh, katakan ini kata qur’an kalau mau ikut ayo, kalau ndak ya tidak apa2. Kita kan hanya menyeru,” tegasku.

“Iya..ya bu,” dia terlihat semangat.

“Abang masih ingat perang badar kan ? 100 orang islam mengalahkan 1000 orang kafir. Kita tak butuh banyak pengkut kok bang,tapi kita butuh orang2 yang beriman dg segenap keikhlasannya. Karena hanya dg keikhlasan syaithon tak bs mengalahkan manusia,” sambungku.

“Iyalah bu, banyak kalau jadi buih untuk apa,” ia pun menimpali dan aku hanya tersenyum tipis.

Dan tak terasa kepalaku benar2 sangat berat. Dan sepertinya si abang tukang ikan tahu aku sedang menahan sakit. Diapun berpamitan pergi sambil mendorong bekonya.

“Ah pakaiannya sangat lusuh,jelek orangnya cuman gak tahunya ia orang yg agak faham dan seorang da’I. Pantas saja suami sering bilang abang itu sering sholat jum’at di masjid komplek sambil bawa bekonya. Tidak malu dan nyantai saja. Terkadang penampilan menipu,”hatiku nyerocos sendiri sambil memasuki rumah. Gelap. Rupanya panas di luar membuatku tak bs melihat ketika masuk ruangan. Dan pelan-pelan pendar isi ruangan mulai terlihat.siang yg menakjubkan. *az ^_^

Tanah Perantauan, 30 September 2011

**********************

Ya penampilan kadang menipu, untuk itu jangan pernah menilai,menghukumi seseorang sebelum benar-benar tahu watak dan tabi’atnya serta pemahamannya. Krn terkadang kita akan dibuat tercengang-cengang oleh sosok yang mungkin kita anggap remeh namun tidak tahunya lebih “BERISI” dari kita. Jalinlah ukhuwah dg siapa saja,berkomunikasilah dg siapa sj,dapatkan ilmu dari siapa saja. Krn setiap orang yang didatangkan oleh allah untuk menemui kita itu pasti membawa pelajaran berharga yang tidak disangka-sangka. Untuk itu jangan sampai menyepelekannya.

***********************

~*» Tawuran Kaum Intelektualitas «*~

Posted: 13 Oktober 2011 in Opini

 

Ada bunyi kata-kata bijak begini “Perbuatan orang berilmu itu sungguh berbeda dg orang yg tdk berilmu,orang berilmu sll berhitung dlm setiap keputusan,sikap dan tindakannya”

 

Kaum intelektual selalu dikonotasikan dg org yg sekolah. Sedangkan sekolah adalah tempat dilaksanakannya tempat pendidikan untuk mencetak generasi intelek alias melek ilmu pengetahuan dan berwawasan. Produk yg dihasilkan seharusnya sebuah pribadi yang menjunjung tinggi sebuah adab,karena itulah konsekuensi dari orang intelek. Tanda intelektualitas itu adalah munculnya sebuah peradaban atau tatanan hidup yang baik,yang mengatur humanisme kemanusiaan dan lingkungannya.

 

Ketika dalam sebuah komunitas manusia terdapat orang-orang yang intelek dipastikan komunitas itu mempunyai sistem hidup yang lebih baik,yang mempengaruhi wilayah pergerakan hidup mereka. Pastilah ada tatanan-tatanan baru yang dimunculkan dalam komunitas itu sebagai efek perubahaman menuju sebuah komunitas yang beradab. Dan ini adalah telah menjadi hukum alam. Karena,manusia semakin berilmu maka semakin cerdas akalnya. Sehingga manusia mampu mewujudkan tatanan hidup yang bersinergi dan berkesinambungan.

 

Semakin banyak komunitas-komunitas, semakin banyak fasilitas-fasilitas pendidikan seharusnya yang terlihat adalah sebuah keteraturan hidup yg humanis. Semakin teraplikasikannya teori-teori keadilan dan dan kesejahteraan yang mereka kuasai.

 

Lalu pertanyaannya adalah kenapa yang kita saksikan dinegeri ini sungguh berbeda ? Dari apa yg saya paparkan di atas ?

 

Apakah negeri ini tidak mempunyai sebuah komunitas intelektual ? Apakah negeri ini tidak mempunyai fasilitas2 pendidikan ? Padahal jika kita lihat, sekolah bertabur dimana-mana,kampus-kampus berdiri megah dg segala fasilitasnya,lembaga2 konseling,pelatihan,penyaluran bakat bertabur dimana-mana. Bahkan negeri ini mempunyai sebuah sistem pendidikan yg dikelola dibawah naungan departemen negara. Lalu kenapa produk yang dihasilkan bukan kaum intelektual yang membangun sebuah humanitas kehidupan ? Kenapa produk yang dihasilkan adalah manusia yang selalu melanggar sebuah aturan tatanan sosial ? Adakah yg salah di negeri ini ?

 

Baiklah…pada dasarnya kita semua tahu. Sistem negeri kita telah mengadopsi sistem usang peninggalan masa kolonialis freemansonry. Hukum ketatanegaraan,undang-undang yang mengatur segala aspek kehidupan rakyat negeri ini semua mengadopsi sebuah sistem bobrok yg diambil dari generasi tar-tar berwatak hewan rimba.sistem yang dianut adalah hukum2 freemasonry yg dipetik satu persatu dari kitab genggiskhan si raja tar-tar yg beringas. Itulah kenapa dalam sistem yg diadobsi negeri ini terselip sebuah sistem rimba. Siapa yg menang dia yang berkuasa dan mengatur dg semena-mena demi ambisi nafsu dlm hidupnya.pada dasarnya sistem,terutama sistem pendidikan yg dianut sungguh jauh dari kebutuhan fitrah pendidikan setiap generasi muda. Ada yg dipisahkan dan dihapuskan secara sengaja.

 

Pemisahan yang saya maksud adalah sebuah pemisahan doktrin agama dg dengan doktrin politik pemerintahan,politik kekusaan dan doktrin politik umat. Sistem itu berusaha memasang dinding pembatas terhadap wilayah agama yang tidak boleh menyentuh wilayah sistem kehidupan. Sistem itu memaksakan diri untuk mengalahkan sistem penguasa alam. Ini sungguh terlihat jelas. Bagaimana tidak,semua manusia pastilah tahu hukum siapa yang harus berlaku didunia ini. Hukum Tuhanlah jawabannya. Dan siapa Dia ? Allahlah jawabannya. Sehingga hukum yg harus diterapkan dan diadobsi manusia pastilah HARUS HUKUM ALLAH BUKAN HUKUM DEMOKRASI PENINGGALAN KOLONIALIS FREEMANSONRY TAR TAR. 

Kaum kolonialis atheis pd dasarnya mereka, hanya ingin memancangkan ambisi manusia. Sedangkan ambisi manusia itu hanya lebih condong pd sifat kehewanannya. Jika ini menguasai diri manusia yang muncul adalah sifat beringas yang terangkum dalam hukum rimba.

 

Jadi wajar jika kita melihat produk lembaga pencetak intelektualitas pekerjaannya hanya tawuran. tawuran sekolah A dengan sekolah B. tawuran antara fakultas A dan fakultas B. dan itu muncul di media elektronik dan cetak setiap hari. menghiasi bacaan warga negara yang katanya penganut kedamaian dan menjunjung tinggi moralitas. namun apa kenyataannya ? HINGGA KE GEDUNG DPR PUN YANG KITA LIHAT ADALAH TAWURAN ANTAR ANGGOTA PARLEMEN. LEMPAR MIC…GEBREK MEJA,CAKAP KOTOR. DAN YANG PALING MENYEDIHKAN ADALAH SALING SERANG UNTUK MEMANCANGKAN AMBISI KEKUASAAN YANG INGIN DIRENGKUHNYA.

 

lalu masih berlakukah kata bijak di atas ? ORANG BERILMU ITU SUNGGUH BERBEDA DENGAN ORANG TAK BERILMU. Siswa-siswa sekolah itu apakah mereka tak tahu ilmu ? apakah mereka tidak diajari moralitas ? mahasiswa itu apakah mereka kaum pedalaman yang baru kenal perkotaan ? dan apakah para penghuni parlemen megah itu warga kampungan yang tak bisa mengenyam pendidikan ? jawabannya mereka semua adalah kaum intelektual dengan segudang ilmu pengetahuan, segudang wawasan dan segudang tata moralitas telah mereka pelajari dibangku lembaga pendidikan mereka masin-masing.

 

sekarang mari kita lihat produk pendidikan yang dikelola oleh departemen agama, dan dikelola swasta yang bernama pesantren. satu pertanyaan saja, KENAPA PRODUK DARI LEMBAGA PENDIDIKAN DIBAWAH NAUNGAN DEPARTEMEN AGAMA DAN LEMBAGA PENDIDIKAN SWASTA BERNAMA PESANTREN SUNGGUH SANGAT BERBEDA DENGAN PRODUK YANG DIKELOLA OLEH DINAS PENDIDIKAN ? KENAPA JIWA INTELEKTUALITAS MEREKA SUNGGUH BERBEDA ? KENAPA AKHLAK MORALITAS MEREKA SUNGGUH BERBEDA ?

 

SATU KATA SAJA YANG MENJADI KUNCI JAWABAN, LEMBAGA PENDIDIKAN YANG DIKELOLA DEPARTEMEN AGAMA DAN LEMBAGA PENDIDIKAN YANG DIKELOLA SWASTA MEMPUNYAI SISTEM PENDIDIKAN YANG LEBIH MENDEKATI SEMPURNA. MEREKA MENGENALKAN AGAMA SEBAGAI SISTEM KEHIDUPAN. SEHINGGA DALAM SISTEM PENDIDIKAN MEREKA, PELAJARAN YANG DIUTAMAKAN ADALAM PELAJARAN AGAMA.KARENA HANYA DENGAN ATURAN AGAMA ISLAMLAH KEHIDUPAN INI BISA TERATUR DAN SEIMBANG, ADIL DAN SEJAHTERA. TANPA ADA YANG TERDHOLIMI. KARENA SATU-SATUNYA SISTEM KEHIDUPAN YANG COCOK DAN SANGAT SESUAI DENGAN MANUSIA ADALAH SISTEM ISLAM YANG BERDASARKAN AL QUR’AN DAN ASSUNNAH.

 

sedangkan yang kita lihat di lembaga pendidikan nasional yang dibawah naungan dinas pendidikan semua menganut sistem yang menjauhkan generasi dari agamanya. kapasitas pelajaran agama sungguh sangat minim. jika ada produk lembaga pendidikan nasional dibwah dinas pendidikan itu baik dan berakhlak serta bermoral tinggi, kita bisa lihat..mereka dipastikan telah mengikuti kajian-kajian keislaman di luar pelajaran bangku sekolah maupun bangku kuliah mereka. pastilah mereka telah masuk dalam lembaga pergerakan yang menanamkan moralitas, akhlak dan keimanan terhadap individu pengikutnya. jika produk lebaga pendidikan dibawah dinas pendidikan tidak mengikuti kajian atau mengikuti kelompok pergerakan islam, sudah dipastikan mereka akan mempunyai moralitas rendah. akhlak rendah sehingga yang mereka tampakkan adalah sebuah pergulatan fisik,kekerasan,penganiayaan serta penindasan hak orang lain. kita akan melihat generasi yang sangat dholim dan terhina dengan perilaku beringas mereka. baik dari kalangan siswa, mahasiswa maupun mereka yang telah duduk di kursi parlemen.wallahu’alam bishowab.*az