I Love You Mom

Posted: 21 Desember 2009 in Diary

Ibu…………

Ibuku oh ibu
Betapa ikhlas kau menyayangiku
Jiwamu tulus memeliharaku
Tiada mengharap balasanku

Ya Allah Tuhanku
Bukakanlah pintu ampunanmu
Curahilah dia dengan rahmatmu
Yang merawatku sejak kecilku

Oh ibu kini kujauh darimu
Ingin kuluruh kepangkuanmu
Rengkuhlah aku dengan do’a malammu
Semoga yang membimbing langkahku

Oh ibu kini air mataku berderai rindu belai kasih sayangmu
Dengan ketulusan hati yang dalam
Maafkanlah anakmu ini…..

Tanggak 22 Desember orang menyebutnya hari ibu. Dan malam ini telah menginjakkan waktu di tanggal ini. Malam kian larut…dingin sangat menyengat kulit. Setes air mata mengalir. Sudah 5 tahun seorang ibu meninggalkanku untuk selamanya. Dan satu hal yang dipesankannya, cepatlah menikah agar engkau ada yang mengurus dan melindungi ketika ibu tiada, dan berbuat baiklah pada kakak-kakakmu.

Hmm………sungguh mengena pesan itu. Sebuah pesan yang sangat asing bagiku. Waktu itu mungkin aku orang yang paling cuek sedunia mengenai sosok laki-laki di hatiku. Namun pesan ibu sungguh aneh, sinyal darimana aku bias cepat menikah. Kenal laki-laki saja bisa dihitung jari. Bahkan sangat malas aku bergaul dengan mereka. Mungkin karena aku sudah didoktrin tentang bagaimana pergaulan laki-laki dan perempuan dalam Islam sehingga aku sangat menjauh dengan makhluk namanya laki-laki agar aku tak tertular virus hati.

Entah kenapa selepas ibu berpesan begitu kehidupanku jadi lain. Tiba-tiba aku sering dikhitbah oleh orang. Aku benar-benar tidak nyaman. Kelimpungan alang kepalang. Apa yang harus kujawab. Langsung menolakkah…rasanya tidak etis, namun bila digantungkan ntar dipikir aku mempermainkan orang. Jika dijawab iya….wah gubrakk, tahu apa aku tentang rumah tangga dan pernikahan. Walau orang sering menyebutku dewasa namun aku merasa masih seperti anak ingusan kemaren sore yang baru mengenal dunia.

Waktu terus berjalan. Ibuku selalu menanyakan sudah atau belum aku menemukan calonku. Dan aku hanya menjawab lemas, “belum”. Kemudian dilanjutnya dengan protesnya, “Yang kemarin sering telepon itu apa bukan pacarmu?”. Gubrak..! pacar ? bukannya dalam Islam tidak ada istilah pacar. Wah ibuku ini memang tidak bisa membedakan. Setiap laki-laki yang berhubungan denganku dikira calonku. Padahal mereka adalah partner dakwah di sekolah atau dikampus. Aku terus memutar otak, siapa yang bisa kuajak diskusi. Akhirnya aku pergi kesebuah warnet. Disebuah webchat aku berdiskusi hebat dengan orang-orang yang sama sekali tak kukenal. Hingga akhirnya ada seorang laki-laki yang berkirim pesan lewat email.
Entah sudah ditakdirkan mungkin aku begitu welcome menerima laki-laki itu. Padahal sekalipun aku belum pernah jumpa. Tiba-tiba aku ditanya, “Yang anti maksud ta’aruf disini apa ta’aruf biasa atau ta’aruf khusus”. Gubrak…emang dalam Islam ada defenisi ta’aruf yang seperti itu. Dalam keadaan puyeng akhirnya aku menyerahkan semua definisi yang ia kehendaki. Dan diakhir pembicaraan dalam chatting dibilang, “Ini ta’aruf khusus (dalam artian perkenalan untuk pernikahan). Orang gila pikirku. Tahu, kenal kagak main tembak saja.

Tak lama dia bilang mau kerumah mengkhitbahku. Jurus nekat ke berapalah ini… mending klo tetangga tahu setiap harinya. Nih baru kenal pula dengan tempat tinggalnya yang jauuuuuuuuhhhhhhh nun disana di ujung pulau barat Jawa alias Jakarta. Hmm…jempolan juga nih laki-laki… berani juga dia… hiks…hiks… akhirnya mau tak mau kukabarkan pada orang tuaku. Betapa senangnya hati ibuku. Padahal sekalipun ibu belum melihat tampangnya,namun ia sangat yakin bahwa ia adalah jodoh yang dikirimkan Allah padaku. Ketika dia sampai dirumah ibukupun langsung jatuh cinta dan aku hanya melongo tak mengerti apa yang akan kukatakan padanya. Bagaimana bisa aku hidup dengan orang yang sama sekali aku tak mengenalinya. Sepertinya berbaris-baris kalimat dalam diskusi itu tak bisa deh jadi cerminan tentang laki-laki ini.

Beberapa bulan setelah kedatangan laki-laki ini ibu selalu mendesak ingin segera menikahkanku. Padahal belum ada secara resmi orang tua laki-laki ini untuk datang ke orang tuaku. Pikiranku tambah ancur tidak tahu apa yang harus kuperbuat. Sudah kusampaikan pada keluarga laki-laki ini agar cepat datang kerumah. Dan aku sangat menghormati keputusannya karena masih menyiapkan segalanya. Hingga akhirnya ibu tiba-tiba sakit struk.

Waktu itu aku sangat takut bila permasalahan nikahku itu menjadi sebab dari struknya ibu. Namun akhirnya kutahu bahwa bukan itu penyebabnya. Ketika ibu mulai membaik dia mulai cerita semuanya bahwa memang ada masalah keluarga dan sebelum sakit ibu sempet kena omongan pedas dari salah satu anaknya. Satu bulan kemudian ibu mulai membaik, namun memperlihatkan tanda yang aneh. Sifatnya berubah total menjadi sangat baik. Yang awalnya gampang sakit hati menjadi sangat mudah memaafkan, awalnya sedikit “pelit” menjadi sedekah terus. Silaturahim yang pernah putus disambungnya. Yang awalnya jarang jamaah ke musholla akhirnya rajin di hampir lima waktunya.

Memang aneh namun aku merasa senang, mungkin ibu sudah intropeksi diri dan bertaubat. Hanya itu yang terpikir dalam otakku. Hingga akhirnya aku pulang dari kuliah untuk membantu acara buka bersama. Sungguh aneh, ibuku tak seperti ibu yang kukenal. Pandanganya kosong,seprti tak ada nyawa yang mengendalikannya. Tingkah lakunya aneh. Tiba-tiba memelukku erat dan tak mau melepaskannya. Aku tidur selalu dielus-elusnya dan ditungguinya. Hingga esoknya aku kembali kuliah dan diantarkannya dari depan rumah, ia meneteskan air mata….sebenarnya aku sangat sedih namun bagaimana. Aku hanya berpesan insyallah aku cepat pulang, deket lebaran bu. Begitu juga saudara yang lain. Ibu merasa berat ditinggal anak-anaknya. Dia hanya bilang, “Jangan lama-lama pulang, nanti tidak ketemu ibu”. Kami hanya diam. Mengganggapnya wajar seorang ibu ingin terus ditemani anaknya.

Kemudian apa yang terjadi, benarlah yang dibilang ibu, dua hari kemudian ibu meninggal dengan keadaan rumah yang sepi. Hanya bapak dan kakak iparku. Ibu hanya bilang perutnya sakit dan kemudian oleh bapak disuruh istirahat. Dan bapak mandi karena akan pergi sholat jum’at. Innalillahi Wainna ilaihi rajiunn. Ketika nafas mulai pelan bapakpun hanya bisa menuntun dengan kalimah toyyibah. Dan ibupun menghembuskan nafas terakhir dengan mudahnya. Subhanallah, dihari jum’at yang cerah. Tak panas dan tak hujan namun cerah dan pas di bulan Ramadhon sepuluh hari terakhir. Semoga itu pas hari yang malamnya turun lailatul qadr. Semoga Khusnul Khotimah. Amiiiiiinnn.
Aku hanya bias menitikkan air mata, tak sanggup berkata apa-apa. Jadi apa yang kulihat dan yang kufirasatkan itu benar adanya atas semua keanehan yang muncul didepan mata. Mungkin hanya aku yang merasa, karena semua kakak-kakakku tak ada yang menyangka. Namun sebenarnya aku sudah sejak awal ibu sakit aku sudah mulai mempasrahkan diri ketika harus berpisah selamanya dengan seorang ibu yang sangat kucinta. Dan diperkuat dengan cerita seorang teman bahwa neneknya dia mengawali peristiwa-peristiwa aneh yang seperti ibu alami (merasa melihat makhluk-makhluk aneh dan selalu diajak oleh makhluk-makhluk itu). Nenek temanku juga hanya selama 1,5 bulan saja sehat dan akhirnya menemui Allah untuk selamanya. Dan tidak tahunya kejadiannya sama persis dan sakitnya pun sama persis seperti yang dialami ibu.

Ya Allah ya Tuhan… semua ini milikmu dan hanya kepadaMu semua akan kembali. Siapa yang sabar maka dialah yang mendapat rahmatNya . Ketika engkau menunjukkan jalan kepadaku tentang masa depanku, ibu pun langsung setuju. Sepertinya ibu jauh-jauh hari sudah merasa bahwa dia akan lebih cepat untuk meninggalkanku. Mangkanya ia selalu bertanya kapan aku menikah. Dan Allah mengabulkan do’anya, dengan menetapkan takdirku pas sesuai dengan keinginan ibuku. Sungguh Allah MahaTahu. Dan kini akhirnya aku menikah dengan laki-laki yang memang tak kukenal itu, dia adalah pilihan ibuku yang diberikan Allah kepadaku. Ibu selalu berdo’a kepadaku,”semoga engkau jadi orang sukses. Jika engkau pinjam sepeda motor saja tidak boleh, semoga engkau nanti mendapat suami yang sarjana,kaya dan kamu naik mobil kemana-mana. Hidupmu lebih mulia dari mereka”. Subhanallah do’a itu makbul. Dan betapa senangnya jika ibu melihat semua ini. Aku mendapatkan semua yang dido’akan ibu untukku. Dan subhanallah dia memang menjagaku seperti keinginan ibu. Terimakasih ibu……… atas semua kasih sayangmu,perhatianmu,pengorbananmu dan do’amu. Sekarang aku baru tahu bahwa menjadi ibu itu sungguh luar biasa, semua harus bisa dikerjakannya. Dan tidak tahunya menjadi ibu tidak semudah yang dilihat, dibaca dibuku bacaan, di teori yang beragam. Begitu subhanallah ketika menjalankannya, pengorbanan dan giat belajar harus terus mengiringinya. Dan satu hal yang paling luar bisa beratnya sabar dan ikhlas membutuhkan perjuangan jiwa dan raga. Namun aku baru tahu bahwa itulah yang membuatmu mulia ibu…… dan semoga aku bisa meraihnya menjadi istri yang sholehah bagi suamiku, ibu yang baik bagi anak-anakku. Amiin……

Dingin pagi sepertinya telah mendekati fajar…….. walau air mata terus menetes semoga ini air mata bahagia dan do’a untuk engkau wahai ibuku tercinta. Semoga engkau dilapangkan kuburnya,diterangi kuburnya,ditemani dengan amal sholihmu,diampuni semua dosamu,dimudahkan hisabmu,diringankan dalam melewati shorotNya,dan semoga kita dikumpulkan di akherat dan di syurga Allah kelak. Amiinnnn. Sekali lagi ibuku, TERIMAKASIH SEMUANYA YANG TELAH KAU BERIKAN PADAKU. HANYA DO’A YANG BISA KUBERIKAN SEBAGAI BALASANKU. I LOVE YOU MOM.

*Tulisan ini kuhadiahkan untuk IBUKU tercinta, Suamiku yang telah mendampingiku, Kakak-Kakak perempuanku yang telah menuntunku, Sahabat Peerempuanku-semoga kalian bisa jadi istri yang sholehah,ibu yang baik bagi anak-anak kalian. Amiinnnnnn…..

AKU CINTA PADA KALIAN IBU INDONESIA, BERIKAN YANG TERBAIK UNTUK KELUARGA DAN ANAK-ANAK KITA UNTUK MEWUJUDKAN NEGARA YANG SENTOSA, MADANI PENUH BERKAH DARI ALLAH SEMATA. KARENA HANYA DITANGAMU WAHAI IBU INDONESIA,NEGARA INI TERUS BISA TEGAK DAN JAYA UNTUK SELAMANYA………..TERUS SEMANGATTTTTTTT. ALLAHU AKBAR !

Komentar
  1. umfaristi mengatakan:

    nasyid di atas mengiringi malam-malam saya ketika mengerjakan tugas akhir, dulu.. 🙂 Setelah itu, jarang, malah hampir tak pernah mendengarkan nasyid itu. kasetnya juga entah dimana.

    jadi tahu kisahnya bu (mbak) Ima nih. Saya ikut mengaminkan doanya saja.. Amiin Yaa Robbal ‘Alamiin.

    Alhamdulillah ya… doa ibunya sudah terkabul..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s