Mawar Telah Bertangkai

Posted: 20 November 2009 in Cerpen, Sastra

Dari jauh terdengar merdu. Asma Allah mengalun sendu. Sejuk. Indah terasa dapat menginjakkan kakiku di kota ini. Ya, kota sedingin salju yang telah kutinggal enam bulan yang lalu.

Malam mulai merayap. Tapi aku bingung harus menginap dimana. Mataku nanar melihat angkot bersiliweran. Wartel. Ya itulah mungkin solusi.

Kupencet-pencet tombol pesawat itu. Nyambung.

Tut….tut….tut….

“Assalamua’alaikum”, sapaku pada seorang wanita di seberang sana.

“Wa’alaikum salam, nyari siapa mbak?”, tanya wanita itu.

“Nawang Sarinya ada ?”, jawabku dengan balik bertanya.

“Oh…Mbak Nawang udah pindah”, jawabnya pendek.

Deg. Aku menginap di mana. Kosanku di M. Panjaitan sudah buyar 3 bulan yang lalu. Gusar. Akhirnya kuberanikan diri untuk  mengkorek informasi.

“Pindah dimana Mbak ?”, tanyaku gugup.

“Ga tau ya, ini ada nomor teleponnya klo mau ?”, tawarnya.

Pyar. Legalah hatiku. Harapan ada di depan mata, walau hanya numpang tidur saja.

“Berapa Mbak?”, tanyaku semangat.

“412913”, jawabnya  pendek.

“Makasih Mbak, wassalamu’alaikum”, kututup telepon.

Gamang kupencet no. telepon itu. Aku tak siap bertemu dengan teman-teman lamaku dengan kegagalan ini. Tapi…seandainya akhwat boleh tidur di masjid…ah…sebel.

412913. Tanganku menombol pesawat dan langsung tersambung.

“Nawangnya ada ?”, tanyaku gugup.

“Ya, saya”, jawabnya pendek.

“Mba ini Laila”, kataku memberi tahu.

“Laila ! heh…dek, dimana ?”, tanyanya antusias.

“Jemput ane digerbang FE, tak tunggu ya cerita ntar”, jawabku dan cepat kututup telepon.

Gerbang FE. Aku harus berjalan sekitar 10 menit lagi. Sepi. Fakultas teknik begitu menyeramkan. Tapi sudahlah Allah bersamaku. Ku kuatkan niat dan tekadku. Kakiku pun melangkah dengan tenangnya.

***

Lima belas menit tepat. Seorang akhwat berjilbab hitam dengan sepeda motornya menghampiriku.

“Assalamu’alaikum ukhti, gimana kabar anti ?”, tanyanya dengan memelukku erat. Damai dalam rengkuhannya. Indahnya ukhuwah. Tak terasa air bening menghiasi kelopak mataku. Sejenak saling berpandangan menyemai kasih kerinduan. Dahi saling beradu. Tangan saling menepuk bahu. Berbahagia karena masih diberikan keistimewaan keistiqamahan yang sama.

“Mbak Nawang mana?”, tanyaku lugu pada seorang akhwat itu yang rupanya Mba Diana.

“Mbak Nawang kan ga bisa naik motor”, jawabnya sambil nyewel pipiku.

Oh iya ya, bego banget sih aku ini. Motor pun melaju dengan cepat. Dasar Mba Diana mau menyaingiku. Sesampai di gang kecil di sebuah jalan Kumis Kucing, motor berbelok. Deg. Berhenti. Ramai rumah itu.

“Ada apa, dan siapa itu ?”, tanyaku heran melihat ada 2 sosok ikhwan di rumah itu tanpa ada selambu hijab.

“Oh….afwan. dia Mas Yudi dan Mas Nur, kita kan baru pindahan. Di sini ada 5 akhwat. Rumahnya banyak yang rusak, mangkanya kami minta bantuan ama mereka, dari pagi  mereka di sini. Ya rencana mau dijadikan base camp jadi dilembur segera dirampungkan, dan mangkanya hijabnya belum dipasang”, cerita Mbak Diana sebelum masuk rumah, seperti tahu apa yang ada dalam pikiranku.

Aku hanya diam. Tenggorokan tercekat. Tak menyangka semua berkumpul disini. Pengurus LSM itu…..ah…subhanallah, mereka tetap kompak seperti dulu. “Selamat berjuang saudaraku”, do’aku dalam hati.

Tapi, aku malu. Permainanku dengan ikhwan itu harus berhenti disini. Ya 1-1 sekarang. Mereka akhirnya tahu sosokku yang sebenarnya. Walau selama ini mereka hanya mendengar suara penuturan materi jurnalistikku dari balik hijab. Yah toh akhirnya ketahuan juga. Ya bagaimana dong ?

Ragu kumasuk rumah itu. Dua ikhwan menatapku dan akhirnya tunduk di atas makanannya. Ya mereka lagi makan. Ku lari masuk kamar tanpa menggubris mereka. Lemas.

“Mbak gimana kabarnya ?”, tanya Mas Yudi di ruang tengah. Aku terdiam. Aku ragu menjawabnya. Entah apa yang terjadi di luar sana. Aku cuek bebek. Yang jelas Mbak Diana dan Mbak Nawang menyuruhku untuk menemui mereka.

“Ini Laila Mas, yang selama  ini ditanyain trus tuh, kayak apa orangnya. Ya ini orangnya. Sibungsu yang dewasa, si kecil yang kelihatan tua”, cerocos Mbak Nawang ngeledek diriku.

Aku tersipu. Sempat ge-er juga karena nggak tahunya aku dalam pikiran mereka. Tapi sudahlah. Astaghfirullah wa naudzubillah, bikin penyakit ati aja.

Suasana mencair. Aku juga mulai berani menanyakan kabar teman-teman semua. Si Lia yang telah hamil. Si Tin yang telah 3 bulan menyusul Lia. Mas Yudi yang telah lulus, Mas Nur yang telah kompre, Mbak Diana yang telah skripsi, Mba Nawang yang lagi entry data, Si Fa yang juga lagi kompre. Subhanallah banyak perkembangan.

***

Hari berganti. Kedatanganku membawa semangat baru. Da’wah mulai digencarkan untuk mewujudkan program LSM yang selama ini hanya sekedar konseptual.

“Ning, kapan ?”, tanya mas Yudi tiba-tiba dengan panggilan khasnya untukku.

“Apa ?!” aku balik bertanya.

Mas Yudi hanya tersenyum. Kubiarkan saja dia dengan kesibukannya. Tanganku semakin cekatan mengoperasikan komputer di depanku. Ya aku lagi membuat web site untuk LSM ku.

“Ning….”, panggilnya pelan.

“Apasih Bang, klo nanya’ cepet nanya’, kok bikin orang penasaran aja”, tanyaku sedikit ketus. Bukannya bantuin malah ganggu aja. Sebel.

“Itu….kapan nikahnya?”, tanyanya ragu.

Gubrags!! Darimana dia tahu aku lagi proses. Aku terdiam. Malu. Ku biarkan dia dengan pertanyannya. Adil. Biar dia juga penasaran juga. Dasar akhwat bandel. Tanganku asyik dengan tombol-tombol keyboard di depanku. Ku lirik dia. Diapun tertunduk diam.

“Aku pulang dulu, assalamu’alaikum”, Mas Yudi nyelonong saja.

Upss!! Marah. “Yach…wa’alaikum salam”, jawabku heran.

***

Satu  bulan sudah ku mengerjakan web site. Sempurna. Besok sudah siap di upload.

“Yes  !! selesai ! bagus gak ?”, ceplosku pada Mbak Nawang dan Mbak Diana.

“Lihat dong. Sip sip sip”, puji Mbak Nawang.

Aku tersenyum puas. Ada sesuatu yang berharga yang bisa kuberikan untuk LSM dan da’wah ini.

“Laila…jadi pulang ?”, tanya Mbak Diana tiba-tiba.

“Emang kenapa ?”, aku balik bertanya, heran.

“Bukan aku yang tanya’, tapi Mas Yudi”, jawabnya agak ketus.

“Mas Yudi ?!”, jawabku kaget.

“Ngapain dia tanya-tanya dan ngapain tanyanya ke anti, bukan ke ane, ih lucu, pertanyaannya pesen lagi?! Jangan ngarang ya, dosa lo…bikin penyakin ati”, timpalku pada Mbak Diana.

“Ih…emang benar dia yang nanya’ kok. Tadi suruh nanyain. Pagi-pagi udah telepon, emang anti pulang jam berapa ?”, lanjut Mbak Diana.

“Gak tahu, jam 1 kali”, jawabku santai, yach aku masih asyik dengan web siteku.

“Lai…..sebenarnya ada hubungan apasih diantara kalian?”, tanya Mbak Nawang tiba-tiba.

Deg. Hubungan ? Hubungan apaan sih ?! aku bingung apa maksud mereka.

“Eh….kalian jangan suudzon dong, aku ama Mas Yudi gak ada apa-apa. Lagian kalian tahu ane udah punya calon. Dan ingat, kalian lihat sendirikan sikap ane ama Mas Yudi. Lawong setiap hari kalian menemaniku, liat ane dan Mas Yudi di depan mata…. Ih Dasar !”, jelasku agak kesal.

“Iya sih Lai, ane tahu itu. Tapi….ya kayaknya ada yang ganjil dan gak beres”, protes Mbak Diana.

“Sudahlah Mbak, ane juga sudah ngasih lampu kuning kok ama dia, agar tak menyalahgunakan kepercayaan persaudaraan ini atas dia”, tandasku pada mereka.

***

Malam mulai merayap. Tubuhku terasa capek akibat terguncang di atas kereta.

“Mbak telepon”, suara keponakanku memanggil.

“Mas Yudi”, keponakanku memberi tahu.

Deg. Apalagi maunya. Inlok lagi. Jam sembilan. Wah malam-malam.

“Assalamu’alaikum”, sapaku pada seseorang di seberang sana.

“Wa’alaikum salam, ini Yudi Ning”, jawabnya memberi tahu.

“Ya…apa Bang ?”, tanyaku dingin.

“Lagi ngapa?”, dia balik  tanya.

“Mo tidur capek, emang ada apa? Udah malam nih. Gak etis. Kena jam malam lo ntar. Ta bilangkan ke atas tau rasa lo ya”, jawabku mengancam.

“Eh….klo boleh saranin kamu cepat nikah”, celetuknya tiba-tiba.

“Nikah ! Emang kenapa ?!”, tanyaku heran.

“Ya… sebelum timbul korban baru”, jawabnya  datar.

“Korban ? korban apaan? Emangnya kambing kurban yang harus dikorbankan. Sudahlah Bang, aku udah bilang aku berbuat seperti itu kepada semua orang. Tanyakan ama Mas Nur, sikapku ama dia sama seperti kepada Abang. Atau mungkin tanya pada ikhwan lain yang kenal aku. Insya Allah sama. Toh klo masih ada perasaan itu ya wallahuallam yang jelas aku selalu menjaga ukhuwah-ku dengan ikhwan agar tak ternodai dengan penyakit hati. Sudahlah sudah malam. Gak baik tuk ikhwan nelepon akhwat malam-malam”, tuturku menjelaskan, memberikan warning.

“Afwan ya….”, pintanya pendek.

“Ya ga ada yang perlu dimaafkan. Mungkin kita harus saling intropeksi diri ajalah. syukron atas sarannya. Wassalamu’alaikum”, telepon kututup.

Diam. Diam seribu bahasa ku didekat telepon. Baru kumerasakan sebuah kebenaran dari perkataan Mbak Nawang dan Mbak Diana. Pilu. Untuk yang  kesekian kalinya aku seperti ini. Siapa lagi yang akan sakit hati. Kenapa prosesku harus tersendat seperti ini. Ya….keluarga ikhwan minta waktu dan aku harus menunggu. Sabar adalah ujianku.

Malam terus merayap. Akupun terbuai oleh mimpi di atas kasurku yang baru. Baru dibelikan oleh ibuku.

Tit…tit…Tit..tit..Tit…tit..suara ponsel membangunkan tidurku. Ku lirik jam dinding. Jam 3. Ya…pasti teman-teman memberi kode untuk Qiyamullail nih. Kuberanjak dari tempat tidur. Ku siram wajahku dengan air suci. Segar. Syetan-syetan yang menempel di pelupuk matapun berterbangan kepanasan.

Rukuk, sujud telah kutunaikan. Do’a pengampunan ku lantunkan. Sajadah panjang sebagai saksi. Aku benar-benar merasa menjadi hamba malam ini. Tiada daya dan kekuatan kecuali engkau ya Rabbi. Hamba hanya manusia yang harus siap menerima ketetapan yang ada. Tapi, satu yang kuminta Ya Allah, kumpulkan aku bersama orang-orang yang bertaqwa dan bersama Rasulmu tercinta serta ampuni semua dosaku di dunia ini Ya Allah.

Rembulan tersembul dari balik kaca atap  rumahku. Pendar kuning menghiasi mega nan merona. Indah.Ku raih ponselku, ku baca SMS yang tadi kubiarkan saja. “Nomor baru”, desisku.

Di blik tirai mmbungkus, Ptih bersih rpawan mnawan, Detakan lngkah sunyi, similar pilar jilbab putih. Mmancar keimanan suci. Berkas ptih mmancar, mnmbah bersih kesucian diri, tertera wajahmenyinari, senyum simpul mewarnai, dg sejuta hrapan, walau lautan luas, gunung2 tinggi menghalangi, ku terpaku seribu bhasa. Mg bidadari tetap bersemi. Merekah menambat impian hati-abangmu.

“Astaghfirullah….sederet SMS panjang. Mas Yudi. Apa yang terjadi pada diri mu Bang. Kenapa kau tulis puisi ini. Selama ini kau tak pernah berukir kata seromantis ini. Kau yang ku kenal adalah sosok ikhwan yang anti akan hal-hal seperti ini. Tapi…Sudahkah kau berubah dan aku tak tahu bagaimana dirimu saat ini. Tapi Bang aku tak akan bersuudzon padamu. Moga kau baik-baik saja”, gumamku dalam hati sambil berdo’a.

***

Di base camp aku masih mengotak atik web siteku. Ntar sore akan di upload. Setelah beberapa jam Mas Yudi datang di Base Camp. Sendirian. “Dimana Mba Diana”, tanyaku dalam hati.

Aku hanya terdiam berlagak tak peduli atas kedatangannya. Ya klo memang gak perlu kenapa harus  ditanggepi. Hi…hi…. Sok angkuh oiyy…

“Assalamu’alaikum”, sapanya sambil duduk di kursi tamu.

“Wa’alaikum salam”, jawabku pendek.

“Udah selesai Ning?”, tanyanya memastikan.

“Udah tinggal menyempurnakan aja, ada sedikit yang masih salah, asyar Insya Allah selesai”, jawabku pasti. Kami terdiam. Tak ada pembicaan selama beberapa menit. Ya di base camp hanya ada kami berdua.

“Ning, aku boleh nanya sesuatu ga ?”, tanyanya pelan.

“Tanya’ aja klo bisa jawab ya tak jawab klo ta’ bisa ya afwan ane gak bisa menjawabnya”, jawabku datar.

“Jujur ya”, dia memastikan. Aku mengangguk.

“Klo boleh tahu prosesmu sampe dimana ? dan bagaimana statusmu sekarang ?”, tanyanya tiba-tiba.

Aku terdiam. Tenggorokanku tercekat. Pilu. Kenapa pertanyaan itu harus keluar. Ya..jujur aku selalu sedih bila ditanya tentang prosesku. Kuhanya bisa menarik nafas dalam-dalam. Diam dan diam yang kulakukan. Aku tak kuasa untuk menjawabnya. Akupun tertunduk.

Mas Yudi juga terdiam. Ia menunggu jawabanku. Kucoba untuk menggerakkan jariku, menyempurnakan web siteku. Lemas. Tak ada daya untuk bekerja.

Kembali kutarik nafas dalam. Akhirnya kujawab pertanyaannya.

“Prosesku sampe pada khitbah dan sekarang masa ta’aruf. Status ane akhwat pinangan”, hanya itu yang kujawab. Pendek tapi sudah bisa mewakili semua pertanyaan yang dia lontarkan pada diriku.

“Jadi gak ada ikhwan lain yang bisa meng-khitbah-mu”, tanyanya melas.

Aku mendesah. Kutolehkan wajahku untuk memandang seseorang yang duduk agak jauh dariku. Dia hanya tertunduk dengan mainan kertas di tangannya. Ingin kupastikan kenapa ia bertanya seperti itu. Dia hanya tertunduk dan semakin dalam. Masih sempat kulihat dia menggigit bibirnya dan akhirnya kulemparkan pandanganku ke luar jendela.

“Ya…aku tak boleh menerima lagi ikhwan lain karena aku telah mengatakan ya, akad khitbah telah diucapkan dan kami harus saling menjaga keutuhan proses ini”, jawabku menjelaskan.

“Tapi kenapa tidak cepat dilakukan?”, tanyanya memburu.

“Ya Abang sudah tahu ceritanya. Keluarga ikhwan minta waktu dan aku memang harus menunggu karena telah menjadi keputusanku. Ya…aku harus menanggung resiko ini Bang”, suaraku tercekat.

“Seandainya ada ikhwan yang mau mempercepat itu apakah calon suamimu akan mengizinkan?”, tanyanya menyelidik.

Deg. Tak menyangka dia akan ngomong seperti itu.

“Bang, proses kami telah berjalan lama. Kuharap Abang tahu perasaan kami berdua. So, afwan semua sudah jelas. Ibarat bunga aku telah tertangkai. Dan tak ahsan bila aku memilih tangkai karena tangkai telah ditetapkan oleh Allah dan itulah yang terbaik untukku”, tuturku menegaskan.

“Ya sudahlah. Moga kau Bahagia. Moga dimudahkan dan disegerakan proses pernikahanmu. Satu yang kuminta. Semoga aku tidak futur atas kejadian ini, do’akan aku tetap istiqamah. Walaupun mawar telah tertangkai kau tetap saudara sejati dan adik yang terbaik dalam hidupku ini. Afwanin aku. Mungkin aku harus menenangkan diri dulu”.

Mentari sore meredup tertutup awan di atas sana. Gelap. Rupanya hujan akan turun seiring kegundahan. Seiring air bening ini. Moga ukhuwah tetap bersih suci. Mengiringi langkah da’wah ini.* az

 

****************************************************

Bogor, Agustus 2005

Kenangan dari kota apel Malang

Pernah dimuat di majalah Sobat Muda Tahun 2006

Dan di Harian Analisa Rubrik Cerpen (Rabu,7 Januari 2009)

******************************************************

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s