*-*-*- PERMATA HATI DALAM KELUARGA, AMANAH TERINDAH YANG HARUS DIJAGA -*-*-*

Posted: 25 Mei 2010 in Pendidikan

* Jika Anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki

* Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi

* Jika anak dibesarkan dengan ketakutan,ia belajar gelisah

* Jika anak dibesarkan dengan rasa iba, ia belajar menyesali diri

* Jika anak dibesarkan dengan olok-olok, ia belajar rendah diri

* Jika anak dibesarkan dengan iri hati, ia belajar kedengkian

* Jika anak dibesarkan dengan dipermalukan, ia belajar merasa bersalah

* Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri

* Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri

* Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia abelajar menghargai

* Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, ia belajar mencintai

* Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar mengenali tujuan

* Jika anak dibesarkan dengan rasa berbagi,ia belajar kedermawanan

* Jika anak dibesarkan dengan kejujuran dan keterbukaan, ia belajar kebenaran dan keadilan

* Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan

* Jika anak dibesarkan dengan persahabatan, ia menemukan cinta dalam kehidupan

* Jika anak dibesarkan dengan ketenteraman, ia belajar berdamai dengan pikiran

(Dorothy Law Notle)

Anak adalah anugerah terindah dalam hidup ini. Ia adalah amal yang akan kita tinggal didunia. Karena satu diantara amalan yang tak akan terputus di dunia ini adalah anak yang sholih dan sholihah. Namun anak sekaligus permata dalam keluarga, yaitu sebuah amanah yang harus dijaga.

Penanaman aqidah yang benar dalam diri anak akan membuahkan akhlak yang baik dalam kehidupannya. Karena buah dari keimanan yang baik adalah akhlakul karimah (Akhlak yang Mulia).

Tanamkan pemahaman Islam yang benar yang sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Jauhkan ia dari budaya hedonis barat yang telah menyerang umat muslim dunia. Bekali dia dengan syahsyiyah Islam (pemahaman ilmu keislam) yang benar agar ia bisa menakar mana yang sesuai dengan syariat dan mana yang hanya keabu-abuan atau kemungkaran. Jauhkan dia dari Ghoswul Fikri (Perang pemikiran) yang telah ditancapkan kaum kapitalis melalui tiga sarana (F3) : Fan (Hiburan), Food (Makanan), Facion (Pakaian atau cara berbusana atau tata cara bergaya)

Ajari anak dengan hiburan yang benar, kenalkan budaya Islam yang sesuai dengan syariat’nya. Kenalkan pada syair dan lagu serta music yang benar, yang dihalalkan oleh Islam, yang bisa menumbuhkan ghiroh juangnya untuk tertegaknya Islam,kenalkan pada ilmu dan teknologi yang benar agar ia bisa memakainya untuk kejayaan Islam tak sekedar untuk memenuhi nafsunya.

Ajari mencari dan memakan yang toyyib (baik) dan halal agar ia tak tercampuri barang haram dari proses mencari dan memakannya. Sehingga kesholihannya terjaga dari barang haram yang tak disangka-sangka. Karena makanan akan
membentuk tubuh manusia. Jika bahan pembentuk susunannya toyyib dan halal maka hasilnya pun akan toyyib dan halal, yaitu sebuah tubuh yang mencerminkan kesholihan dan terus bercahaya dimanapun ia berada.

Ajari anak untuk berpakaian sesuai Syari’atnya. Kenalkanlah pakaian yang bisa menutup auratnya. Bila laki-laki antara pusar dan lututnya…dan bila wanita seluruh tubuhnya kecuali telapak tangan dan mukanya. Biasakan memakai jilbab untuk anak perempuanmu…karena itu akan menjaga kehormatannya dan gampang untuk dikenali. Jilbab itu bukan kerudung namun jilbab itu adalah pakaian longgar yang menutupi seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Kerudung itu khimar yang berarti penutup kepala saja.

Didik ia menjadi pribadi idaman harapan tuhan, didik ia dengan kemandirian dan semangat pengorbanan terhadap agamanya. Agar bilamana Tuhannya menyeru untuk melaksanakan kewajibannya berjuang menegakkan Syari’atNya
ia tak enggan lagi untuk melaksanakannya. Semoga kita semua bisa menjadi orang tua yang bijaksana dan mendidik anak dengan keikhlasan dan kesabaran karena Allah semata.

Mari kita jadikan anak-anak kita seperti Abu Bakar Ashidiq yang teguh kejujuran dan keimanannya, mari kita jadikan anak kita Umar bin Khottob yang tegar dan berani kepada kafir durjana, Mari kita didik anak kita menjadi Ali bin Abi Tholib yang tangkas akan keahlian perangnya, Mari kita didik menjadi Usman bin Affan  yang rela meninggalkan harta kemewahannya demi keimanannya. Mari kita didik menjadi  Khodijah yang selalu setia dengan pengorbanannya dan keteguhan imannya. Mari kita didik menjadi Aisyah yang encer otak dan kepiawaiannya, mari kita didik menjadi Fatimah yang bisa menentramkan suaminya, mari kita didik menjadi Asiyah yang bisa menebar kesabaran atas semua
takdir hidupnya dan mari kita didik seperti Naila yang sangat setia terhadap suaminya.

Jadilah Lukman yang selalu berpesan pada anaknya…

”…..Wahai anakku ! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”

Dan kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik kepada)kedua orang tuannya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah  yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepadak Ku dan kepada Orang Tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduannya di dunia dengan baik, dan ikutilah
jalan orang yang kembali kepadaKu. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beritahu kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

“Wahai anakku ! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, Niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Maha Luas dan Maha teliti.

Wahai anakku ! Dan Laksanakanlah Sholat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara
yang penting.

Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.

Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai” (QS. Lukman : 13-19)

“Dan barang siapa berserah diri kepada Allah, sedangkan dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul (tali) yang kokoh. Hanya kepada Allahlah kesudahan segala urusan (QS. Lukman :
22)

Sedikit goresan mata pena dari seorang *-*-*Imatuzzahra*-*-* yang sedang berusaha dan sedang belajar untuk mejadi bunda penghasil generasi Robbani dalam binaan rumah tangga yang Idiologis…semoga bisa menjadi pembakar yang lainnya untuk menjadi orang tua yang selalu mendidik anak dengan kesholihan sebagai persembahan pada perjuangan menegakkan DienNya di muka bumi ini. Teruslah berkarya dan cetak generasi Rabbani untuk mencapai cita-cita perjuangan ini. Khilafah Rasyidah ‘Ala Minhajul Nubuwwah sebagai tanda janji kita pada kekasih kita Rasulullah SAW. dan Allah SWT.*az

Komentar
  1. andaik pratama mengatakan:

    mudah-mudahan bisa jadi pencerahan buat semua yg baca,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s