Realitas Pendidikan IT di Indonesia

Posted: 14 Desember 2009 in Artikel
Tag:

Sore sangat cerah. Semburat kuning tergores di ujung awan. Hijau bukit barisan berjejer dengan kokohnya. Sungguh indah. Tak terasa airmataku menetes, sebentar lagi aku harus meninggalkan semua ini. Berat….sungguh berat bagiku meninggalkan amanah yang belum terselesaikan. Begitulah yang terkenang saat itu.

Sibolga dan Tapanuli tengah adalah kota kecil yang terdapat di balik bukit barisan. Tahun 2005 aku mulai menginjakkan kaki disana. Ketika aku akan diboyong oleh suamiku banyak hal yang terpikir tentang daerah sumatera. Terbelakang dan penuh dengan hutan-hutan. Bagaimanapun aku masih terpengaruh oleh cerita-cerita orang tuaku yang pernah bertransmigrasi ke Pulau Sumatera. Hanya karena tidak aman akhirnya orang tuaku pulang ke Jawa meninggalkan semua hartanya yang telah berlimpah di kampung transmigrasi sana. Dan suasana itulah yang bercokol di otakku. Namun akhirnya aku tidak tahu kenapa, aku pun juga harus menuju ke Sumatera. Apalagi ke Sumatera Utara yang penuh dengan mafia.

Inilah jalan hidup. Suamiku orang jawa yang tak pernah hidup di kampung pun, akhirnya harus mengabdi disana dan aku harus mengikutinya. Awalnya sangat berat aku mengawalinya, namun rasa cinta yang mulai tumbuh pada suamiku mengantarkan aku pada sebuah tekad yang bulat untuk berani hidup di luar jawa. Betul juga, ketika aku turun dari pesawat dan keluar dari bandara Minangkabau hingga akhirnya menyusuri jalanan menggunakan taxi, semuanya begitu berbeda.

Udara,logat,temperamen,budaya,tatakrama, semua begitu berbeda. Dikiri kanan hanya hamparan rumput setengah kering dan ketika melewati jalan-jalan utama di Padang sungguh kaget alang kepalang. Disitu terjadi tawuran beratus-ratus orang. Kebetulan ada konser grup band papan atas disana. Mereka kejar-kejaran sambil berteriak-teriak. Logat dengan nada keras membuatku ternganga, kenapa mereka marah-marah pada kami ? dan akhirnya sopir taxi menenangkan kami bahwa mereka tidak marah, begitulah logat bicaranya orang Padang.

Awal pengalaman yang mengerikan. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke Sibolga dengan naik Taxi. Waw… jalannya !! setapak-setapak,naik turun, mutar-mutar, begitulah ketika menyusuri sepanjang bukit barisan sela 8 jam. Huh..sungguh melelahkan dan mengocok isi perut hingga habis ke kerak-kerak perut. Sungguh luarbisaa, puyeng tujuh keliling, lemas tanpa daya. Parahnya lagi taxinya mogok dan harus ganti ban. Ditengah-tengah hutan dengan hujan yang sangat lebat kami satu jam menunggu di dalam mobil sopir untuk mengganti ban mobilnya. Entah barantah perasaan dan pikiran yang berkecamuk dalam otak dan jiwaku. Bisakah hidup di Sumatera dengan keadaan lingkungan yang seperti ini. Hutan yang mengerikan, rampok yang pasti muncul setiap ada kesempatan. Entah apalagi pikiran buruk yang terus melayang-layang. Hingga akhirnya kami tertidur kelelahan.

Memasuki daerah Tapanuli Selatan aku terus merengek kapan sampainya di Sibolga. Terasa perjalanan setahun. Bagaimana tidak. Perut sudah terkuras dengan muntah yang tiada henti-hentinya. Kemudian diare karena kecapean dan masuk angin. Pastilah tak terbayangkan bagaimana rasa tubuh ini.
Namun ketika mentari mulai menyibak awan, disana-sini kulihat pemandangan yang menyejukkan. Hijaunya bukit barisan dan persawahan yang banyak membentang. Hmm…dari Padang sidempuan sudah tak terlihat hutan yang diceritakan orang. Hanya kebun-kebun luas yang menghiasi pandangan mata. Luasnya kebun salak Sidempuan yang terkenal manisnya, sawah yang terhampar luas dengan bermacam-macam tanamannya. Sedikit menghibur mataku. Kemudian melewati kebun setengah hutan yang sangat sepi. Begitu seterusnya. Perumahan, kebun setengah hutan, kemudian sawah. Dan akhirnya kujumpai laut yang sangat menyejukkan. Pantai barat tidak tahunya lebih indah dari pantai selatan Jawa.

Namun setelah itu kujumpai rumah-rumah kadang di atas pinggir laut dan itu rupanya rumah-rumah nelayan. Kok kondisinya sangat mengenaskan seperti tempat tinggal warga yang dipinggiran sungai ciliwung. Airnya hitam dan penuh ilalang. Reot dan tak karuan. Aku hany aterdiam. Sepertinya kondisi warga disini benar-benar miris untuk dipikirkan.

Taxi terus melaju dan akhirnya aku sampai di kota yang kutunggu-tunggu. Panas, gersang. Itulah kesan pertama yang kurasakan. Dan akhirnya aku harus tinggal disebuah rumah-rumah petak yang diapit oleh kuburan dan perbukitan. Karena aku orang yang gampang kerasanan akhirnya aku senang dengan kehidupan baru yang kurasakan, seperti ada tantangan. Dan aku mencoba untuk melakukan sebuah garis takdir hidup di tempat petantauan.

Pengalaman Pertama Mengajar

Hmm…ini sepertinya menggelikan dan miris, bagaimana tidak anak-anak yang kuliah di Kampus ini benar-benar Gaptek. Bagaimana tidak, tahun 2006 itu sudah zaman modern, dimana komputer sudah masuk daerah-daerah, internetpun juga sudah ada disana. Alat-alat mobile pun sudah merebak. Namun apa ? anak-anak yang berstatus Mahasiswa ini buka komputer dan internetpun tidak bisa. Bagaimana mereka akan mencari referensi yang lebih lengkap dan cepat ? ketika tidak bisa sama sekali tentang ilmu komputer, cara operasi dan perangkat apa saja yang bisa digunakan, bagaimana mereka bisa mengerjakan tugas-tugas mereka, ketika mengetikpun tidak bisa ? Menyedihkan, mereka selalu mengetikkan tugas-tugas mereka bahkan ada yang masih di ketik dengan ketik manual. Benar-benar menyedihkan ouyy….

Aku tidak tahu harus memulai mengajar mereka dari mana, karena dalam mata kuliah mereka sebenarnya sudah ada mata kuliah Komputer. Mereka juga diajar oleh dosen Komputer. Namun…dosen mereka pun juga bukan ahli dari mata kuliah ini. Dosen Komputer ini membidangi pelajaran Bahasa Indonesia, sungguh mengenaskan bukan ? Dunia Bahasa Indonesia dengan teknologi komputer sangat jauh sekali. Memang bapak ini sedikit tahu tentang dunia komputer dan internet, namun ia peroleh secara otodidak dan dari saudaranya di Jawa yang mempunyai lembaga pendidikan komputer. Bukan meremehkan sebenarnya, karena ke datanganya di kampus ini sangat membantu. Bagaimanapun ia sangat memberikan kontribusi bagi Mahasiswa disini.

Sekali lagi aku tidak tahu harus mengawali semuanya dari mana, karena statusku sebenarnya hanya karyawan yang dipasrahin untuk mengelola Laboratorium Komputer milik kampus perikanan ini. Aku sebenarnya tidak punya wewenang untuk mengajar karena aku hanya lulusan diploma 1 yang kebetulan aku sekolah dijurusan manajemen Informatika,desain grafis, pemrograman dan teknisi komputer. Jadi paling tidak aku membidanginya. Namun bagaimanapun aku tidak boleh mengajar karena yang mengajar adalah dosen yang harus lulusan sarjana (minimal). Aku hanya diserahi untuk membantu membimbing ketika ada praktek komputer.

Yang lebih mengerikan lagi, jumlah komputer yang ada hanya 6 unit, itupun hampir ngadat semua. Jadi tidak bisa sekali tampung dalam pelajaran praktik komputer. Bila dipaksakan untuk kapasitas satu kelas maka harus bergerombol seperti anak SD yang baru mau belajar.

Aku terus berpikir bagaimana aku bisa mengajar mereka. Akhirnya aku punya inisiatif untuk membuka kursus, dengan harapan ada dana masuk dan bisa untuk memperbaiki komputer. Karena seakan pihak yayasan tidak mau tahu bagaimana untuk perbaikan fasilitas di kampus ini. mereka hanya seenaknya perintah dan tahunya beres semua. Yang paling menyakitkan bila diajak untuk bermusyawarah tentang perkembangan kampus ini, mereka mengelak dan terus mengelak. Apalagi kalau sudah berurusan dengan uang. Adanya hanya marah dan marah.

Apalah dikata, dalam rongga dada kami sudah tertanam harus berjuang untuk kebangkitan Negara ini. Memperbaiki SDM yang ada menuju generasi yang berwibawa dan berguna bgai bangsanya. Apapun harus kita kerjakan tanpa melihat berapa imbalan yang akan kami dapatkan. Akhirnya aku dan kawan-kawan terus memeras otak dan bagaimana cara mewujudkan impian kami. Berbagai cara kami tempuh.

Entah diketahui yayasan atau tidak waktu itu PD I sudah merestuinya. Akhirnya kubuat kurikulum bagi mereka yang mau mendaftar untuk kursus. Benar-benar dari awal aku mengeset silabus. Mulai mengenalkan apa itu perangkat komputer, apa fungsinya dan bagaimana cara pengoperasionalannya. He…he…terbayang ga… seperti mengajar anak SD susahnya minta ampun. Karena saking Gapteknya. Namun kusabarin saja dan akhirnya aku mendapatkan hasilnya. Dengan pelan-pelan akhirnya mereka mulai memahaminya.

Kemudian ku perkenalkan program operasionalnya satu persatu. Mulai dari Microsoft office dan OS yang lain. Untuk MS. Office aku mulai dari MS. Word. Kuperkenalkan apa itu MS. Word, kegunaannya dan bagaimana cara operasionalnya. Terus terang saja akhirnya aku harus menjiplak buku dari elex media komputindo untuk mengajar mereka. Bukan memfotokopinya, namun aku membuat buku sendiri dengan materi yang sama dan tampilan yang sama (walau tampilan gambar berbeda karena itu hasil dari praktikku sendiri yang copy dari screen), jelasnya aku menjiplaknya. Begitu pula dengan MS Excelnya dan OS yang lain. Ya…menurutku hanya buku dari elex media komputindo itulah buku yang bersifat operasional. Namun aku harus belajar lagi agar aku lebih menguasainya mangkanya aku berkeputusan untuk membuat buku sendiri walau aku menjiplak. Ya…ini bukan untukku namun demi kemajuan Negara masak sih penerbit akan marah ? toh aku tidak mengambil sepeserpun dari buku itu ? kujual sesuai biaya cetaknya saja untuk mengganti biaya operasional percetakannya. Karena aku tak diberi dana sedikitpun dari kampus untuk membuat modul, mangkanya jalan itulah yang kutempuh.

Bersyukur memang banyak perkembangan. Banyak Mahasiswa yang memulai untuk mengetik tugas-tugasnya di Lab. Karena aku juga membuka rental untuk mahasiswa itu agar dapat dana untuk perbaikan laboratoium Komputer ini. Lumayan aku bisa menambah printer dengan kualitas yang lebih baik sehingga mahasiswa bisa mengeprint gambar-gambar makalah maupun skripsi mereka dengan jelas.

Selain mengajar mereka, aku juga mengajak berdiskusi dengan mereka kebetulanmereka banyak yang dekat denganku sehingga mudah-mudah sulit dalam mempengaruhi pola pikir mereka. Aku mulai mengenalkan mereka pada dunia internet dengan harapan mereka mendapat wawasan yang lebih luas. Akhirnya mereka banyak bertanya tentang Ilmu teknologi dan komputer kepadaku. Kemudian kubukalah kursus internet untuk mereka. Sungguh menyedihkan, dalam praktek aku harus membawa mereka ke sebuah warnet yang jaraknya lumayan jauh. Bila banyak Mahasiswa yang ikut aku harus pesan tempat dengan menegokan biaya yang lebih murah dengan mereka. Sungguh beruntung yang punya Warnet baik hati. Akhirnya aku membuat sebuah perjanjian dengan pihak warnet dengan membuat kartu anggota dari Laboratorium Komputer kampus. Siapa yang mempunyai kartu anggota itu mereka akan dapat diskon jika main internet di warnet ini. Satu terobosan yang cukup menggembirakan. Akhirnya mereka mengenal web-web searching yang bisa membantu tugas-tugas mereka dan mereka sangat senang ketika ku kenalkan dengan dunia email dan chatting. Mereka akhirnya punya link di luar kota dan mereka tidak merasa terkungkung lagi dengan lingkungan mereka yang sangat tertutup itu. Walau dibalik-balik bukit barisan akhirnya mereka mengenal dunia luar walau hanya lewat dunia maya. Menyenagkan dan terasa puas walau masih sementara puasnya.

Aku tidak berhenti sampai disini, aku berusaha untuk menambah unit komputer namun sampai aku keluar dari kampus ini aku tak bisa mewujudkan keinginanku. Akhirnya banyak masalah di internal. Orang baru masuk dan mengacak-ngacak keberadan kami dengan opini serta isu yang mereka sebarkan. Hingga akhirnya kami terdholimi pada masalah gaji dan proyek. Semua system ia obrak-abrik demi menginginkan posisi di kampus. Kami yang merintis dari awal hingga akan meluluskan ini sedikit-demi sedikit di depak keberadannya. Dengan berpura-pura baik pada kami dan akhirnya menjatuhkan kami di depan yayasan. Ujungnya dia lebih dipercaya oleh yayasan karena orang pribumi situ dan menggencet kami dengan memakan uang proyek jatah proyek kami. Kami bekerja untuk mewujutkan proyek yang diberi oleh departemen kelautan, sedangkan yayasan dan orang yang berambisi tadi memakan hasilnya. Bisanya yayasan hanya meminta 10 % akhirnya meminta jatah 40 % dan dipangkaskan dari jatah gaji kami. Sungguh dholim sedholim dholimnya.

Akupun mulai tak kerasan karena banyak kabar buruk yang tersebar. Hingga akhirnya banyak dosen yang kembali kabur ke Jawa tanpa pamit dan berita. Akupun berniat untuk menyalurkan kemampuanku ke sekolah lain. Karena potensiku disitu sangat dibatasi. Aku melamar kerja untuk mengajar di sebuah SLTP di Tapanuli Tengah. Dan Alhamdulillah langsung diterima karena disitu sangat butuh guru Komputer dan kebetulan satupun guru tidak ada yang berkompeten sama sekali di bidang Komputer. Ketika pertama kali masuk kepala sekolah banyak bercerita bahwa guru yang selama ini mengajar hanya bisa-bisaan alias tidak faham benar. Akupun hanya mengelus dada. Jika tidak paham bagaimana bisa mengajar. Mengerikan ! Bagaimana bisa muncul generasi yang berkualitas jika guru yang mengajar saja amburadul seperti ini ?

Pertama mengajar aku harus bekerja keras. Sekali lagi aku bingung dari mana megawalinya karena ketika kulempar pertanyaan hanya beberapa anak yang bisa menjawabnya. Sungguh fenomena yang menyedihkan, yang bisa menjawab bisa dihitung dengan jari dari 9 kelas yang kuajar. Bayangkan 9 x 42 =378 dan yang bisa bisa dihitung dengan jari, berapa ratus yang tidak bisa ?

Akupun bertekad, aku harus dari awal untuk mengajari mereka. Yang kelas 3 apapun kejadiannya aku tetap mengajarnya dari awal. Mengenalkan perangkat, fungsi dan operasional komputer. Kemudian dilanjut dengan program-program operasionalnya. Semua dari awal. Bagaimana mengenal MS Office dan cara kerjanya. Untuk kelas 3 lebih kupadatkan karena aku berpikir mereka sudah besar jadi bisa diajak berpikir lebih cepat dari adik-adik kelasnya. Sedangkan untuk kelas 2 dan kelas 1 juga ku berlakukan materi yang sama. Untuk kelas 1 memang materinya itu (masih pengenalan), sedangkan untuk kelas 2 ya lebih sedikit padat karena mereka juga harus mengejar ketinggalan.

Seperti di kampus tadi akhirnya aku harus menjiplak materi dan membuat buku untuk mereka. Setiap malam aku ngelembur untuk membuat buku itu dalam keadaan hamil tua. Setelah jadi akhirnya aku memfoto copynya. Kemudian buku itu ku jilid sendiri. Karena bentuknya ku samakan dengan cetakan Kompetindo akhirnya aku harus merapikan setiap lembar yang berukuran kuarto itu. Tangankupun hingga kapalan mengiris-iris setiap lembar demi lembar kertas itu. Anda bisa bayangkan. Tebal buku itu 88 halaman x 378 = 33.264 lembar yang harus ku rapikan. Benar-benar manual. Aku pakai pisau, penggaris, alat jilid sederhana dan palu. Setiap malam hingga jam 3 dini hari aku membuatnya sendiri. Kira-kira satu bulanan setengah aku baru menyelesaikan buku itu. Akupun sekarang tidak bisa membayangkan bagaimana aku bisa melakukan itu. Padahal aku dalam kondisi hamil besar. Setiap malam ketak-ketok suara palu. Untungnya suamiku cuek dan mendukung saja dengan apa yang kukerjakan.

Kenapa buku itu kubikin sendiri karena aku ingin menekan kost yang dikeluarkan. Kepala sekolah mengizinkan aku punya buku pegangan pelajaran untuk anak-anak asal harganya di bawah 20.000. aku berpikir keras. Jika aku membeli buku-buku pelajaran yag seperti yang dikurikulumkan pemerintah anak-anak tahu apa ? namun ketika harus membeli buku seperti buku dari elex media kompetindo pastilah kosnya melebihi 50 ribu. Dan ini pasti terhalang karena syaratnya tadi jangan melebihi 20.000 karena orang tua pasti kompleint. Ya mau tak mau aku membuat buku sendiri dengan materi jiplakan walau ada beberapa yang kurevisi dan tampilan gambarnya tak ada yang sama. Sekali lagi demi pendidikan anak-anak Indonesia dan aku tidak mengambil banyak dari buku itu. Aku hanya mengambil untuk biaya alat-alat untuk membuat itu dan ongkos kesana kemari. Karena gajiku benar-benar tak sesuai dengan UMR pada umumnya. 200.000 zaman itu dapat apa. Untung suamiku mau mengirit sehingga uang itu bisa untuk menutupi ongkos jalan pulang pergi mengajar. Suami pun juga benar-benar di bawah normal gaji seorang sarjana dan status dosen. Bayangkan juga 750.000 nyampe dimana. Listrik, mes harus bayar sendiri padahal dulu diawal ketika berangkat fasilitas itu mereka (yayasan) yang memberi namun realitanya itu dihianati dan kami di depak dari kampus itu.

Hanya semangat dan niat tulus yang membuat kami bertahan disana demi anak didik. Dan di kampus itu ada kesepakatan tidak boleh bekerja di luar namun kesejahteraan begitu adanya. Ketika aku mengajar diluar sudah terhembus oleh pihak yayasan dari seorang yang berambisi tadi dengan info yang diperoleh dari para mahasiswa, aku tak diganji untuk bulan depannya. Dengan harapan aku keluar dari kampus itu. Mungkin mereka muak melihatku karena aku paling kritis diantara dosen yang lain. Sehingga mereka berharap mending tidak melihatku lagi ketimbang sering mendengar celotehanku. Walau sebenarnya mereka menganggap benar celotehanku karena sudah tertutupi dengan ambisi hitam apapun mereka tutup rapat-rapat telinga mereka demi mendepak keluar aku dan kawan-kawan dari kampus itu yang telah kami perjuangkan selama 3 tahun dan akan mewisudakan untuk pertama kalinya.

Sebenarnya aku tak mau keluar karena aku ingin mengetes mereka. Berani tidak mengeluarkan aku dengan surat pernyataan mereka. Namun setelah kutunggu-tunggu surat itu tidak ada nongolnya. Dan aku tidak digaji lagi. Akhirnya aku berpikir untuk apa aku meneruskan niat yang tiada guna ini, toh apapun tak dihargainya usahaku itu. Akhirnya aku memutuskan diri untuk keluar saja dan meneruskan perjuanganku di tempat yang welcome padaku. Akhir bulan pun ku rapikan semua laporannya dan kuserahkan pada pihak yayasan. Dan Mahasiswapun pada kaget melihat keputusanku dan tak menyangka itu akan terjadi. Karena akhirnya tindakan dan keputusanku itu diikuti oleh yang lainnya termasuk suamiku yang pada awalnya mereka enggan untuk keluar dari kampus. Mereka berat karena jadi pembimbing skripsi. Bagaimana jadinya bila semua dosen kabur dari sana. Namun alangkah daya bagaimana nasib anak istri jika memperjuangkan orang yang tak mau peduli dengan nasib kita, bagaimanapun keluarga harus dipilih karena kewajiban terbesar adalah memberi nafkah keluarga. Dengan berat hati sebenarnya meninggalkan para mahasiswa yang tak berdosa itu. Dan tak tega sebenarnya membunuh impian mereka. Namun hanya bismillah untuk angkat kaki yang bisa kami lakukan demi kebaikan semua. Semoga dengan kami pergi kampus jadi damai dan tidak ada gesekan-gesekan lagi sehingga lebih dinamis. Walau akhirnya harus kacau balau karena mahasiswa tidak tahu harus bernaung pada siapa, dan harus terlantar berpuluh-puluh skripsi yang hampir finis itu. Yang akan sidangpun akhirnya hanya menggit jari dan kami tidak tahu siapa dosen yang mau melanjutkannya. Karena sepeninggal kami dosen-dosen lain pun juga bayak yang cabut dari situ.

Akhirnya aku lebih konsen di SLTP tadi karena mereka lebih welcome untuk menerimaku. Sehingga aku merasa leluasa untuk mengeluarkan semua potensiku. Setelah aku sukses dengan program komputer aku melanjutkannya dengan teknologi informasi berupa ilmu internet. Dan murid-muridku menyambutnya dengan kebahagiaan yang tak terkira. Tak terbayangkan oleh mereka bahwa mereka akan memperoleh pelajaran internet. Sebuah ilmu yang sangat menarik untuk dipelajari saat ini.

Namun satu kendala ilmu internet ini tidak bisa disampaikan saja karena semua bersifat maya. Yang pasti aku harus mempunyai komputer yang terhubung oleh internet. Aku kembali pusing karena aku harus memutar otakku kencang-kencang agar aku mendapatkan cara agar anak-anak bisa langsung praktek. Sehingga proses mengajarku lebih cepat. Akupun menggunkan trik yang sama seperti ketika masih di kampus. Aku mencari link pada sebuah warnet agar murid-murid SMP ini mendapat diskon dan saya diberi waktu dan tempat untuk proses belajar mengajar di warnet ini. Karena sekolahnya di Tapanuli Tengah, dan daerah ini adalah daerah pemekaran dari Sibolga maka di daerah ini belum ada warnet yang berdiri satupun. Akhirnya aku lari ke sebuah warnet di kota Sibolga dan sangat bersyukur aku mendapatkan tempat itu lagi. Walau perjalanan sekitar setengah jam juga murid-murid cukup antusias untuk menuju kesana.

Hal unik yang kukerjakan yang tidak terbayang oleh semua orang adalah mengajar siswa berjumlah 126 orang (3 kelas dari kelas 3) dalam waktu satu hari full tanpa istirahat. Bagaimana caranya ? kebetulan komputer di warnet itu cukup banyak. Komputer berjumlah sekitar 20 unit dengan kondisi yang cukup bagus specnya. Jadi tidak lemot dalam mengakses internet. Sekali ngajar 20 orang dengan durasi mengajar 2 jam. Jadi ketika aku mulai jam 7 pagi, akhir aku mengajar ampe jam 10 malam. Karena tersisa 6 orang mau tak mau aku tetap melanjutkan selama dua jam agar adil dalam kepuasan belajar mereka. Waduh sungguh sangat melelahkan namun demi anak-anak aku melakukan itu semua dan aku merasa puas walau aku ambruk tak berdaya sampai rumah karena kondisiku waktu itu hamil besar. Namun aku tetap semangat dan suamiku mengerti jadi aku pulang langsung tidur dan besoknya bisa fress kembali.

Begitulah setiap kali aku mengajar dalam 3 kali seminggu. Ketika kepala sekolah melihat perubahan yang kulakukan dalam system pelajaran ia mempunyai inspirasi untuk melakukan cara belajar yang kulakukan. Belajar langsung praktek dan ia mempunyai keinginan untuk menghubungkan semua mata pelajaran dengan mata pelajaran komputer yang ku pegang. Dan kepala sekolah menginginkan aku bersedia mengajar guru-gur yang lain juga agar tidak hanya muridnya yang pintar komputer dan internet namun juga guru bidang pelajaran yang lain sehingga tidak diremehkan dan dianggap gaptek oleh murid. Namun semua cerita ini harus berakhir dengan sebuah ide besar yang tidak terealisasikan. Aku harus pulang ke jawa untuk melahirkan karena suamiku sudah tidak di sibolga lagi. Ia mendapatkan pekerjaan baru di Medan dan belum ada jatah untuk tempat tinggal. Agar tidak repot akhirnya aku harus ke Jawa agar di Jawa banyak yang mengurus kelahiran anakku yang pertama.

Dengan berat hati akhirnya kulangkahkan kaki menuju tempat asalku. Ya seperti sore itu aku tidak bisa membendung air mataku. Aku sangat sedih karena kepala sekolah terlanjur berharap besar denganku dan aku sendiri tidak bisa merealisasikan rencana besarku itu.

Solusi permasalahan di daerah

Sibolga dan Tapanuli Tengah hanyalah satu contoh kasus yang kebetulan terikat dengan kisah hidupku. Namun permasalahan ini sebenarnya permasalahan yang mengakar di setiap daerah terpencil. Di Nias apalagi. Ia sangat jauh dari kota dan terttutupi oleh laut di sekitarnya. Belum lagi di daerah lain. Setiap propinsi pasti mempunyai masalah ini.

Kekurangan SDM di bidang ilmu tertentu pada setiap daerah memang memunculkan sebuah ketimpangan. Apalagi guru di bidang komputer ini tidak banyak jumlahnya. Memang dikampus-kampus banyak mahasiswa yang belajar tentang teknologi komputer namun mereka yang mau terjun untuk mendidik generasi muda Indonesia untuk melek teknologi ini tidak banyak. Mereka lebih memilih untuk bekerja dikantoran yang gajinya lebih besar daripada seorang guru. Karena keahlian komputer ini dimanapun perusahannya pasti membutuhkannya. Dan syarat utama untuk bekerja disana sekarang telah menggunanakan sertifikasi harus bisa komputer.

Pemilihan pekerjaan dan gaji yang lebih layak inilah yang membuat SDM yang ahli komputer mengalir ke perusahan-perusahan. Karena perusahaan menjanjikan sebuah kesejahteran dan kecukupan. Selain itu kesadaran untuk membangun negeri ini sepertinya hanya sekian persen saja yang memahami dan mau melakukannya, sedangkan yang lainnya hanya mementingkan perut mereka sendiri.

Bagaimanapun setiap sekolah memang harus mandiri untuk memperbaiki SDM yang dimilikinya. Mereka harus rela mengeluarkan kost untuk membiayai semua perbaikan yang diinginkan. Misalkan jika dana memang sangatlah minim bila ada yang bisa dan menguasai ilmu komputer dan teknologi sekolah harus memanfaatkan orang ini. biarlah sekolah menggaji orang ini untuk mengajar guru-guru yang ada ketimbang sekolah menyekolahkan masing-masing guru, bukankah ini malah lebih besar kostnya ? Setelah diajarkan oleh yang berkompeten kepala sekolah atau yayasan harus berani menuntut setiap guru untuk melek teknologi komputer dengan mempunyai facebook misalnya. Blogger, email atau account lainnya di internet. Tidak hanya itu setiap guru harus bisa mengetik dengan OS yang ada. Misalnya Ms offise dari Microsoft sepertinya lebih mudah untuk di pelajari. Program MS. Word dan Excell wajib untuk bisa, sehingga ketika membuat soal atau mengerjakan laporan yang lain setiap guru sudah terampil dan cepat dalam mengerjakan semua tugasnya. Karena di setiap OS telah tersedia secara otomatis dan tinggal menggunakannya.

Untuk memberi fasilitas yang lebih lengkap sepertinya sekolah perlu memberikan kredit laptop atau komputer yang berbentuk CPU+monitor bagi setiap guru dengan dipotong gaji. Ini sepertinya lebih baik agar mereka lebih kompeten dan lebih pintar lagi dalam mengakses teknologi. Ini di pihak guru. Sedangkan dipihak murid sekolah harus menyediakan laboratorium komputer yang telah dilengkapi dengan jaringan network yang terhubung dengan internet. Sehingga ketika proses belajar mengajar tidak harus lagi lari-lari keluar lokasi yang membutuhkan waktu dan tenaga serta materi yang tidak sedikit. Sekarang banyak dana Bos digelontorkan ini bisa menjadi terobosan setiap sekolah untuk membangun fasilitas.

Dan sekarang sudah tidak zamannya lagi memakai papan untuk menulis apalagi menggunakan kapur tulis. Semua itu sudah kuno dan hanya bikin batuk dan jorok di baju. Paling tidak sekolah harus mempunyai LCD dan proyektor agar siswa lebih mudah dan lebih tertarik untuk mendengarkan penjelasan guru. Siswa pun menjadi fress karena mendapatkan susasana baru dalam belajar sehingga yang ada di otaknya hanya senang belajar dan enjoy melaksanakannya. Berikan tugas untuk browser keinternet agar mereka mendapat wawasan yang lebih luas. Karena di internet adalah gudang referensi yang berasal dari beribu bahkan berjuta penulis. Ini berarti berjuta ilmu terdapat di internet dan siswa tinggal meraupnya secara gratis.
Bagi sekolah yang tidak mampu mungkin cara-cara yang pernah kulakukan tadi bisa menjadi inspirasi untuk menekan biaya pendidikan. Dan satu hal sebenaranya tanpa campur tangan pemerintah dan pihak-pihak yang menguasai teknologi perbaikan pendidikan tentang melek teknologi ini tidak akan tercapai. Kewajiban pemerintah untuk menggandeng perusahaan-perusahaan teknologi untuk saling bergandengan tangan untuk membangun bangsa ini. Karena mereka yang mempunyai modal besar dan tahu seluk beluk perkembangan teknologi.

Siapapun yang hidup di negeri Indonesia ini punya kewajiban besar untuk membangun bangsa ini. tidak hanya penduduk pribumi namun mreka para imigran pun harus membangun negeri ini. Bagaimanapun mereka telah menginjakkan kaki disini yang berarti juga mendapatkan keuntungan dari negeri Indonesia tercinta ini. mari saling bahu membahu untuk meperbaiki SDM agar terwujud generasi yang tangguh di masa depan. Tetap semangat karena tanpa semangat tak akan ada cita-cita besar. Bila tak ada cita-cita maka tak akan ada keberhasilan yang kita harapkan di depan mata.*az

Komentar
  1. nonadita mengatakan:

    Tulisan yang panjang dan menyentuh. Miris sekali membacanya, tak terbayangkan bagaimana mahasiswa2 tersebut bisa mengupdate dirinya dgn perkembangan teknologi bila komputer pun sedemikian sulitnya.

    Selamat berjuang, semoga mendapat kemudahan dalam berbagi ilmu 🙂

    • aminnn….

      begitulah realitas pendidikan Indonesia. keadilan yang mereka dengungkan, yang mereka bangga-banggakan keberhasilannya namun yang ada dalam realitas adalah ketimpangan keadilan dan kesejahteraan. kesenjangan demi kesenjangan.

      jika hanya berharap pd pemerintah maka bagai mengharap hujan di musim kemarau.

      🙂

  2. umfaristi mengatakan:

    memang, menyentuh sekali. terbayang bagaimana ‘perjuangan’ pengantin baru di tanah seberang. salut buat kegigihan mbak Ima. untuk saat ini, dengan adanya sertifikasi, dan segala macam yang cukup ‘menggiurkan’ banyak orang untuk jadi guru, kira-kira bagaimana kondisi di sana, ya? Di Jawa sendiri, pendapatan guru yang lumayan itu (bagi yang sudah sertifikasi), ternyata bayak yang tidak memanfaatkannya untuk menambah pengetahuan. yah, minimal beli laptop, gitu… hehehe biar ‘lebih pinter’, ntar muridnya juga lebih pinter (kan, guru kencing berdiri, murid kencing berlari..)Tapi gajinya buat kredit mobil… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s