Zakat Untuk Kesejahteraan Bukan Untuk Perebutan Dan Pembunuhan

Posted: 20 November 2009 in Opini

Kejadian di Pasuruan sebenarnya bukan kejadian pertama kali dan bisa dipastikan telah terjadi puluhan bahkan ratusan peristiwa di seluruh Indonesia yang tidak sempat diekspose oleh media.

Yang jelas, kejadian Pasuruan adalah peristiwa kesekian kali yang menohok umat Islam. Apapun alasannya, akhirnya Islam tercoreng. Dalam benak masyarakat dapat dipastikan bahwa Islam identik dengan kekerasan, kesemrawutan, kemiskinan, keterbelakangan bahkan masih banyak lagi cap lain yang sebenarnya tak layak disandang oleh Islam.

Kejadian demi kejadian akhirnya mengukir  tabir hitam. Mendatangkan kejahatan dan ujungnya penolakan terhadap Islam. Islam radikal, Islam kejam, Islam ekslusif, mana bukti Islam sebagai rahmatallil ‘alamin ? inilah pertanyaan besar yang terus menggerayang di benak masyarakat dan mungkin dikalangan umat Islam itu sendiri. Hanya gara-gara ulah beberapa oknum yang terkesan sembrono dan tidak terencana serta nekad akhirnya membuat sebuah kesan yang tidak baik. Padahal bila ditelusuri lebih baik Islam itu benar-benar terencana, teratur, rapi dan yang telah dinash dalam kitab sucinya Islam adalah rahmatallil’alamin. Satu hal kunci yang harus dipegang yaitu PERUBAHAN dan itu BUTUH KEBERANIAN dan KEKOMITMENAN untuk mewujudkan identitas yang sebenarnya.

Sistem Dirubah, Mental Wajib Juga Di Rubah

Antara system dan mental SDM yang menjalankan sangat erat hubunganya, dan saling berkaitan. Bila hanya satu yang dirubah hanya akan menimbulkan kepincangan. Tidak hanya masalah zakat namun pemerintahan juga wajib demikian yang notabene sekupnya lebih luas dalam masyarakat.

Kisruh, ricuh dan lain sebagainya itu berawal dari mental bobrok yang  dipaksa untuk menjalani kehidupan. Manusia-manusia ini tidak siap menghadapi takdir dari hidupnya.

Kasus Pasuruan dan rentetannya yang lain adalah bukti bahwa masyarakat ini sangat bermental matrialistis. Ketika mendengar atau melihat “uang”, pasti matanya sudah “hijau” untuk segera meraupnya. Uang dan uang sebagai tolak ukur atas segalanya.

Walau Indonesia mayoritas masyarakatnya muslim namun mentalnya adalah mental Amerika yang liberal. Bila di Amerika atau Negara-negara eropa mungkin itu wajar, karena kehidupan mereka adalah liberal, glamour dan kapitalis. Sedangkan masyarakat Indonesia, seharusnya bermental kepribadian Islam (karena otomatis dari kemayoritasan Islam). Bukan sebaliknya mencampakkan Islam dan mengambil mental yang lain. Islam tidak pernah mengajarkan atau menjadikan uang sebagai tolak ukur dalam kesuksesan dan kebahagiaan hidup dari seseorang.

Pemahaman terhadap realitas kemiskinan dan kekayaan dalam Islam sangat perlu untuk dipahamkan kembali. Konsep terhdap Qadlo (ketetapan) dan Qadar (takdir) perlu diperbaharui. Karena inilah nanti yang akan merubah mental-mental matrialistis menjadi mental agamis. Mereka akan tahu bahwa member i itu lebih mulia daripada menerima. Melihat nasib orang lain dibawahnya akan memunculkan sifat bersyukur sehingga ia tidak akan gampang menjulurkan tangan untuk meminta bantuan atau selalu tergantung pada orang lain.

Ada hal menarik , banyak masyarakat bangga dengan status kemiskinan karena dengan harapan akan diberi  namun disisi lain mereka juga gengsi bila dibilang memang benar-benar miskin. Yang kaya bangga dibilang miskin agar tetap dikasih bantuan oleh orang lain sedang yang benar-benar miskin enggan untuk mengakui kemiskinananya dengan harapan ia dihormati dan tidak diremehkan dalam masyarakat. Merasa nyaman diberi diberi. Diberi zakat, diberi bantuan langsung, diberi beasiswa, berobat gratis dan lain sebagainya. Walau sebenarnya tidak semua masyarakat itu miskin, malah banyak kaum menengah yang berlagak miskin tapi kehidupannya royal,  hanya demi pemberian uang puluhan ribu hingga ratusan ribu. Dan yang lebih mengherankan mereka yang paling banyak adalah kaum ibu-ibu dan bangga dengan pemberian itu padahal itu tak layak untuk mereka dan banyak yang masih membutuhkannya.

Mungkin semua bisa maklum kalau mereka benar-benar miskin. Tidak bisa makan, tidak mampu beli pakaian, tidak bisa menyekolahkan anaknya dan lain sebagainya. Namun jika didapati di tengah-tengah gerumulan orang antri jatah pembagian zakat atau pembagian uang yang lain adalah mereka yang rumahnya gedongan,naik motor keren, TV 21’-29’, tiap hari jalan-jalan, makaan-makan di warung atau restoran . hal ini kan sangat ironi dan mendholimi sesame ? Seharusnya apa yang ia terima untuk orang yang lebih berhak namun dengan bangga dan senang hati menilapnya padahal yang lain mengerang sangat membutuhkannya.

Dibolak-balik, dibahas dan dirundingkan, didebat dan digunjingkan, semua rentetan ini adalah imbas dari system yang bobrok. Pemerintahan yang tidak baik sehingga tidak mampu memobilisasi kebijakan-kebijakan yang mendukung rakyat. Walau di atas telah dibahas tentang mental yang menjadi factor dan sumber kejadian, namun bukankah kenyataan juga turut andil di dalamnya ?

Semakin melonjaknya semua harga, mulai dari komoditas penting hingga kebutuhan sehari-hari adalah kenyataan dari system yang didukung kapitalis dan liberal sehingga mau tidak mau masyarakat juga bermental matrialistis sebagai produk dari system yang mengiringinya. Karena bila masyarakat tidak matrialistis maka ia tidak akan mampu menghadapi system yang matrialis juga. Sehingga apa garis besarnya ?

Poin penting adalah system harus direvolusi sehingga bisa merevolusi mental masyarakat tersebut. Mengalihkan uang menjadi bukan ukuran utama, mengalihkan mental matrialistis kepada mental mulia yang agamis.

Zakat Untuk Kesejahteraan Umat

Inilah sebenarnya salah satu bukti bahwa Islam adalah rahmatalilalamin karena Islam sangat peduli pada urusan dan kebutuhan umat.

Islam mengajarkan agar manusia bisa bermanfaat bagi orang lain bukan malah merepotkan orang lain, sehingga dalam hidup terpenuhi fungsi terciptanya manusia sebagai makhluk social dan juga individu. Bukan makhluk individu dan individu, sehingga bisa ditarik garis lurus perbedaan yang jelas antara manusia dengan makhluk lainnya.

Zakat hanya salah satu kewajiban yang harus dilakukan setiap muslim dan masih banyak lagi kewajiban-kewajiban yang lain. Zakat hanya salah satu bentuk kepedulian Islam yang menjadi rahmatalilalamin ini dan masih banyak rahmad Allah yang merupakan bentuk kepedulian Islam.

Pembagian zakat bertujuan untuk mensejahterakan umat. Menyetarakan kebahagiaan dan rezeqi yang dilimpahkan. Karena zakat hanya untuk  orang-orang tertentu yang sudah sangat jelas identitasnya. Sehingga membutuhkan orang-orang atau sebuah lembaga yang harus professional dalam pengelolaan agar tetap pada sasaran. Tidak hanya itu, kejujuran dan amanah merupakan factor penting dalam mengelola zakat. Karena kejujujuran dan amanah dalam pengelolaan zakat akan menjadi penentu para muzakki (yang membayar zakat) bahwa zakatnya benar-benar sampai pada yang diinginkan. Sehingga tidak akan muncul peristiwa mati bareng sebanyak 21 orang hanya karena berdesak-desakan untuk menerima zakat.

Banyak factor penyebab kaus-kasus mengenaskan tersebut. Bisa jadi pengelola zakat tidak professional, tidak amanah dan tidak jujur sehingga muzakki merasa lebih berhak untuk memberikannya sendiri. Hanya berbekal niat dan semangat berzakat tanpa melihat kenyataan masyarakat sehingga akhirnya hanya menimbulkan petaka bukan berkah

Tidak bisa meyalahkan satu pihak karena sebab peristiwa itu sangat komplek. Dari mental-mental matrialistis dan system yang bobrok akhirnya berdampak pada masalah-masalah ekonomi kerakyatan sehingga hanya uang yang jadi ukuran. Bukan kesabaran, keikhlasan serta kedisiplinan dan ketertiban. Bukan kepentingan orang lain yang dikedepankan tapi perut dan kesenangan pribadi yang terus diumbar. Hal inilah yang perlu dikoreksi oleh setiap pribadi. Berubah dan komitmen dengan perubahan itu.

Rumah-rumah zakat beserta lembaga lain semakin professional pengelolaannya. Jujur dan amanah dalam penyalurannya sehingga Muzakki puas untuk menyetorkan zakatnya. Masyarakat semakin peduli dengan kewajiban dalam menunaikan zakatnya, sehingga masyarakat tak lagi berharap atas uluran tangan orang lain. Pemerintah merubah sistemnya sehingga mental masyarakatnya berubah. Tak ada lagi antrean meminta jatah. Tapi yang ada antrean memberi jatah orang lain sehingga kesejahteraan karena zakat telah tersalurkan tepat sasaran. Yang akhirnya tak ada lagi yang mau dibantu atau diberi sedekah. Itulah cita-cita pembangunan yang sebenarnya. Untuk itu segera bayar zakat, bersihkan diri dan harta agar dapat kemuliaan dunia dan akhirat. Masyarakat makmur senotosa. Baldatun toyyibatun warobbun ghofur. Semoga !*az

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s