-*- What Meaning of Ta’aruf ? -*-

Posted: 6 April 2011 in Pernikahan

Ana masih teringat suami ana ketika mengajukan pertanyaan ini “Ini ta’arufnya yang biasa atau yang khusus maunya ?” gubrags….deh…ana bener-bener manyun membaca tulisan itu. apa maksudnya coba.

Ana yang waktu itu benar-benar polos dengan pemahaman Islam yang radikal begitu orang bilang (heheh masih asli githu loh…jgn keki dulu) sempat tersinggung dengan pertanyaan itu, dimana apa ikhwan ini hanya ngetes saja. karena masak sih para generasi dakwah ini, para aktivis ini tidak tahu apa makna ta’aruf itu. bukankah ketika kita mempelajari tentang ukhuwah Islamiyah tahapan pertama adalah ta’aruf ? seperti yang tercantum dalam Surat Al Hujurat : 13

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-sku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”

nah ada sebuah kewajiban diantara sesama muslim dimana ketika bertemu dengan seseorang yang muslim itu untuk berta’aruf (saling mengenal) ini adalah tahapan awal dari sebuah ukhuwah Islamiyah. ta’aruf ini meliputi siapa nama, dimana tinggal, dan hal-hal lain yang perlu untuk ditanyakan dengan tujuan suatu saat kita bisa mencarinya lagi. ta’aruf disini tak hanya sekedar berkenalan dan kemudian  ditinggalkan begitu saja. bukan ini yang dimaksud Islam. bukan ini rasa ukhuwah itu. namun sebuah kegiatan berkelanjutan. keistiqamahan ukhuwah.

dalam bahasa kita Ukhuwah itu lebih condong pada kata “PERSAHABATAN”. dimana dalam persahabatan tak ada pamrih dalam menjalankannya. diri kita hanya ingin berguna bagi yang lain saja. menjadi generasi itsar (berkorban) demi saudaranya. inilah sebenarnya hakikat ukhuwah. namun diperkuat dg aqidah. ia tak mengenal siapa, dari mana, apa derajatnya, hanya satu takarannya ketika satu aqidah maka muncullah tali ukhuwah.

karena tahapan berikutnya adalah TAFAHUM (saling memahami). tahapan ini akan bisa terjalin dimana kita menyambung tali ta’aruf tadi. dengan bersilaturahim kembali maka ada sebuah kelanjutan pertanyaan2 yg kita sodorkan. dr sini kita akan memahami siapa yg diajak berukhuwah. dari dialog-dialog kita akan tahu bagaimana sifat dan karakter seseorang dan kita akan belajar memahami apa yang menjadi kekurangan dan kelebihannya. kita akan tahu bagaimana menyikapinya sehingga mempersempit konflik. inilah yang dimaksud TASAMUH (saling toleransi).

Tasamuh menjadi bekal untuk saling ber-TA’AWUN (berkerja sama). dalam sebuah dakwah relasi itu juga diperlukan. apalagi dalam kehidupan dunia. ketika seseorang sudah pandai dalam mengerti orang lain maka ia akan sangat mudah menjalin kerjasama itu. kerjasama yang dijalin adalah sebuah penyatuan berbagai pendapat antara keduanya, penyatuan berbagai perbedaan hal diantara keduanya untuk menuju sebuah satu kesatuan tujuan dan jalan. walau hasilnya beda namun tetap satu misi dan visi.

Sehingga ketika keduanya telah mencapai taraf ini maka dia akan mempunyai sebuah jiwa TAKAFUL (Saling memberi) inilah tahapan tertinggi sebuah ukhuwah. saling berguna bagi satu diantara lainnya. Tanpa Pamrih yang ana sebut di atas. teruslah menabur cinta tanpa mengharapkan balasannya karena itulah cinta sejati karena Allah semata. cinta untuk saling menguatkan aqidah yang diyakini dan diamalkan serta diucapkan. saling menguatkan dalam amar ma’ruh nahi munkar. disinilah takaful itu berperan. yang diharapkan hanya ridlo Allah semata tak ada yang lain.

kembali ke pembahasan Ta’ruf tadi. nah ilmu inilah yang ana fahami waktu itu. ana benar-benar terkejut apa sebenarnya yang telah terjadi pada ikhwan ini. apakah dia belum faham tentang makna ta’ruf dalam ukhuwah Islamiyah atau ada faham lain yang ana belum faham.

karena ana tetep kekeh pada faham ana tentang ta’aruf adalah tahapan awal ukhuwah maka jawaban ana waktu itu adalah “ya terserah antumlah…apa yang antum tangkap tentang makna ta’ruf yang ana sebut. kalau gak mau jujur ttg diri antum ya sudah. toh yang ngajak kenalan dulu sapa” heheh galak juga ya ana…wedewwww…maklum itu sudah karakter gak bisa dirubah mpe sekarang…heu…heu…mawar berduri kata ikhwan…duh jelek banget julukannya…tapi gpp..heheh…

dan apa jawab suami waktu itu “berarti ini dilanjut pada ta’ruf khusus”. ana masih penasaran apa sih maksud dari kalimat ini.

ana pun bertanya, “afwan sebenarnya apasih defenisi antum tentang makna ta’aruf yg antum sampaikan pada ana ?”

dia pun menjawab, “maksudnya begini ukhty : ta’aruf biasa adalah ta’ruf yang hanya perkenalan biasa ya teman biasa maksudnya, trus ta’aruf khusus adalah sebuah perkenalan menuju pernikahan” gubrag dah…ditembak langsung ini ceritanya…haha…diem seribu bahasa deh.

“sejak kapan antum memahami ta’ruf seperti itu”, ana masih belum terima. “udah deh maunya bagaimana ?” desak suami waktu itu. wedewww…ngajak nikah kayak ngajak belanja….hohoho….

“duh tafadhol nt lah…sungguh dangkal itu makna yg antum fahami…kagak usah dimasalhin lagi, mau kenal situ gak mau ya sudah….ana cuman suka orang jujur..ketika ana ngasih info jelas tentang ana maka kewajiban saudaranya adalah mengimbangi kejujuran itu bukan ngumpet-ngumpetin informasi”, ana pun mengakhiri.

“Ok-lah berarti kalau terserah ana ini ta’aruf khusus dengan artian menuju ke 1/2 dien” glodag. offline kagak bs dibalas lg…huwahaha…nyebelin deh pokoknya…kik…kik…

hari berikutnya ana disuruhnya mengirim biodata…ana biarin saja tuh email, minta fhoto segala. kenal aja kagak. gara-gara sebuah diskusi berujung hal aneh seumur hidup. ana pikir itu hanyalah sebuah keisengan..ternyata suami waktu terus memburu. namun ana tetep diam saja dan akhirnya suami mengirim biodata dan fhoto ke ana…lemes dah….haha

akhirnya ana berpikir seribu kali lebih bingung….sudah berapakah ini proposal…sudah berapakah yang mengajak nikah…ana lo waktu itu masih berumur 18-19 th…baru kuliah….*masih mekar-mekarnya kata orang..huhu..* anak kumprit alias masih kecil githu loh…sok tua aja kali…karena hidup penuh perjuangan…atau wajahnya yang tua…haha..geli deh…

langsung deh ke Mas ana waktu itu. dan apa jawab Mas ana, “kalau dia serius suruh datang kemari” wewww….apa-apaan ini maksudnya. akhirnya kayak yang dibilang Bondan Prakoso “Ya sudahlah….” ihik…setelah satu bulan ana biarkan tuh email akhirnya ana jawab juga dengan jawaban Mas ana. wee…ndak tahunya nih ikhwan bener2 ke rumah….

ckckckck… Bogor-Blitar sungguh jarak yang amat jauh….pernah ke Blitar saja nggak. apalagi harus menjadi mutiara dalam sekam…*jiahh sok mutiara lagi padahal emas perak pun nggak*

akhirnya ketemu pun hanya senyum-senyum saja…lawong kagak kenal…haha…diserahin deh ama mas ana untuk diinterogasi…..dan ibu bapak udah jatuh cinta pada pandangan pertama…ana ajukan ikhwan lain pun tak diterimanya…huhu…jodoh-jodoh gak kemana…dicari kagak ketemu…kagak dicari datang sendiri. akhirnya khitbahpun diucapkan. dan akhirnya baru berta’aruf dan baru tahu sapa tuh orang….hohoho…

hmmm…sudah keras perut baca cerita ana…haha…

nah ikhwah filahh…rupanya makna itu telah mengalami pergeseran. dimana ta’aruf sudah tak lagi bermakna saling kenal dalam kontek seumur hidup namun telah dibatasi pada perkenalan akhwat ikhwan menuju pernikahan. sehingga ketika kita berbicara masalah ta’aruf opini yang ada dalam otak kita adalah ta’aruf  ke pernikahan.

dan ini sangat berbeda sekali. kenapa berbeda. ta’aruf  yang sebenarnya adalah kegiatan perkenalan yang menyangkut seseorang dan ini boleh dilakukan kepada siapapun. sedangkan ta’ruf dalam pernikahan ini adalaah ta’aruf setelah proses khitbah (melamar) dan ini bukan pacaran Islami karena disini ada adab-adab yang harus dilalui dimana harus ditemani oleh famili diantara keduanya. ada batasan-batasan yang dicantumkan dalam Al qur’an dalam pergaulan Islam. sebelum akad tetaplah hijab itu terjaga. entah hijab tubuh maupun hijab segala hal. hanya urusan karakter kepribadian saja yg dishare ditahapan ini.

sehingga sangat jelas bedanya. ketika ta’aruf (saling mengenal) itu tak ada bekal yang harus dipersiapkan. namun ketika ta’aruf (tahapan pernikahan) ada beberapa hal yang harus dipersiapkan. ia butuh ilmu untuk menjalaninya, ia butuh maisyah untuk mewujudkannya, ia butuh kafa’ah dalam menjalankannya. butuh mental dan jiwa memimpin dan dipimpin. semua harus dipersiapkan dalam ta’aruf pernikahan ini. jangan hanya main ta’aruf tanpa punya modalnya.

“ana ingin ngetake agar tak diambil orang”, ada beberapa ikhwan pernah berkata pada ana…gubrag…. ini hal yang sangat salah dan tindakan dholim. JANGAN SEKALI-KALI MENGGANTUNGKAN PERASAAN SESEORANG YANG TIDAK JELAS KEPUTUSANNYA. TERUTAMA PERASAAN AKHWAT. INI SANGAT MENYAKITKAN DAN TINDAKAN DHOLIM. MUNGKIN INI WARNING KEPADA PARA IKHWAN. DIMANA BILA BELUM CUKUP SEGALANYA, LEBIH BAIK JANGAN DIUNGKAPKAN PERASAANNYA KEPADA YANG BERSANGKUTAN AGAR AKHWAT TIDAK BERIMAJINASI TENTANG KEINDAHAN DAN KEBAHAGIAAN BERUMAH TANGGA. KEBAHAGIAAN BERSAMA DENGAN SEORANG IKHWAN IDAMANNYA. KEINDAHAN KETIKA BISA HIDUP DENGAN PASANGAN YANG BISA SEMISI DAN SEVISI. DINTAR DAN DIJEMPUT OLEH SUAMI.

karena ketika cinta bertaut akan terbayang semua keindahan itu. dan sangat menyedihkan bila cinta itu tak terealisasi dalam pernikahan yang halal karena tanpa sebuah akad cinta itu terbatas realisasinya, tak bisa menyeluruh. KARENA TERBATAS PADA ADAB DAN SYARI’AH. TOLONG DICAMKAN ITU…DIINGET…INGET….AGAR TAK ADA LUKA MAKA HATI-HATILAH DALAM MENGELOLA PERASAAN. INGAT CINTA TAK AKAN PERNAH SALAH TAPI YANG PUNYA CINTA ITU YANG AKAN SALAH BILA SALAH MENARUHNYA. UNTUK ITU BUTUH ISTIKHARAH DALAM MENGAWALI SEBUAH PERCINTAAN. TAK MAIN RASA SAJA. TANYAKAN DULU PADA ALLAH BENAR ATAU TIDAK. UNTUK ITU SEKALI LAGI TAHAN PERASAAN ITU, JANGAN DIUCAPKAN.

INGATLAH JIKA JODOH TAK AKAN KEMANA, JIKA CINTA TAK AKAN MENGHIANATINYA.SEMUA SUDAH DIATUR. JIKA IA TERBAIK PASTI AKAN BESAMA DENGAN KITA, NAMUN DIKALA HANYA MEMBAWA CELAKA MAKA PASTI ALLAH AKAN MENJAUHKANNYA. KUATKAN IMANMU. PERCAYALAH PADA QADHA DAN QODAR ALLAH ITU TERBAIK BAGIMU

itu saja ya ikhwah fillah….ini ana tulis sebagai jawaban akhwat2 yang menanyakan apasih sebenarnya ta’aruf itu. dan kepada ikhwan yang bertanya kenapa kok ketika ngajak ta’aruf diidentikkan kepada pernikahan. JANGAN SUKA MENJENERALISIR ISTILAH. KEMBALIKAN PADA MAKNA SEBENARNYA AGAR TIDAK SALAH ARTIDAN MAKNANYA…semoga barokah….*az

Bumi Allah, 8 Juni 2010
setitik pengalaman dariku : -*- IMATUZZAHRA AL HURUN’IN -*-

Komentar
  1. umfaristi mengatakan:

    🙂 jadi begitu, dulu awal kenalannya? hehe.. jadi tahu. blitar-bogor lumayan sih. Salut buat masnya… niat tenan… hehe. Pantes kalau ortu bu Ima jatuh hati… btw kehidupan ikhwan-akhwat kan emang terpisah, bu Ima. Kalau ta’ruf dipahami sebagai ‘just’ kenalan, cukup tahu dengan siapa dia berbicara, tak masalah, kan? Tapi untuk tahu nama lengkapnya siapa, alamatnya mana, nomer hp berapa, hobinya apa… tentu tidak pada tempatnya. Untuk apa? sekadar tahu? hehe… justru kalau bukan muhrim, nggak usahlah tahu, nanti bisa ‘terpeleset’. Awalnya ‘just’ tahu, sehingga bisa silaturahim… Silaturahim, dengan yg bukan muhrim? hehehe… yg bener aja. Jangan pula dibalut dengan istilah ukhuwah islamiyah. Ukhuwah ya ukhuwah, tapi tak perlu, kan sampai ada ikhwan nelpon partner dakwahnya di kampus dan bertanya, ” Ukhti, sudah makan?” hehe… Jadi, ta’aruf mungkin dimaknai berbeda oleh beberapa orang. Hanya saja, yang jelas, dan ini harus sama, yaitu bahwa kehidupan laki-laki dan perempuan dalam islam itu terpisah sama sekali. Tidak ada ikhtilath, kecuali pada kasus-kasus yang diperbolehkan dalam agama. Terpisahnya juga bukan hanya secara fisik, tapi juga non fisik. Jadi ketika sudah dimaklumi bahwa tidak boleh akwat ‘ngobrol’ ngalor ngidul, guyon2 sama ikhwan secara fisik, secara non fisik pun juga tetap tidak boleh. Misalnya di dunia maya. Di dunia nyata banyak ikwan akhwat yang sudah bagus menjaga pergaulan. Di dunia maya? batas-batas pergaulan seolah dilupakan. Makanya, agar tidak ‘terpeleset’, lebih aman jika dari awal ‘rambu-rambu’ pergaulan sudah dijaga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s