Lilin

Posted: 19 November 2009 in Cerpen

By : Imatuzzahra al Hurun’in

Mentari mulai menyeruak dari balik dedaunan. Angin pagi nan sejuk menyapa wajahku dengan lembutnya. “Hemm…15 tahun yang lalu aku berada disini dan masih sama kurasakan, indah menawan”, gumamku mengenang 15 tahun yang lalu ketika aku masih kuliah di fakultas teknik ini.
Hari ini ada acara bedah buku di gedung pertemuan fakultas. Ada tema menarik yang menyeretku untuk kembali ke fakultas ini. Sebuah iklan yang dipasang pada sebuah majalah oleh panitia kegiatan ini. “Nikah Beda Harokah (Gerakan) so What Githu Loh !)”. Kupikir tema itu cukup berani untuk diangkat. Apalagi pembedahnya adalah penulisnya langsung Fatiya Adzikro, pastilah lebih mantap lagi.

Ruangan sudah mulai sesak. Rupanya mereka sangat antusias untuk mengikuti acara ini. Hmm…kayaknya aku ini sangat tua bila berada diantara mereka. Yaa…maklum aku sudah berumur 35 tahun dengan dua anak dan mereka masih berumur antara 20-25 tahun. Masa paling semangat untuk memikirkan nikah.

Ku sebar pandangan, siapa tahu aku menemukan teman-teman seperjuanganku dulu. Rupanya aku tak sendiri. Banyak teman-teman seangkatanku masih berkeliweran disini. Mungkin mereka melanjutkan studinya atau mungkin telah jadi dosen disini. Sedangkan aku….aku datang kesini ingin menutp rinduku pada kampus yang ikut membesarkan dan mensukseskan aku ini.

Sekelebat sosok tinggi kecil kulihat memasuki ruangan. Aku seperti mengenalnya. “Tapi…siapa dia?”. Ku ikuti gerakan tubuhnya. Diantara ratusan orang itu susah juga mengidentifikasi sosok itu. Hilang. Menyelinap dimana dia. Karena tak sabar akhirnya aku beranjak dari tempat dudukku. Kuikuti kemana tadi arah sosok itu berjalan dan menghilang. Rupanya dia telah duduk manis diantara ratusan pengunjung laki-laki.

“Shaqy !”, mulutku berteriak.

Sosok itu menoleh. Bengong. Dia menatapku lekat-lekat seakan dia tak percaya akan bertemu denganku. Dialah kawan senasib sepenanggungan. Sekamar dan sependeritaan.“Hamid !’, dia bangkit dan memelukku erat. Aku terharu. 15 tahun yang lalu kami selalu bersama. Dan rupanya Allah masih memberi izin kami untuk bertemu melepas rindu.

“Hei gimana kabar sobat, anakmu sudah berapa ?”, Shaqy memberondong tak sabar sambil memegang pundakku.

“Dua, kamu sendiri ?”, aku bertanya balik. Shaqy terdiam. Manyun dan melepas pandangannya keruangan. Sendu.

“Kenapa ?”, tanyaku penasaran.

Shaqy tersenyum dingin. “Sudahlah gak usah ditanyakan, aku belum menikah Mid”, jawabnya kalem.

“Yuk duduk disini saja itu acara sudah dimulai”, ajaknya mengalihkan perhatian. Aku hanya diam. Kutak berani bertanya lebih jauh. Dia begitu istimewa bagiku. Aku tak mau melukai hatinya. Dialah dulu tempat berkeluh kesahku. Dia rela mengorbankan apa saja untukku walau dia butuh. Aku hanya berusaha menerka-nerka apa sebab dia belum menikah. “Shaqy…engkau baik, tampan, sholih, dewasa, mapan….tapi kenapa kau belum menikah ? Tak mungkin tak ada wanita yang tertarik padamu. Semua ada, kau cerdas. Bila seorang wanita kenal denganmu dan tahu baiknya engkau pastilah engkau mendapatkan wanita yang engkau inginkan. Tapi…umur sudah kepala tiga dan lima tahun lagi sudah berkepala empat tapi kenapa engkau belum menikah juga ?”, hatiku sibuk bercerita sendiri.
***
Sosok perempuan anggun duduk di depan hadirin. Berkerudung putih mengkilap dengan baju panjang batik. Sungguh serasi dan cantik. Wajahnya putih berseri dengan senyum manis di lesung pipi sebelah kiri. “Itukah Fatiya Adzikro sang penulis buku itu ? Benarkah dia sudah menikah ?”, hatiku penasaran. Tak ada tanda bahwa dia telah menikah. Masih muda nan belia. Cerdik dan energik. Fatiya Adzikro. Dia kira-kira 13 tahun dibawaku. Tapi kelihatan anak kuliahan yang masih imut.
Aku terus menatapnya. Ada sesuatu yang terbersit di otakku. Aku seperti pernah melihat dan pernah mengenal wanita itu. Tapi dimana aku tak tahu. Yang jelas aku hanya pernah melihat foto dia dengan pose miring di buku itu. Dan itu wajahnya tidak seimut aslinya. Aku semakin heran dan aku merasa dekat dan sangat mengenalnya. Ku berpaling. Kulihat Shaqy hanya tertunduk. Ku lihat lagi sosok Adzikro itu, kuamati seperti aku melihat perempuan yang sangat memikat hatiku. Aku merasa ada sebuah kisah yang mengingatkanku dengan melihat sosok Fatiya. Tapi apa aku belum menemukannya.

Ku tengok lagi Shaqy dia masih tertunduk dan kelihatan sendu. Apa pula yang terjadi padanya aku tambah bingung. Kenapa dia enggan untuk melihat ke depan ? Ditangannya sebuah HP yang dipencet-pencetnya tak jelas.

“Baik hadirin segera saja saya kenalkan pembicara kita, yang pertama adalah penulis buku Nikah Beda Harokah (Gerakan) so What Githu Loh ! Hadirin pasti sudah mengenalnya siapa beliaunya. Beliau penulis buku yang lagi laris-larisnya ini. Yaa…Fatiya Adzikro lahir di Surabaya tanggal, bulan dan tahunnya nanti tanya sendiri dengan beliaunya ya….karena saya sangat segan. Tidak tahunya beliau ini masih sangat muda sekali tapi punya pengalaman luar biasa untuk dibagi pada kita semua”, moderator itu masih terus nyerocos menerangkan CV sang pembicara. Dan aku semakin tertegun mendengarnya, karena CV itu aku seperti pernah membacanya. Tapi…lagi-lagi aku susah menemukan jawabannya.

Aku menoleh pada Shaqy. Aku ingin bertanya pada dia. Tapi dia masih terus tertunduk. Dan perlahan dia menarik nafas panjang seperti ada rasa sesak yang menyumbat dadanya.

***

“Menikah, saya yakin disini pasti banyak yang telah menikah, pasti banyak yang masih merencanakan dan pasti banyak pula yang masih berkeinginan. Menikah kata yang indah, yang terpampang di pelupuk mata bagi orang yang belum merasakannya. Menikah peristiwa bersejarah bagi orang-orang yang telah melakukannya”, suara Fatiya mulai terdengar. Merdu dengan bait-bait kalimat yang memukau qalbu.

“Buku ini saya tulis tidak hanya saya ingin berbagi dengan pembaca, namun buku ini mempunyai kisah, kisah yang sangat berarti bagi saya. Buku ini adalah memoar, dimana ia menjadi bukti sebuah persahabatan sejati. Dia bukti deraian air mata, canda dan tawa. Pergolakan hati dan penantian atas semua qadlo Ilahi.
Buku ini adalah bukti bahwa madzab dalam agama tidak menjadikan para penganutnya egois menurutkan hawa nafsunya. Buku ini adalah penghargaan bagi seseorang yang telah membuka hati saya untuk berpikir lebih dalam bahwa Islam itu hanya satu. Walau madzab berbeda tapi landasan itu hanya satu, Al Qur’an dan Al Hadits. Buku ini adalah hadiah bagi mereka yang mampu mengalahkan egonya, yang mampu menerima saudaranya semuslim sebagai sahabatnya. Tempatnya bercerita, berkeluh kesah menyelesaikan masalah umat. Bukan untuk mencerai beraikan umat. Buku ini bercerita betapa persaudaraan dan persatuan itu agung. Walau berbagai perbedaan tapi bisa bersatu mewujudkan bahtera rumah tangga yang harmonis, sakinah mawadah warohmah”, Fatiya terus berceloteh dan tiba-tiba ia terdiam.

“Walau buku ini bisa tertulis diiringi dengan deraian air mata, pengorbanan perasaan, cinta dan kasih sayang. Namun….sebuah lilin telah menyala menerangi sebagian hidup saya sehingga saya bisa terbuka, saya bisa realistis dalam menerima ketetapan Allah. Bahwa perbedaan itu nyata dan jodoh itu memang benar-benar ditangan Allah. Tak ada hak manusia untuk mencampurinya. Dia adalah hak perogatif Allah”, nada-nada suara itu penuh arti. Arti yang mendalam. Aku semakin yakin bahwa aku mengenal sangat mengenal dia, walau aku baru kali ini berjumpa dengannya.

“Dalam buku ini ada kisah lilin yang menerangi hati saya. Bagaimana saya mengenal tentang perbedaan harokah dalam gerakan Islam. Dialah yang menjadikan saya bisa berpikir realistis untuk menerima semua perbedaan yang ada sehingga saya berani bertekad untuk menikah walau harus beda harokah. Banyak yang melarang, banyak yang memberi pertimbangan, banyak yang menyodorkan ke saya untuk menikah satu harokah. Namun ketika saya menjalani proses dengan mereka yang disarankan ada saja hambatan yang tidak sesuai dengan syari’at. Akhirnya hanya penyerahan diri kepada Allah. Allahlah yang berhak memilihkan pendamping hidup kita. Dialah yang tahu mana yang terbaik bagi hidup kita.

Lilin itu terus menyala dengan nasehatnya dihati saya. Lilin itu terus bersama saya, menjadi sahabat terbaik dalam mengarungi kehidupan yang penuh dengan ujian yang tak disangka-sangka. Lilin itulah penguat keistiqamahan untuk terus tetap di jalan-Nya yang lurus. Dan lilin itu bagaimanapun dia, dia sangat sukses menjadi lantaran kehidupan saya yang sangat lebih baik. Pernikahan beda harokah yang saya jalani tidak seperti yang ditakutkan orang. Pernikahan yang saya jalani seperti yang dinasehatkan sang lilin, mudah dan menyenangkan, indah dalam suasana persaudaraan dalam persatuan umat Islam”, perempuan berlesung pipi itu masih terus berbicara. Dia benar-benar memaknai apa yang dia ucapkan. Semua hadirin terpaku melihat mata sang Fatiya yang berkaca. Mereka mengikuti nyanyian hati Fatiya. Mereka seakan tahu apa yang akan diungkap Fatiya.

Ku yakin mayoritas hadirin sudah tahu apa isi buku itu. Memang sebuah tragedi ketika membacanya. Banyak perjuangan yang mungkin tak mampu dilakukan oleh kebanyakan orang.

“Aku menikah bukan karena nafsu. Tapi aku menikah punya misi besar. Dimana misi itu bisa ditiru oleh mereka yang ingin mengadakan perbaikan umat. Oleh mereka yang benar-benar menyatukan umat. Aku menikah bukan karena keinginanku, tapi aku menikah dengan laki-laki pemberian Allah. Karena aku pada mulanya tak mencintai bahkan tak mengenalnya. Aku telah berkorban apa saja demi misi ini. Keluargaku sempat kacau balau sehingga antara orang tua dan saudaraku bertengkar. Mereka melarangnya tapi orang tuaku mendukungnya hingga akhirnya ibuku meninggal dengan sakit struknya. Kakak terbaikku membenciku. Teman-teman sengajiku sedikit-demi sedikit menjauhiku. Dan sahabat terbaikku pergi walau dia sebenarnya yang kuharapkan menjadi pendamping hidupku. Namun apalah daya semua kehendak Allah. Orang yang kita inginkan belum tentu baik bagi kita. Dan Allah yang lebih tahu apa yang terbaik bagi kita. Sukses besar membutuhkan pengorbanan besar. Walau aku tak sempat melihat penyatuan umat tapi aku puas dan bahagia bila bisa menjadi salah satu bibit dari persatuan itu”. Itulah satu paragraf yang menurutku cukup berkesan untuk diingat dan dijadikan nasehat bagi pembacanya.

Suasana semakin haru dan tak sedikit yang menitikkan air mata. Rupanya Fatiya menangkap keharuan itu, dia pun segera menyerahkannya pada moderator. Disampingku seorang lelaki ikut menitikkan air mata. Dan baru kali ini aku melihatnya seperti itu. Shaqy, rupanya dia sangat memaknai apa yang dikatakan Fatiya. Tapi aku merasa aneh begitu mudahnya seorang Shaqy yang tegar itu menitikkan air mata, adakah cerita yang sama ?

Acara diskusi telah dibuka. Tiba-tiba aku ingat sebuah kisahku dengan Shaqy ketika masih kuliah. Terbuka begitu terbuka, aku ingat semuanya. Tepat. Aku memang kenal Fatiya. Tapi benarkah Fatiya itu teman Shaqy yang bernama Asmarani ? Apakah Fatiya itu hanya nama pena ataukah nama asli ? dan benarkah sosok Fatiya itu pernah menjadi bagian hidup dari Shaqy ? Inikah arti dari titik air mata itu ? Bila benar itu memang sebuah tragedi yang kembali terbayang di depan mata. Masyaallah ! “Jika benar dia…..”, mulutku mengoceh sendiri. Aku sangat terkejut ketika tiba-tiba Shaqy beranjak dari tempat duduk.

“Mau kemana Qy”, tanyaku cepat.

“Aku keluar sebentar”, jawaban politis. Kulihat matanya penuh air tak terbendung. Dia tertunduk dan akhirnya satu titik air jatuh ke lantai. Kenapa laki-laki bisa menangis ? Hatiku bertanya heran. Aku sangat susah untuk menangis walau peristiwa itu sangat mengguncang dadaku. Tapi ini…apa yang terjadi pada sosok Shaqy yang tegar. Apa karena lembutnya hatinya sehingga dia sangat tersentuh dengan cerita Fatiya ? Ku pikir tak sekedar itu.

“Ada yang kau sembunyikan. Mari keluar dan berceritalah”, pintaku pada seorang sahabat yang pernah menjadi gudang keluh kesahku ini. Waktunya untuk meringankan bebannya. Tidak aku saja yang terus memberatkan dia dengan keluh kesahku dalam menjalani hidup ini. Aku harus berarti bagi saudaraku. Yaa…lebih tepatnya bisa menjadi lilin seperti yang Fatiya bilang.

Acara belum selesai, namun kaki kami melangkah ke mushola. Kulihat Shaqy langsung pergi ke tempat wudlu. Dia ingin mengambil air suci untuk menyegarkan otak dan jiwanya. Pastilah sangat segar dengan guyuran air wudlu. Kulihat dia lebih tenang.

“Berceritalah”, aku masih memohon.

Kulihat dia mendesah panjang. Sepertinya dia sangat berat untuk membuka perasaannnya. Maklumlah dia laki-laki bukan perempuan.

“Kalau kau tak mau cerita aku yang akan bertanya”, aku memberondongnya.

“Bertanyalah”, jawab wajah tirus ini pelan.

“Aku teringat semua ceritamu tentang seorang wanita yang pernah menjadi sahabat dan adikmu. Sebelumnya maaf beribu maaf. Apakah Fatiya itu Asmarani ?”, aku tak sabar ingin tahu. Shaqy langsung menatapku lekat. Dia seakan tak percaya aku akan melontarkan pertanyaan yang telah 15 tahun lebih terpendam.

“Kenapa ?”, aku hanya bisa bertanya heran. Diapun langsung tertunduk dan kembali kudengar dia menarik nafas panjang.

“Dialah orangnya Mid”, jawabnya sambil memandang langit lepas.

Aku terdiam. Aku tahu apa yang dirasakan seorang Shaqy. Fatiya. Rupanya dia adalah Asmarani. Asmarani sebuah cerita yang pernah tergores di hati Shaqy. Wanita itu memang sempurna. Sempurna segala-galanya. Cantik, cerdas, anggun, sholehah. Semua laki-laki pasti mengharapkannya menjadi pendampingnya dan laki-laki yang mendapatkannya pasti sangatlah beruntung.

“Aku tahu sekarang kenapa engkau sampai saat ini belum menikah. Engkau sakit hati, hatimu hancur karena engkau belum sempat memberitahu dia bahwa engkau mencintainya dan akhirnya dia menikah dengan orang lain. Tapi….kenapa Rani tega melakukan itu kepadamu Qy, bukannya dia sangat menyayangimu. Bukannya dia juga berharap engkau bisa jadi pendampingnya ? Kenapa semua ini bisa jadi begini ? Dan siapa lilin yang disebut-sebutnya itu ? Betapa teganya dia berkata seperti itu dan dia tahu engkau hadir disini ? Kenapa Qy, jawab ?”, aku emosi. Aku tak rela sahabatku dihianati seorang wanita yang sangat dicintainya.

“Dasar perempuan!”, umpatku dalam hati kesal.

Aku tahu betul bagaimana Shaqy dan Asamarani. Tak hanya setahun persahabatan mereka. Walau mereka belum saling ketemu tapi dari surat yang ku baca mereka begitu dekat. Walau itu bukan pacaran tapi cukup menggoreskan sebuah kasih sayang yang benar-benar berlandaskan cinta karena Allah. Sebuah ironi, surat dan suara bisa mengikat dua hati tanpa bertemu wajah. Hanya foto-foto yang bisa dilihat dan itu tak cukup untuk melihat sosok seseorang tapi mereka mampu memaknai persahabatan itu tanpa harus bersama dan bertemu muka.

Tiba-tiba HP Shaqy berbunyi. Rington Ribatul Ukhuwah dari group nasyid Shoutul Harokah itu turut mengiringi kepiluan hati.

“Assalamu’alaikum”
“Kakak lagi di mesjid”
“Ya sudah ditunggu disini saja, suruh mengantarkan panitia ya….”
“Wa’alaikumsalam”

Sepenggal pembicaraan kudengar. Siapa yang mau ke mesjid ini ? bukan urusanku, sudahlah itu urusan Shaqy. Aku hanya ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi antara Shaqy dan Asmarani alias Fatiya sang penulis buku best seller itu. Sejak aku dan Shaqy berpisah memang aku tak mengetahui lagi bagaimana persahabatan mereka.

“Rani mau kesini Mid”, Shaqy memberi tahu. Aku terbelalak.

“Jadi engkau juga masih berhubungan dengan dia Qy ? Dan pasti dia juga yang menyeretmu untuk datang kesini ? Masih istimewakah dia di hatimu Qy ?”, aku mencecarnya. Aku tak rela, sekali lagi aku tak rela sahabat baikku ini terbelenggu oleh cinta tak yang disampainya.

“Dialah yang memberitahu acara ini. Dia tidak memaksaku datang Mid. Percayalah. Aku yang ingin bertemu padanya. Karena ada sesuatu yang dulu belum sempat kuberikan dan ingin kuberikan sekarang agar aku tidak terbebani lagi”, dia bertutur tabah walau kulihat segelayut kepiluan di matanya.

“Engkau sangat mencintainya Qy ?”, tanyaku sok romantis.

“Tak hanya mencintainya, dia sangat istimewa dan belum kutemukan seorang wanita yang melebihi dia bahkan yang menyamainya, belum kutemukan. Itulah sebabnya aku tak bisa menggantikan posisi dia di hatiku Mid”, Wow roman picisan. Rupanya aktivis da’wah juga menyimpan cerita cinta yang tak kalah bermakna dari anak-anak ingusan itu.

“Sampai kapan engkau akan seperti itu Qy ? Bukankah engkau telah dihianatinya dengan seorang lilin yang telah ditemukannya ? Engkau bukan anak SMA lagi tapi umurmu sudah berkepala tiga dan tak lama lagi sudah berkepala empat, apakah itu realistis bagimu ? Kenapa engkau mau dibodohi !”, aku mencecar. Aku tak rela temanku terpuruk hanya gara-gara seorang wanita yang membunuh kehidupannya. Tiba-tiba Shaqy menatapku tajam. Wajahnya memerah.

“Cukup Mid ! Cukup ! Jangan kau bilang dia membodohiku. Bukan dia yang pecundang tapi akulah yang bodoh dan akulah yang pengecut. Aku seperti ini bukan karena Rani, tapi karena diriku sendiri. Sekali lagi jangan kau jelek-jelekkan dia, karena dia sudah benar mengambil jalan hidupnya. Kau tidak tahu betapa menderitanya dia. Dia punya alasan kuat dia menikah dengan laki-laki lain. Karena aku tak bisa membahagiakannya”, suara Shaqy semakin merendah dan akhirnya tertunduk tak berkata-kata.

Kulihat sosok anggun itu berjalan menuju serambi mesjid ditemani seorang wanita yang tadi menjadi moderatornya. Aku taktertarik lagi melihatnya. Walau dia anggun bagaimanapun dia telah menghancurkan kehidupan sahabat terbaikku. Aku geram dan ingin kumarahi habis-habisan dia. Tapi emosiku tertahan. Ini di mesjid dan dia seorang berjilbab yang patut untuk dihormati. Jika melihat sosoknya aku sebenarnya tak percaya bila Rani alias Fatiya tega menyakiti Shaqy. Aku pun terdiam mendengar dia mengucapkan salam.

“Assalamu’alaikum”, suaranya lembut. Menenangkan.

“Wa’alaikumsalam”, Shaqy yang menjawabnya.

“Terimakasih kakak sudah mau datang”, kulihat Rani alias Fatiya tertunduk dalam.

Aku bingung, apa yang sebenarnya terjadi pada mereka berdua. Sepertinya perasaan itu masih ada. Aku bisa merasakan. Baru kali ini di depan mataku sendiri dua sahabat itu berbicara melalui perasaan. Aku masih heran. Mereka tak pernah bertemu tapi kenapa bisa sehati ? dan kenapa mereka bisa terpisah padahal mereka kelihatan sangat saling mencintai ? entahlah. Apakah memang begini kehidupan itu ? Hanya Allah yang tahu.

Rani dan Shaqy hanya diam. Aku juga tak tahu apa maksud mereka bertemu. Kadang saling pandang dan akhirnya pandangan itu mereka buang masing-masing ke pohon-pohon hijau yang menantang awan. Wanita yang tadi jadi moderator itupun kelihatan bingung. Tapi dia juga hanya diam karena dia merasa itu tak baik untuk ikut campur.
Ku arahkan pandangan pada Shaqy. Mulutnya seakan terkunci. Akupun menjadi berang. Aku tahu hati Shaqy luluh lantak. Bagaimana tidak, orang yang dicintainya kini hadir kembali. Namun yang dicintainya itu telah menjadi milik orang lain.

“Dik kau lihat sendiri apa yang terjadi. Lihat ! Lihat sahabatku ! Lihat !”, aku berbicara agak keras. Fatiya menoleh. Dia terkejut melihat aku berbicara keras sambil menunjuk-nunjuk Shaqy. Bengong tak tahu apa yang terjadi padaku. Semua pandangan mengarah padaku.

“Hanya karena engkau telah menemukan lilinmu akhirnya kau menyampakkan dia. Betulkan ?! Sebaik apakah lilinmu itu sehingga bisa menggantikan posisi dia di hatimu ?! Hah ?!”, aku kehilangan kendali. Aku kalap. Aku benar-benar tak rela sehingga diriku jadi lupa. Emosiku terus naik. Shaqy secepat kilat menatapku tajam. Mata Fatiya memerah dan berair.

“Cukup Mid ! Cukup ! Sudah kubilang ini bukan salah Rani. Cukup Mid !”, Shaqy memegangi tanganku dan membujukku untuk meredakan emosi. Entah mengapa aku jadi marah besar kepada Fatiya. Aku hanya membayangkan jika itu terjadi pada diriku. Dan betapa sakitnya bila terjadi pada orang lain. Apalagi pada sabahat yang sangat kusayangi.
Fatiya menatapku tajam.

“Anda tahu apa tentang kami berdua ? Siapa anda sehingga berani memarahi saya ? Hati-hati bila berbicara tuan. Lisan itu lebih tajam dari pada pedang”, kalem tapi mendalam. Pelan tapi geram. Aku tertegun. Diam seribu bahasa. Berani juga perempuan ini. Aku semakin mengenalnya. Begitulah Rani yang pernah diceritakan Shaqy. Berani, siapapun akan dilawannya bila menginjak harga dirinya.

“Sabar-sabar Dik, dia sahabatku. Dia memang tahu walau tak semuanya. Maafkan yaa…ini salah faham”, Shaqy menenangkan Fatiya.

“O ! Sahabat kakak, tapi dia tak bisa menjadi sahabat bagi dirinya sendiri. Kenapa dia bisa menjadi sahabat kakak. Kakak tidak salah memilih dia menjadi sahabat ?!”, suara Fatiya agak meninggi. Menyindir.

Plak ! Aku merasa tertampar dengan keras. Deretan kalimat yang keluar dari mulut mungil itu begitu menampar wajahku. Benarkah aku tak bisa jadi sahabat diriku sendiri ? Aku diam. Setelah kutelusuri hatiku, memang benar bahwa aku tak bisa jadi sahabat diriku sendiri. Emosiku selalu menekanku. Sehingga aku selalu terpancing untuk melawan hati kecilku. Pantaskah aku jadi sahabat Shaqy ?

“Bila Anda memang benar sahabat kak Shaqy seharusnya sikap Anda tidak demikian terhadap saya. Karena Anda sudah tahu bagaimana persahabatan saya dengan kak Shaqy. Bila Anda menyakiti perasaan saya berarti Anda telah menyakiti perasaan Kak Shaqy. Itu yang anda perlu camkan”, pelan tapi tegas. Ringan tapi keras. aku hanya tersekak. Rupanya Fatiya lebih piawai dalam bersahabat. Serta lebih diplomatis ketika berbicara. Dan Shaqy tidak salah memilih dia menjadi sahabat dalam hidupnya.

“Satu hal yang perlu anda tahu. Lilin yang anda tanyakan itu…..dialah Kak Shaqy. Sahabat anda sendiri. Dialan lilin hidup saya. Dialah yang membuka cakrawala hidup saya, sehingga saya mengerti makna hidup ini. Sehingga saya mau dengan ikhlas dan sabar menerima ketetapan Allah walau saya tidak menyukai. Saya seperti ini sekarang harus bisa menempatkan hati pada siapa yang menjadi belahan hidup saya dan siapa yang menjadi sahabat saya. Semua itu bukan semudah yang Anda bayangkan.

Anda harus lebih banyak belajar untuk mendengar dan mengerti orang lain. Jangan hanya pandai mencecar tapi tak mempunyai bukti kuat untuk menuduh”, kokoh. Sosok berjilbab sempurna itu masih kokoh berdiri di depanku. Kata-katanya tajam penuh isi. Shaqy yang berdiri tak jauh darinya hanya bisa diam. Dan aku semakin kaku dibuat Fatiya. Entah kemana kegaranganku tadi. Semua lenyap ditelan kalimat berwibawa itu.

“Kak…..maafkan aku, kayaknya aku harus pergi. Hatiku semakin perih bila harus berlama-lama dengan seperti ini. Maafkan aku tak ada yang istimewa di pertemuan yang tidak tahu bisa terulang lagi atau tidak. Aku pamit. Do’akan aku kak….”, tiba-tiba Fatiya menyeret temannya dan melangkah pergi. Aku tersentak. Begitu pula Shaqy. Dia lebih terhenyak karena tak menyangka pertemuan itu hanya sekilas lalu dan ternodai dengan kebodohanku.

“Dik tunggu !”, Shaqy tiba-tiba teriak.

Langkah Fatiya terhenti. Dia menoleh. Dan tak kusangka dia berderai air mata.

“Dik maafkan sahabatku yaa….ini hanya salah faham. Maafkan yaa….dan jangan sakit hati”, Shaqy memohon melas. Kulihat Fatiya hanya mengangguk dengan tatapan sendu. Aku jadi merasa bersalah dan memaki-maki diriku sendiri.

“O ya dik, sebenarnya kakak ingin bertemu karena ada sesuatu yang ingin kuberikan. Dulu tak sempat kuberikan karena Dik Rani telah menikah. Ini terimalah…. “, Shaqy menyerahkan kotak segiempat terbungkus rapi dari dalam tasnya.

“Apa ini kak?”, tanya Fatiya haru.

Kulihat Shaqy menarik nafas panjang. Ada rasa enggan dia bercerita apa isi dari kotak kecil itu.

“Dik Rani berjanji ya….setelah tahu Dik Rani mau menerimanya ?”, Shaqy mengajukan syarat.
Fatiya memandangi kotak itu dan tak segera memberikan jawaban. Tak lama kulihat Fatiya menggangguk.

“Itu isinya perhiasan. Dulu rencana untuk mahar kakak bila diberi izin Allah untuk menikahi Dik Rani. Tapi karena Allah menetapkan lain maka…..”, Shaqy terdiam. Tertunduk dalam. Tak ada yang berbicara. Semua tahu itu kejadian pilu, sangat memilukan.Tiba-tiba….

“Maka….maka….ini kuberikan sebagai hadiah untuk Dik Rani”, tegar kalimat itu terdengar.

Tak terasa air mataku menitik. Kasih sayang itu tak pudar walau dia telah menjadi milik orang lain. Itukah cinta suci, cinta sejati, cinta karena Ilahi ? Subhanallah ! Tak semua orang bisa tegar menerima semua ini. Dia memang lilin. Dia rela mengorbankan dirinya terbakar agar bermanfaat bagi orang lain.

Kulihat Fatiya masih ternganga mulutnya. Dia tak sanggup mau bilang apa. Semua tak disangkanya. Sebegitu jauhkan dulu Shaqy merencanakannya ? Sebegitu mendalamkah kasih sayangnya ? Semua tak di sangka Fatiya.

Kudengar Fatiya terisak. “Kak….”, tertahan.
“Kak, kenapa perhiasan ini tidak kakak berikan pada calon istri kakak nanti”, Fatiya masih belum percaya.

“Dik…itu hakmu, aku membeli untukmu bukan untuk orang lain. Jika nanti kakak menikah, ya…kakak beli lagi untuk istri kakak. Sudahlah terima ya….jangan kecewakan kakak”, Shaqy menjelaskan setengah memohon.

“Kak hanya Allah yang bisa membalasnya. Hanya Allah yang tahu tulusnya kasih sayang kakak pada Rani. Aku tak tahu harus bilang apa. Aku tak berdaya. Semua ditangan yang Maha Kuasa. Mungkin akan lebih bahagia jika kita bersama….tapi manusia tak boleh berandai. Manusia harus menerima apa yang ditetapkan sang Kuasa”, Fatiya tersedu.
Detik demi detik itu berlalu. Dan aku turut semakin pilu walau aku belum jelas tahu apa yang menyebabkan perpisahan dua sahabat yang saling merindu itu ?

Wanita disebelah Fatiya juga sibuk menghapus air mata dengan sapu tangannya. Dia membayangkan seandainya itu terjadi padanya pastilah lebih pilu lagi. Karena dia tahu bahwa dia tak setegar Fatiya dan Shaqy. Mungkin tak hanya yang berdiri disini, mungkin semua akan menarik nafas panjang yang menyesakkan dada, walau tak semua bisa menitikkan air mata. Ini bukan romanpicisan. Tapi kejadian yang sangat nampak di pelupuk mata.

“Sudahlah Dik….yang istiqamah ya…..sabar ya….semua pasti ada hikmahnya”, nasehat Shaqy. Sejuk terdengar di hati. Ya…memang hanya itu nasehat mujarab penenang hati.

“Ya….”, suara Fatiya serak.

“Kak….maaf Rani harus pergi, karena Rani harus ngejar jam terbang pesawat. Takut terlambat. Semoga kita bisa bertemu kembali…”, Fatiya berusaha mengakhiri.

“Hati-hati Dik….”, hanya itu yang bisa terucap dari mulut Shaqy melepas orang yang sangat disayanginya. Bertahun-tahun pernah tinggal dijiwanya.

Fatiya menatap Shaqy sendu. Antara berat dan harus pergi. Mata keduanya berkaca. Wanita pendamping Fatiya pun tak kalah terharunya. Aku sendiri setetes demi setetes mengalir ke pipi. Baru kali ini kelelakianku luluh lantak melihat tragedi yang terjadi di depanku. Seandainya itu terjadi padaku….? Wallahua’lam.

“Assalamu’alaikum”, Fatiya pun pamit diiringi langkahnya yang enggan.

Kamipun hanya bisa menjawab, “wa’alaikum salam”.

***

Dari jauh sang moderator Fatiya berlari-lari kecil.

“Mas Shaqy tunggu !”, teriaknya. Kami pun berhenti.

Dengan nafas ngos-ngosan dia menyerahkan bungkusan.

“Tadi Mbak Fatiya titip. Dia lupa ngasihkannya tadi. Dia bilang semoga bisa jadi kenang-kenangan”, jelasnya sambil terengah-engah.

“Oh…trimaksih ya..”, jawab Shaqy sopan.

“Dah Mas ya…assalamu’alaikum”

“Wa’alaikum salam”, jawab kami berdua.

Udara sejuk menerpa kami yang naik sepeda motor. Beginilah hari-hari kami ketika kuliah. Kesana kemari menyelesaikan tugas. Tak lama kami sampai di rumah tempat kontrakanku. Rupanya istri dan anakku sedang pergi jadi kami lebih bebas untuk melepas rindu di hati.Shaqy tak sabar ingin melihat apa isi dari bingkisan itu. Dengan pelan ia membuka bungkusnya yang terlipat rapi. “Subhanallah !”, rasa senang tersirat diwajahnya.
Kulihat bungkusan itu berisi sebuah qur’an tadjuwit lengkap dengan terjemahannya. Sepotong baju koko dan kopyahnya. Sebuah jam tangan yang cakep bentuknya. Dan ada sebuah amplop yang kupastikan isinya adalah surat. Dan aku tak salah lagi. Shaqy membukanya dan aku disuruh ikut membacanya.

Medan, 17 Januari 2008

Untuk saudara yang diberikan Allah kepadaku
Di ladang keistiqamahan

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Selamat ulang tahun yang ke-35 ya kak. Surat ini tertulis pas tanggal lahirmu, walau hadiah ini kuberikan lewat berbulan-bulan dari hari lahirmu. Hadiah ini kubeli pas hari lahirmu. Aku ingin mengirimkannya padamu tapi engkau tak kunjung memberikan alamatmu. Hadiah ini hanya kusimpan dan aku sangat yakin akan bisa memberikannya, walau aku tak tahu kapan aku akan diberi kesempatan untuk berjumpa denganmu.

Kak…alqur’an ini adalah pengganti diriku, jika engkau gundah gulanya bacalah dia sehingga engkau menemukan ayat-ayat cinta di dalamnya. Cinta yang abadi yang datang langsung dari yang Maha Mencintai. Semoga Al qur’an ini bisa menjadi penuntun keistiqamahanmu. Semoga bisa menjadi pengobat lara.

Jam ini semoga bisa mengingatkanmu bahwa waktu terus berjalan dan umurmu semakin pendek. Bersegeralah untuk menikah agar terpenuhi setengah dari dienmu. Sehingga ketika engkau meninggal engkau telah menggenapkan agamamu.

Baju koko batik dan kopyah ini. aku berharap ini bisa menjadi pendamping ijab qabulmu sebagai pengganti kehadiranku…

Semoga semua harapan ini bisa terkabulkan. Dan satu hal aku ingin engkau bahagia. Karena jika engkau bahagia aku akan lebih bahagia. Penuhilah harapanku….
Sekali lagi selamat ulang tahun. Semoga segera cepat menemukan wanita yang didambakan.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Asmarani

Aku dan Shaqy hanya bisa menarik nafas panjang. Tak ada yang terkatakan. Shaqy melipat surat itu dan memasukkannya kembali ke amplop. Kemudian membungkusnya lagi hadiah dari Fatiya itu. Dia minta izin untuk ke kamar mandi. Tiba-tiba HPnya bunyi.

“Qy telepon !”, teriakku.

“Angkatlah dulu”, jawabnya dari balik pintu kamar mandi.

“Assalamu’alaikum Fatiya”, sapaku.

Tut…tut….dimatiin.

“Siapa Mid?”, tanya Shaqy setelah selesai dari kamar mandi.

“Fatiya, tapi dimatiin”, jawabku pendek.

Taklama bunyi sms dari HP Shaqy.

Kak sp td yg angkt tlp ? kok lain suarany ? mkasih hadiahny. Sudah kulihat. Cakep n cantik tp maaf tdk akan ku pakai krn takut suamiku jd salah faham. Akan kusimpn sbg tbungan dn kenang2an. Sdh dlhat hadiah drku?

Kami hanya nyengir. Dan Shaqy kelihatan tegar dan sabar.

Y gpp. Dsimpan sj. Kk jg tak ingin bl nnti jd kericuhn d rmh tnggamu dik. O iya sdah ku buka. Makasih ya….walau aku tersindir tp tak apalah mngkin ini pringatan untkku. Hati-hati ya dik…

Walau lama ingin mengirim sms itu akhirnya terkirim juga. Sms balasan pun terdengar lagi.

“oiya kak tlng sms ini dbacakn untk temenmu itu. “Seorang sahabat adalah seseorang yang mengetahui nyanyian didalam hatimu, yang dapat menyanyikannya kembali untukmu”.smg engkau bs menjd sahabat terbaik lilinku.maaf bila td hrs menyakitimu

Aku tertegun. Terharu. Inilah persahabatan. Inilah penyerahan kepada tuhan. Dan akhirnya aku tahu kenapa sang lilin berpisah dengan Fatiya. Bukan Fatiya yang menyakitinya tapi lilinlah yang tak berani untuk memberikan harapan pada Fatiya. Lilin yang mengizinkan Fatiya menikah dengan orang lain. Karena ia merasa belum mampu membahagiakan Fatiya saat itu. Apa yang kita cintai belum tentu baik bagi kita. Dan pemberian Allah pasti terbaik untuk kita.*az

***********************************
Telah diterbitkan oleh Harian Analisa Medan
hari Rabu 19 Agustus 2009 dalam rubrik cerpen
************************************

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s