Arsip untuk November, 2009

Lomba Menulis

Posted: 30 November 2009 in Info

Tenggat: 7 Desember 2009

BAYANGKAN: Anda adalah Penulis yang Sangat Sukses. Karya-karya Anda Sangat Dinanti oleh Jutaan Pembaca di Seluruh Dunia. Buku-buku Anda Difilmkan, atau Mendapat Penghargaan Tingkat Dunia.

Nama Anda Dikenal di Mana-mana Sebagai Salah Seorang Penulis Paling Hebat di Indonesia bahkan Dunia!
Bagaimana Rasanya? Apa yang Anda Pikirkan?

Apapun yang Anda Rasakan dan Pikirkan, Itu Bisa Mengantarkan Anda untuk Mendapatkan:
Beasiswa dari Sekolah-Menulis Online (SMO) senilai Rp 1.500.000 untuk 1 (satu) orang yang karyanya terpilih sebagai TULISAN TERBAIK. Buku “Cara Dahsyat Menjadi Penulis Hebat” Paket III (Ebook Plus Asistensi Penulisan) senilai @ Rp 295.000 untuk 5 (lima) orang.

“Wah, kok bisa mendapat hadiah yang sangat menggiurkan seperti ini?”
Ya, Bisa, Dong. Sebab Website PenulisHebat.com mengadakan:
Lomba Menulis dengan Tema, “Saya Ingin Menjadi Penulis Hebat!”

Bila menjadi PEMENANG, maka Anda berhak atas hadiah-hadiah seperti yang disebutkan di atas!
Berminat?
Info selengkapnya, klik http://www.penulislepas.com, lalu cari
tulisan dengan judul yang sama dengan judul email ini)

Terima Kasih dan Salam Sukses!
Infolomba (via infolomba[at]gmail.com) dari Buku PenulisHebat.com

Lomba Foto Pos Indonesia 2009

Posted: 30 November 2009 in Info

Tenggat: 1 Desember 2009 (Cap Pos)
PT POS INDONESIA bekerjasama dengan air photography communications mengadakan sebuah kegiatan fotografi nasional yang bernama “POS INDONESIA PHOTO CONTEST 2009”
TEMA LOMBA FOTO
“MELESTARIKAN WARISAN BANGSA YANG TERLUPAKAN”
Obyek Foto merupakan aktivitas manusia dalam menghasilkan karya seni dan budaya sehingga mampu menjadi warisan bangsa. Dengan harapan bahwa warisan bangsa tersebut dapat meningkatkan citra dan kecintaan bangsa.
DEADLINE : SELASA, 1 DESEMBER 2009 (CAP POS)
HADIAH LOMBA FOTO
• Juara I : Trofi & Uang Tunai Rp 13.000.000,-
• Juara II : Trofi & Uang Tunai Rp 9.000.000,-
• Juara III : Trofi & Uang Tunai Rp 6.500.000,-
• Juara Harapan : Trofi & Uang Tunai @ Rp 2.000.000,- (3 orang)
• Nominasi : Trofi & Uang Tunai @ Rp 1.500.000,- (7 orang)
Pajak Hadiah ditanggung Pemenang
REGULASI POS INDONESIA PHOTO CONTEST 2009
• Lomba foto terbuka untuk masyarakat umum di seluruh Indonesia.
• Jumlah foto yang dikirimkan oleh masing-masing peserta bebas dengan ukuran sisi terpanjang minimal 25 cm dan maksimal 30 cm dan sisi pendeknya mengikuti komposisi yang dipilih oleh masing-masing pemotret.
• Warna foto bebas & olah digital diperbolehkan kecuali menambah atau mengurangi unsur gambar dalam sebuah foto.
• Foto dikirimkan beserta soft copy dalam bentuk cd (low res) dan dibalik fotonya ditempel kertas yang berisi keterangan tentang: judul foto, deskripsi foto, nama, alamat lengkap, nomor telepon & alamat email.
• Seluruh foto yang masuk menjadi dokumen PT Pos Indonesia. Hak cipta foto tetap menjadi milik fotografer. Foto pemenang lomba dapat digunakan oleh PT Pos Indonesia untuk kepentingan promosi dan publikasi.
• Peserta yang menjadi pemenang lomba foto wajib menyerahkan surat pernyataan fotografer/pemotret mengenai pertanggung-jawaban hasil karya foto.
• Para pemenang lomba foto wajib menyerahkan hasil karyanya dalam bentuk CD (file Hi-Res) sebelum penyerahan hadiah.
• Keputusan Dewan Juri mutlak, sah & tidak dapat diganggu gugat.
• Karya peserta dikirimkan kedalam amplop tertutup dan dibelakang amplop wajib dicantumkan nama, alamat, nomor hp & email untuk kepentingan konfirmasi penerimaan kepada peserta. Pengiriman foto wajib melalui Jasa Layanan Pos Indonesia yang ditujukan kepada
PANITIA POS INDONESIA PHOTO CONTEST 2009
PO BOX 40000 2009
Bandung

WAKTU KEGIATAN
Batas Akhir Pengumpulan Foto : Selasa, 1 Desember 2009
Penjurian Lomba Foto : Jumat, 11 Desember 2009
Pengumuman Pemenang : Minggu, 13 Desember 2009
dapat dilihat di http://www.posindonesia.co.id & http://www.fotografibergerak.com
DEWAN JURI
PT Pos Indonesia (Persero)
Dudi Sugandi (Redaktur Foto)
Oscar Motuloh (Kurator Foto)
Ray Bachtiar (Fotografer)
Tantyo Bangun (Editor Foto)
Partisipasi anda merupakan energi bagi kami. Salam.
Fotografi bergerak!!
Informasi lanjut,
air photography communications
(padepokan fotografi bergerak)
jalan taman pramuka 181 bandung 40114
phone : (022) 70160771 fax : (022) 7234570
cp : Mrs Rani (022-92347207) & Mr Rico (0856-2343711)
email address : fotografibergerak@yahoo.com
website : http://www.fotografibergerak.com

Sumber: Laman resmi PT POS Indonesia

Nugget Ayam

Posted: 23 November 2009 in Resep Masakan

Bahan :

-500 gram ayam dicincang

-Bawang Bombay cincang halus

-Bawang putih cincang halus

-Roti tawar direndam

-2 telur

-Mrica secukupnya

-Gula secukupnya

-1 bungkus Tepung bumbu sajiku

-Tepung panir secukupnya

 

Cara membuat ::

  1. Ayam dicincang setengah halus
  2. Tumis bawang Bombay dan bawang putih
  3. Campur ayam cincang, roti tawar, telur, mrica bubuk, gula, masako rasa ayam
  4. Bungkus dengan kertas alumunium memanjang, kemudian kukus
  5. Setelah matang iris bulat-bulat seperti koin
  6. Masukkan dalam tepung bumbu satu persatu koin nugget
  7. Masukkan dalam putih telur dan lumuri dengan tepung panir
  8. Lakukan semua irisan nugget dan simpan dalam lemari es
  9. Goreng seperlunya sehingga menjadi lauk yang siap saji*az

Denting Hati

Posted: 23 November 2009 in Puisi, Sastra

Sayup terdengar suara

Dari balik jendela kaca

Isak tangis seorang wanita

Oh…Tuhan….

Sampai kapan ku begini…..

Tidak jelas akan hidupku ini

Sampai kapan ujian ini…

Kutak sanggup menanggung beban ini

Ya…Tuhan…

Ku tahu hidup ini permainan

Siapa yang sabar, dia yang menang

Ya Tuhan….

Karuniakan kesabaran

Tuk setiap wanita penghuni zaman

Karena…ditangan mereka sebuah masa depan*az

Masa Lalu

Posted: 23 November 2009 in Puisi, Sastra

Angin dingin menyeruak dari balik jendela

Malam senyap nan merana

Tetes-tetes air mata mengalir bersahaja

Tuk mengingat masa lalu nan bahagia

Siang malam terus berjalan

Berganti sampai waktu yang ditentukan

Kehidupan memang roda yang berjalan

Terus menapak merebutkan salah dan kebenaran

Masa lalu…

Tertoreh cerita

Pembangkit semangat hidup tuk terus bersahaja

Menapaki duri untuk terus mengarungi samudera

Samudera masa depan yang penuh rahasia

Penuh perjuangan dan pengorbanan untuk sebuah cita *az

17 Januari

Posted: 23 November 2009 in Puisi, Sastra

Kemuning Jingga merayap ke peraduan

Suara Jiwa mulai mengenang

Serak-serak suara persahabatan

Untuk seorang teman di seberang

 

17 Januari….

Tak ada yang istimewa yang bisa ku beri

 

17 Januari….

Tak seperti  7 tahun yang telah kita lewati

 

17 Januari….

Aku tetap mencatat dalam Hati

Benang persahabatan mulai dirajuti

Dirajut dengan sepenuh hati

Selembar kertas masih menjadi saksi

Atas tulusnya persahabatan ini

Walau sekarang ku tak bisa hadir

di hari kelahiranmu di bumi ini

 

Namun….

17 Januari….tetap menjadi bukti

Atas tulusnya do’a ini*az

Kejadian di Pasuruan sebenarnya bukan kejadian pertama kali dan bisa dipastikan telah terjadi puluhan bahkan ratusan peristiwa di seluruh Indonesia yang tidak sempat diekspose oleh media.

Yang jelas, kejadian Pasuruan adalah peristiwa kesekian kali yang menohok umat Islam. Apapun alasannya, akhirnya Islam tercoreng. Dalam benak masyarakat dapat dipastikan bahwa Islam identik dengan kekerasan, kesemrawutan, kemiskinan, keterbelakangan bahkan masih banyak lagi cap lain yang sebenarnya tak layak disandang oleh Islam.

Kejadian demi kejadian akhirnya mengukir  tabir hitam. Mendatangkan kejahatan dan ujungnya penolakan terhadap Islam. Islam radikal, Islam kejam, Islam ekslusif, mana bukti Islam sebagai rahmatallil ‘alamin ? inilah pertanyaan besar yang terus menggerayang di benak masyarakat dan mungkin dikalangan umat Islam itu sendiri. Hanya gara-gara ulah beberapa oknum yang terkesan sembrono dan tidak terencana serta nekad akhirnya membuat sebuah kesan yang tidak baik. Padahal bila ditelusuri lebih baik Islam itu benar-benar terencana, teratur, rapi dan yang telah dinash dalam kitab sucinya Islam adalah rahmatallil’alamin. Satu hal kunci yang harus dipegang yaitu PERUBAHAN dan itu BUTUH KEBERANIAN dan KEKOMITMENAN untuk mewujudkan identitas yang sebenarnya.

Sistem Dirubah, Mental Wajib Juga Di Rubah

Antara system dan mental SDM yang menjalankan sangat erat hubunganya, dan saling berkaitan. Bila hanya satu yang dirubah hanya akan menimbulkan kepincangan. Tidak hanya masalah zakat namun pemerintahan juga wajib demikian yang notabene sekupnya lebih luas dalam masyarakat.

Kisruh, ricuh dan lain sebagainya itu berawal dari mental bobrok yang  dipaksa untuk menjalani kehidupan. Manusia-manusia ini tidak siap menghadapi takdir dari hidupnya.

Kasus Pasuruan dan rentetannya yang lain adalah bukti bahwa masyarakat ini sangat bermental matrialistis. Ketika mendengar atau melihat “uang”, pasti matanya sudah “hijau” untuk segera meraupnya. Uang dan uang sebagai tolak ukur atas segalanya.

Walau Indonesia mayoritas masyarakatnya muslim namun mentalnya adalah mental Amerika yang liberal. Bila di Amerika atau Negara-negara eropa mungkin itu wajar, karena kehidupan mereka adalah liberal, glamour dan kapitalis. Sedangkan masyarakat Indonesia, seharusnya bermental kepribadian Islam (karena otomatis dari kemayoritasan Islam). Bukan sebaliknya mencampakkan Islam dan mengambil mental yang lain. Islam tidak pernah mengajarkan atau menjadikan uang sebagai tolak ukur dalam kesuksesan dan kebahagiaan hidup dari seseorang.

Pemahaman terhadap realitas kemiskinan dan kekayaan dalam Islam sangat perlu untuk dipahamkan kembali. Konsep terhdap Qadlo (ketetapan) dan Qadar (takdir) perlu diperbaharui. Karena inilah nanti yang akan merubah mental-mental matrialistis menjadi mental agamis. Mereka akan tahu bahwa member i itu lebih mulia daripada menerima. Melihat nasib orang lain dibawahnya akan memunculkan sifat bersyukur sehingga ia tidak akan gampang menjulurkan tangan untuk meminta bantuan atau selalu tergantung pada orang lain.

Ada hal menarik , banyak masyarakat bangga dengan status kemiskinan karena dengan harapan akan diberi  namun disisi lain mereka juga gengsi bila dibilang memang benar-benar miskin. Yang kaya bangga dibilang miskin agar tetap dikasih bantuan oleh orang lain sedang yang benar-benar miskin enggan untuk mengakui kemiskinananya dengan harapan ia dihormati dan tidak diremehkan dalam masyarakat. Merasa nyaman diberi diberi. Diberi zakat, diberi bantuan langsung, diberi beasiswa, berobat gratis dan lain sebagainya. Walau sebenarnya tidak semua masyarakat itu miskin, malah banyak kaum menengah yang berlagak miskin tapi kehidupannya royal,  hanya demi pemberian uang puluhan ribu hingga ratusan ribu. Dan yang lebih mengherankan mereka yang paling banyak adalah kaum ibu-ibu dan bangga dengan pemberian itu padahal itu tak layak untuk mereka dan banyak yang masih membutuhkannya.

Mungkin semua bisa maklum kalau mereka benar-benar miskin. Tidak bisa makan, tidak mampu beli pakaian, tidak bisa menyekolahkan anaknya dan lain sebagainya. Namun jika didapati di tengah-tengah gerumulan orang antri jatah pembagian zakat atau pembagian uang yang lain adalah mereka yang rumahnya gedongan,naik motor keren, TV 21’-29’, tiap hari jalan-jalan, makaan-makan di warung atau restoran . hal ini kan sangat ironi dan mendholimi sesame ? Seharusnya apa yang ia terima untuk orang yang lebih berhak namun dengan bangga dan senang hati menilapnya padahal yang lain mengerang sangat membutuhkannya.

Dibolak-balik, dibahas dan dirundingkan, didebat dan digunjingkan, semua rentetan ini adalah imbas dari system yang bobrok. Pemerintahan yang tidak baik sehingga tidak mampu memobilisasi kebijakan-kebijakan yang mendukung rakyat. Walau di atas telah dibahas tentang mental yang menjadi factor dan sumber kejadian, namun bukankah kenyataan juga turut andil di dalamnya ?

Semakin melonjaknya semua harga, mulai dari komoditas penting hingga kebutuhan sehari-hari adalah kenyataan dari system yang didukung kapitalis dan liberal sehingga mau tidak mau masyarakat juga bermental matrialistis sebagai produk dari system yang mengiringinya. Karena bila masyarakat tidak matrialistis maka ia tidak akan mampu menghadapi system yang matrialis juga. Sehingga apa garis besarnya ?

Poin penting adalah system harus direvolusi sehingga bisa merevolusi mental masyarakat tersebut. Mengalihkan uang menjadi bukan ukuran utama, mengalihkan mental matrialistis kepada mental mulia yang agamis.

Zakat Untuk Kesejahteraan Umat

Inilah sebenarnya salah satu bukti bahwa Islam adalah rahmatalilalamin karena Islam sangat peduli pada urusan dan kebutuhan umat.

Islam mengajarkan agar manusia bisa bermanfaat bagi orang lain bukan malah merepotkan orang lain, sehingga dalam hidup terpenuhi fungsi terciptanya manusia sebagai makhluk social dan juga individu. Bukan makhluk individu dan individu, sehingga bisa ditarik garis lurus perbedaan yang jelas antara manusia dengan makhluk lainnya.

Zakat hanya salah satu kewajiban yang harus dilakukan setiap muslim dan masih banyak lagi kewajiban-kewajiban yang lain. Zakat hanya salah satu bentuk kepedulian Islam yang menjadi rahmatalilalamin ini dan masih banyak rahmad Allah yang merupakan bentuk kepedulian Islam.

Pembagian zakat bertujuan untuk mensejahterakan umat. Menyetarakan kebahagiaan dan rezeqi yang dilimpahkan. Karena zakat hanya untuk  orang-orang tertentu yang sudah sangat jelas identitasnya. Sehingga membutuhkan orang-orang atau sebuah lembaga yang harus professional dalam pengelolaan agar tetap pada sasaran. Tidak hanya itu, kejujuran dan amanah merupakan factor penting dalam mengelola zakat. Karena kejujujuran dan amanah dalam pengelolaan zakat akan menjadi penentu para muzakki (yang membayar zakat) bahwa zakatnya benar-benar sampai pada yang diinginkan. Sehingga tidak akan muncul peristiwa mati bareng sebanyak 21 orang hanya karena berdesak-desakan untuk menerima zakat.

Banyak factor penyebab kaus-kasus mengenaskan tersebut. Bisa jadi pengelola zakat tidak professional, tidak amanah dan tidak jujur sehingga muzakki merasa lebih berhak untuk memberikannya sendiri. Hanya berbekal niat dan semangat berzakat tanpa melihat kenyataan masyarakat sehingga akhirnya hanya menimbulkan petaka bukan berkah

Tidak bisa meyalahkan satu pihak karena sebab peristiwa itu sangat komplek. Dari mental-mental matrialistis dan system yang bobrok akhirnya berdampak pada masalah-masalah ekonomi kerakyatan sehingga hanya uang yang jadi ukuran. Bukan kesabaran, keikhlasan serta kedisiplinan dan ketertiban. Bukan kepentingan orang lain yang dikedepankan tapi perut dan kesenangan pribadi yang terus diumbar. Hal inilah yang perlu dikoreksi oleh setiap pribadi. Berubah dan komitmen dengan perubahan itu.

Rumah-rumah zakat beserta lembaga lain semakin professional pengelolaannya. Jujur dan amanah dalam penyalurannya sehingga Muzakki puas untuk menyetorkan zakatnya. Masyarakat semakin peduli dengan kewajiban dalam menunaikan zakatnya, sehingga masyarakat tak lagi berharap atas uluran tangan orang lain. Pemerintah merubah sistemnya sehingga mental masyarakatnya berubah. Tak ada lagi antrean meminta jatah. Tapi yang ada antrean memberi jatah orang lain sehingga kesejahteraan karena zakat telah tersalurkan tepat sasaran. Yang akhirnya tak ada lagi yang mau dibantu atau diberi sedekah. Itulah cita-cita pembangunan yang sebenarnya. Untuk itu segera bayar zakat, bersihkan diri dan harta agar dapat kemuliaan dunia dan akhirat. Masyarakat makmur senotosa. Baldatun toyyibatun warobbun ghofur. Semoga !*az

Mawar Telah Bertangkai

Posted: 20 November 2009 in Cerpen, Sastra

Dari jauh terdengar merdu. Asma Allah mengalun sendu. Sejuk. Indah terasa dapat menginjakkan kakiku di kota ini. Ya, kota sedingin salju yang telah kutinggal enam bulan yang lalu.

Malam mulai merayap. Tapi aku bingung harus menginap dimana. Mataku nanar melihat angkot bersiliweran. Wartel. Ya itulah mungkin solusi.

Kupencet-pencet tombol pesawat itu. Nyambung.

Tut….tut….tut….

“Assalamua’alaikum”, sapaku pada seorang wanita di seberang sana.

“Wa’alaikum salam, nyari siapa mbak?”, tanya wanita itu.

“Nawang Sarinya ada ?”, jawabku dengan balik bertanya.

“Oh…Mbak Nawang udah pindah”, jawabnya pendek.

Deg. Aku menginap di mana. Kosanku di M. Panjaitan sudah buyar 3 bulan yang lalu. Gusar. Akhirnya kuberanikan diri untuk  mengkorek informasi.

“Pindah dimana Mbak ?”, tanyaku gugup.

“Ga tau ya, ini ada nomor teleponnya klo mau ?”, tawarnya.

Pyar. Legalah hatiku. Harapan ada di depan mata, walau hanya numpang tidur saja.

“Berapa Mbak?”, tanyaku semangat.

“412913”, jawabnya  pendek.

“Makasih Mbak, wassalamu’alaikum”, kututup telepon.

Gamang kupencet no. telepon itu. Aku tak siap bertemu dengan teman-teman lamaku dengan kegagalan ini. Tapi…seandainya akhwat boleh tidur di masjid…ah…sebel.

412913. Tanganku menombol pesawat dan langsung tersambung.

“Nawangnya ada ?”, tanyaku gugup.

“Ya, saya”, jawabnya pendek.

“Mba ini Laila”, kataku memberi tahu.

“Laila ! heh…dek, dimana ?”, tanyanya antusias.

“Jemput ane digerbang FE, tak tunggu ya cerita ntar”, jawabku dan cepat kututup telepon.

Gerbang FE. Aku harus berjalan sekitar 10 menit lagi. Sepi. Fakultas teknik begitu menyeramkan. Tapi sudahlah Allah bersamaku. Ku kuatkan niat dan tekadku. Kakiku pun melangkah dengan tenangnya.

***

Lima belas menit tepat. Seorang akhwat berjilbab hitam dengan sepeda motornya menghampiriku.

“Assalamu’alaikum ukhti, gimana kabar anti ?”, tanyanya dengan memelukku erat. Damai dalam rengkuhannya. Indahnya ukhuwah. Tak terasa air bening menghiasi kelopak mataku. Sejenak saling berpandangan menyemai kasih kerinduan. Dahi saling beradu. Tangan saling menepuk bahu. Berbahagia karena masih diberikan keistimewaan keistiqamahan yang sama.

“Mbak Nawang mana?”, tanyaku lugu pada seorang akhwat itu yang rupanya Mba Diana.

“Mbak Nawang kan ga bisa naik motor”, jawabnya sambil nyewel pipiku.

Oh iya ya, bego banget sih aku ini. Motor pun melaju dengan cepat. Dasar Mba Diana mau menyaingiku. Sesampai di gang kecil di sebuah jalan Kumis Kucing, motor berbelok. Deg. Berhenti. Ramai rumah itu.

“Ada apa, dan siapa itu ?”, tanyaku heran melihat ada 2 sosok ikhwan di rumah itu tanpa ada selambu hijab.

“Oh….afwan. dia Mas Yudi dan Mas Nur, kita kan baru pindahan. Di sini ada 5 akhwat. Rumahnya banyak yang rusak, mangkanya kami minta bantuan ama mereka, dari pagi  mereka di sini. Ya rencana mau dijadikan base camp jadi dilembur segera dirampungkan, dan mangkanya hijabnya belum dipasang”, cerita Mbak Diana sebelum masuk rumah, seperti tahu apa yang ada dalam pikiranku.

Aku hanya diam. Tenggorokan tercekat. Tak menyangka semua berkumpul disini. Pengurus LSM itu…..ah…subhanallah, mereka tetap kompak seperti dulu. “Selamat berjuang saudaraku”, do’aku dalam hati.

Tapi, aku malu. Permainanku dengan ikhwan itu harus berhenti disini. Ya 1-1 sekarang. Mereka akhirnya tahu sosokku yang sebenarnya. Walau selama ini mereka hanya mendengar suara penuturan materi jurnalistikku dari balik hijab. Yah toh akhirnya ketahuan juga. Ya bagaimana dong ?

Ragu kumasuk rumah itu. Dua ikhwan menatapku dan akhirnya tunduk di atas makanannya. Ya mereka lagi makan. Ku lari masuk kamar tanpa menggubris mereka. Lemas.

“Mbak gimana kabarnya ?”, tanya Mas Yudi di ruang tengah. Aku terdiam. Aku ragu menjawabnya. Entah apa yang terjadi di luar sana. Aku cuek bebek. Yang jelas Mbak Diana dan Mbak Nawang menyuruhku untuk menemui mereka.

“Ini Laila Mas, yang selama  ini ditanyain trus tuh, kayak apa orangnya. Ya ini orangnya. Sibungsu yang dewasa, si kecil yang kelihatan tua”, cerocos Mbak Nawang ngeledek diriku.

Aku tersipu. Sempat ge-er juga karena nggak tahunya aku dalam pikiran mereka. Tapi sudahlah. Astaghfirullah wa naudzubillah, bikin penyakit ati aja.

Suasana mencair. Aku juga mulai berani menanyakan kabar teman-teman semua. Si Lia yang telah hamil. Si Tin yang telah 3 bulan menyusul Lia. Mas Yudi yang telah lulus, Mas Nur yang telah kompre, Mbak Diana yang telah skripsi, Mba Nawang yang lagi entry data, Si Fa yang juga lagi kompre. Subhanallah banyak perkembangan.

***

Hari berganti. Kedatanganku membawa semangat baru. Da’wah mulai digencarkan untuk mewujudkan program LSM yang selama ini hanya sekedar konseptual.

“Ning, kapan ?”, tanya mas Yudi tiba-tiba dengan panggilan khasnya untukku.

“Apa ?!” aku balik bertanya.

Mas Yudi hanya tersenyum. Kubiarkan saja dia dengan kesibukannya. Tanganku semakin cekatan mengoperasikan komputer di depanku. Ya aku lagi membuat web site untuk LSM ku.

“Ning….”, panggilnya pelan.

“Apasih Bang, klo nanya’ cepet nanya’, kok bikin orang penasaran aja”, tanyaku sedikit ketus. Bukannya bantuin malah ganggu aja. Sebel.

“Itu….kapan nikahnya?”, tanyanya ragu.

Gubrags!! Darimana dia tahu aku lagi proses. Aku terdiam. Malu. Ku biarkan dia dengan pertanyannya. Adil. Biar dia juga penasaran juga. Dasar akhwat bandel. Tanganku asyik dengan tombol-tombol keyboard di depanku. Ku lirik dia. Diapun tertunduk diam.

“Aku pulang dulu, assalamu’alaikum”, Mas Yudi nyelonong saja.

Upss!! Marah. “Yach…wa’alaikum salam”, jawabku heran.

***

Satu  bulan sudah ku mengerjakan web site. Sempurna. Besok sudah siap di upload.

“Yes  !! selesai ! bagus gak ?”, ceplosku pada Mbak Nawang dan Mbak Diana.

“Lihat dong. Sip sip sip”, puji Mbak Nawang.

Aku tersenyum puas. Ada sesuatu yang berharga yang bisa kuberikan untuk LSM dan da’wah ini.

“Laila…jadi pulang ?”, tanya Mbak Diana tiba-tiba.

“Emang kenapa ?”, aku balik bertanya, heran.

“Bukan aku yang tanya’, tapi Mas Yudi”, jawabnya agak ketus.

“Mas Yudi ?!”, jawabku kaget.

“Ngapain dia tanya-tanya dan ngapain tanyanya ke anti, bukan ke ane, ih lucu, pertanyaannya pesen lagi?! Jangan ngarang ya, dosa lo…bikin penyakin ati”, timpalku pada Mbak Diana.

“Ih…emang benar dia yang nanya’ kok. Tadi suruh nanyain. Pagi-pagi udah telepon, emang anti pulang jam berapa ?”, lanjut Mbak Diana.

“Gak tahu, jam 1 kali”, jawabku santai, yach aku masih asyik dengan web siteku.

“Lai…..sebenarnya ada hubungan apasih diantara kalian?”, tanya Mbak Nawang tiba-tiba.

Deg. Hubungan ? Hubungan apaan sih ?! aku bingung apa maksud mereka.

“Eh….kalian jangan suudzon dong, aku ama Mas Yudi gak ada apa-apa. Lagian kalian tahu ane udah punya calon. Dan ingat, kalian lihat sendirikan sikap ane ama Mas Yudi. Lawong setiap hari kalian menemaniku, liat ane dan Mas Yudi di depan mata…. Ih Dasar !”, jelasku agak kesal.

“Iya sih Lai, ane tahu itu. Tapi….ya kayaknya ada yang ganjil dan gak beres”, protes Mbak Diana.

“Sudahlah Mbak, ane juga sudah ngasih lampu kuning kok ama dia, agar tak menyalahgunakan kepercayaan persaudaraan ini atas dia”, tandasku pada mereka.

***

Malam mulai merayap. Tubuhku terasa capek akibat terguncang di atas kereta.

“Mbak telepon”, suara keponakanku memanggil.

“Mas Yudi”, keponakanku memberi tahu.

Deg. Apalagi maunya. Inlok lagi. Jam sembilan. Wah malam-malam.

“Assalamu’alaikum”, sapaku pada seseorang di seberang sana.

“Wa’alaikum salam, ini Yudi Ning”, jawabnya memberi tahu.

“Ya…apa Bang ?”, tanyaku dingin.

“Lagi ngapa?”, dia balik  tanya.

“Mo tidur capek, emang ada apa? Udah malam nih. Gak etis. Kena jam malam lo ntar. Ta bilangkan ke atas tau rasa lo ya”, jawabku mengancam.

“Eh….klo boleh saranin kamu cepat nikah”, celetuknya tiba-tiba.

“Nikah ! Emang kenapa ?!”, tanyaku heran.

“Ya… sebelum timbul korban baru”, jawabnya  datar.

“Korban ? korban apaan? Emangnya kambing kurban yang harus dikorbankan. Sudahlah Bang, aku udah bilang aku berbuat seperti itu kepada semua orang. Tanyakan ama Mas Nur, sikapku ama dia sama seperti kepada Abang. Atau mungkin tanya pada ikhwan lain yang kenal aku. Insya Allah sama. Toh klo masih ada perasaan itu ya wallahuallam yang jelas aku selalu menjaga ukhuwah-ku dengan ikhwan agar tak ternodai dengan penyakit hati. Sudahlah sudah malam. Gak baik tuk ikhwan nelepon akhwat malam-malam”, tuturku menjelaskan, memberikan warning.

“Afwan ya….”, pintanya pendek.

“Ya ga ada yang perlu dimaafkan. Mungkin kita harus saling intropeksi diri ajalah. syukron atas sarannya. Wassalamu’alaikum”, telepon kututup.

Diam. Diam seribu bahasa ku didekat telepon. Baru kumerasakan sebuah kebenaran dari perkataan Mbak Nawang dan Mbak Diana. Pilu. Untuk yang  kesekian kalinya aku seperti ini. Siapa lagi yang akan sakit hati. Kenapa prosesku harus tersendat seperti ini. Ya….keluarga ikhwan minta waktu dan aku harus menunggu. Sabar adalah ujianku.

Malam terus merayap. Akupun terbuai oleh mimpi di atas kasurku yang baru. Baru dibelikan oleh ibuku.

Tit…tit…Tit..tit..Tit…tit..suara ponsel membangunkan tidurku. Ku lirik jam dinding. Jam 3. Ya…pasti teman-teman memberi kode untuk Qiyamullail nih. Kuberanjak dari tempat tidur. Ku siram wajahku dengan air suci. Segar. Syetan-syetan yang menempel di pelupuk matapun berterbangan kepanasan.

Rukuk, sujud telah kutunaikan. Do’a pengampunan ku lantunkan. Sajadah panjang sebagai saksi. Aku benar-benar merasa menjadi hamba malam ini. Tiada daya dan kekuatan kecuali engkau ya Rabbi. Hamba hanya manusia yang harus siap menerima ketetapan yang ada. Tapi, satu yang kuminta Ya Allah, kumpulkan aku bersama orang-orang yang bertaqwa dan bersama Rasulmu tercinta serta ampuni semua dosaku di dunia ini Ya Allah.

Rembulan tersembul dari balik kaca atap  rumahku. Pendar kuning menghiasi mega nan merona. Indah.Ku raih ponselku, ku baca SMS yang tadi kubiarkan saja. “Nomor baru”, desisku.

Di blik tirai mmbungkus, Ptih bersih rpawan mnawan, Detakan lngkah sunyi, similar pilar jilbab putih. Mmancar keimanan suci. Berkas ptih mmancar, mnmbah bersih kesucian diri, tertera wajahmenyinari, senyum simpul mewarnai, dg sejuta hrapan, walau lautan luas, gunung2 tinggi menghalangi, ku terpaku seribu bhasa. Mg bidadari tetap bersemi. Merekah menambat impian hati-abangmu.

“Astaghfirullah….sederet SMS panjang. Mas Yudi. Apa yang terjadi pada diri mu Bang. Kenapa kau tulis puisi ini. Selama ini kau tak pernah berukir kata seromantis ini. Kau yang ku kenal adalah sosok ikhwan yang anti akan hal-hal seperti ini. Tapi…Sudahkah kau berubah dan aku tak tahu bagaimana dirimu saat ini. Tapi Bang aku tak akan bersuudzon padamu. Moga kau baik-baik saja”, gumamku dalam hati sambil berdo’a.

***

Di base camp aku masih mengotak atik web siteku. Ntar sore akan di upload. Setelah beberapa jam Mas Yudi datang di Base Camp. Sendirian. “Dimana Mba Diana”, tanyaku dalam hati.

Aku hanya terdiam berlagak tak peduli atas kedatangannya. Ya klo memang gak perlu kenapa harus  ditanggepi. Hi…hi…. Sok angkuh oiyy…

“Assalamu’alaikum”, sapanya sambil duduk di kursi tamu.

“Wa’alaikum salam”, jawabku pendek.

“Udah selesai Ning?”, tanyanya memastikan.

“Udah tinggal menyempurnakan aja, ada sedikit yang masih salah, asyar Insya Allah selesai”, jawabku pasti. Kami terdiam. Tak ada pembicaan selama beberapa menit. Ya di base camp hanya ada kami berdua.

“Ning, aku boleh nanya sesuatu ga ?”, tanyanya pelan.

“Tanya’ aja klo bisa jawab ya tak jawab klo ta’ bisa ya afwan ane gak bisa menjawabnya”, jawabku datar.

“Jujur ya”, dia memastikan. Aku mengangguk.

“Klo boleh tahu prosesmu sampe dimana ? dan bagaimana statusmu sekarang ?”, tanyanya tiba-tiba.

Aku terdiam. Tenggorokanku tercekat. Pilu. Kenapa pertanyaan itu harus keluar. Ya..jujur aku selalu sedih bila ditanya tentang prosesku. Kuhanya bisa menarik nafas dalam-dalam. Diam dan diam yang kulakukan. Aku tak kuasa untuk menjawabnya. Akupun tertunduk.

Mas Yudi juga terdiam. Ia menunggu jawabanku. Kucoba untuk menggerakkan jariku, menyempurnakan web siteku. Lemas. Tak ada daya untuk bekerja.

Kembali kutarik nafas dalam. Akhirnya kujawab pertanyaannya.

“Prosesku sampe pada khitbah dan sekarang masa ta’aruf. Status ane akhwat pinangan”, hanya itu yang kujawab. Pendek tapi sudah bisa mewakili semua pertanyaan yang dia lontarkan pada diriku.

“Jadi gak ada ikhwan lain yang bisa meng-khitbah-mu”, tanyanya melas.

Aku mendesah. Kutolehkan wajahku untuk memandang seseorang yang duduk agak jauh dariku. Dia hanya tertunduk dengan mainan kertas di tangannya. Ingin kupastikan kenapa ia bertanya seperti itu. Dia hanya tertunduk dan semakin dalam. Masih sempat kulihat dia menggigit bibirnya dan akhirnya kulemparkan pandanganku ke luar jendela.

“Ya…aku tak boleh menerima lagi ikhwan lain karena aku telah mengatakan ya, akad khitbah telah diucapkan dan kami harus saling menjaga keutuhan proses ini”, jawabku menjelaskan.

“Tapi kenapa tidak cepat dilakukan?”, tanyanya memburu.

“Ya Abang sudah tahu ceritanya. Keluarga ikhwan minta waktu dan aku memang harus menunggu karena telah menjadi keputusanku. Ya…aku harus menanggung resiko ini Bang”, suaraku tercekat.

“Seandainya ada ikhwan yang mau mempercepat itu apakah calon suamimu akan mengizinkan?”, tanyanya menyelidik.

Deg. Tak menyangka dia akan ngomong seperti itu.

“Bang, proses kami telah berjalan lama. Kuharap Abang tahu perasaan kami berdua. So, afwan semua sudah jelas. Ibarat bunga aku telah tertangkai. Dan tak ahsan bila aku memilih tangkai karena tangkai telah ditetapkan oleh Allah dan itulah yang terbaik untukku”, tuturku menegaskan.

“Ya sudahlah. Moga kau Bahagia. Moga dimudahkan dan disegerakan proses pernikahanmu. Satu yang kuminta. Semoga aku tidak futur atas kejadian ini, do’akan aku tetap istiqamah. Walaupun mawar telah tertangkai kau tetap saudara sejati dan adik yang terbaik dalam hidupku ini. Afwanin aku. Mungkin aku harus menenangkan diri dulu”.

Mentari sore meredup tertutup awan di atas sana. Gelap. Rupanya hujan akan turun seiring kegundahan. Seiring air bening ini. Moga ukhuwah tetap bersih suci. Mengiringi langkah da’wah ini.* az

 

****************************************************

Bogor, Agustus 2005

Kenangan dari kota apel Malang

Pernah dimuat di majalah Sobat Muda Tahun 2006

Dan di Harian Analisa Rubrik Cerpen (Rabu,7 Januari 2009)

******************************************************

Lilin

Posted: 19 November 2009 in Cerpen

By : Imatuzzahra al Hurun’in

Mentari mulai menyeruak dari balik dedaunan. Angin pagi nan sejuk menyapa wajahku dengan lembutnya. “Hemm…15 tahun yang lalu aku berada disini dan masih sama kurasakan, indah menawan”, gumamku mengenang 15 tahun yang lalu ketika aku masih kuliah di fakultas teknik ini.
Hari ini ada acara bedah buku di gedung pertemuan fakultas. Ada tema menarik yang menyeretku untuk kembali ke fakultas ini. Sebuah iklan yang dipasang pada sebuah majalah oleh panitia kegiatan ini. “Nikah Beda Harokah (Gerakan) so What Githu Loh !)”. Kupikir tema itu cukup berani untuk diangkat. Apalagi pembedahnya adalah penulisnya langsung Fatiya Adzikro, pastilah lebih mantap lagi.

Ruangan sudah mulai sesak. Rupanya mereka sangat antusias untuk mengikuti acara ini. Hmm…kayaknya aku ini sangat tua bila berada diantara mereka. Yaa…maklum aku sudah berumur 35 tahun dengan dua anak dan mereka masih berumur antara 20-25 tahun. Masa paling semangat untuk memikirkan nikah.

Ku sebar pandangan, siapa tahu aku menemukan teman-teman seperjuanganku dulu. Rupanya aku tak sendiri. Banyak teman-teman seangkatanku masih berkeliweran disini. Mungkin mereka melanjutkan studinya atau mungkin telah jadi dosen disini. Sedangkan aku….aku datang kesini ingin menutp rinduku pada kampus yang ikut membesarkan dan mensukseskan aku ini.

Sekelebat sosok tinggi kecil kulihat memasuki ruangan. Aku seperti mengenalnya. “Tapi…siapa dia?”. Ku ikuti gerakan tubuhnya. Diantara ratusan orang itu susah juga mengidentifikasi sosok itu. Hilang. Menyelinap dimana dia. Karena tak sabar akhirnya aku beranjak dari tempat dudukku. Kuikuti kemana tadi arah sosok itu berjalan dan menghilang. Rupanya dia telah duduk manis diantara ratusan pengunjung laki-laki.

“Shaqy !”, mulutku berteriak.

Sosok itu menoleh. Bengong. Dia menatapku lekat-lekat seakan dia tak percaya akan bertemu denganku. Dialah kawan senasib sepenanggungan. Sekamar dan sependeritaan.“Hamid !’, dia bangkit dan memelukku erat. Aku terharu. 15 tahun yang lalu kami selalu bersama. Dan rupanya Allah masih memberi izin kami untuk bertemu melepas rindu.

“Hei gimana kabar sobat, anakmu sudah berapa ?”, Shaqy memberondong tak sabar sambil memegang pundakku.

“Dua, kamu sendiri ?”, aku bertanya balik. Shaqy terdiam. Manyun dan melepas pandangannya keruangan. Sendu.

“Kenapa ?”, tanyaku penasaran.

Shaqy tersenyum dingin. “Sudahlah gak usah ditanyakan, aku belum menikah Mid”, jawabnya kalem.

“Yuk duduk disini saja itu acara sudah dimulai”, ajaknya mengalihkan perhatian. Aku hanya diam. Kutak berani bertanya lebih jauh. Dia begitu istimewa bagiku. Aku tak mau melukai hatinya. Dialah dulu tempat berkeluh kesahku. Dia rela mengorbankan apa saja untukku walau dia butuh. Aku hanya berusaha menerka-nerka apa sebab dia belum menikah. “Shaqy…engkau baik, tampan, sholih, dewasa, mapan….tapi kenapa kau belum menikah ? Tak mungkin tak ada wanita yang tertarik padamu. Semua ada, kau cerdas. Bila seorang wanita kenal denganmu dan tahu baiknya engkau pastilah engkau mendapatkan wanita yang engkau inginkan. Tapi…umur sudah kepala tiga dan lima tahun lagi sudah berkepala empat tapi kenapa engkau belum menikah juga ?”, hatiku sibuk bercerita sendiri.
***
Sosok perempuan anggun duduk di depan hadirin. Berkerudung putih mengkilap dengan baju panjang batik. Sungguh serasi dan cantik. Wajahnya putih berseri dengan senyum manis di lesung pipi sebelah kiri. “Itukah Fatiya Adzikro sang penulis buku itu ? Benarkah dia sudah menikah ?”, hatiku penasaran. Tak ada tanda bahwa dia telah menikah. Masih muda nan belia. Cerdik dan energik. Fatiya Adzikro. Dia kira-kira 13 tahun dibawaku. Tapi kelihatan anak kuliahan yang masih imut.
Aku terus menatapnya. Ada sesuatu yang terbersit di otakku. Aku seperti pernah melihat dan pernah mengenal wanita itu. Tapi dimana aku tak tahu. Yang jelas aku hanya pernah melihat foto dia dengan pose miring di buku itu. Dan itu wajahnya tidak seimut aslinya. Aku semakin heran dan aku merasa dekat dan sangat mengenalnya. Ku berpaling. Kulihat Shaqy hanya tertunduk. Ku lihat lagi sosok Adzikro itu, kuamati seperti aku melihat perempuan yang sangat memikat hatiku. Aku merasa ada sebuah kisah yang mengingatkanku dengan melihat sosok Fatiya. Tapi apa aku belum menemukannya.

Ku tengok lagi Shaqy dia masih tertunduk dan kelihatan sendu. Apa pula yang terjadi padanya aku tambah bingung. Kenapa dia enggan untuk melihat ke depan ? Ditangannya sebuah HP yang dipencet-pencetnya tak jelas.

“Baik hadirin segera saja saya kenalkan pembicara kita, yang pertama adalah penulis buku Nikah Beda Harokah (Gerakan) so What Githu Loh ! Hadirin pasti sudah mengenalnya siapa beliaunya. Beliau penulis buku yang lagi laris-larisnya ini. Yaa…Fatiya Adzikro lahir di Surabaya tanggal, bulan dan tahunnya nanti tanya sendiri dengan beliaunya ya….karena saya sangat segan. Tidak tahunya beliau ini masih sangat muda sekali tapi punya pengalaman luar biasa untuk dibagi pada kita semua”, moderator itu masih terus nyerocos menerangkan CV sang pembicara. Dan aku semakin tertegun mendengarnya, karena CV itu aku seperti pernah membacanya. Tapi…lagi-lagi aku susah menemukan jawabannya.

Aku menoleh pada Shaqy. Aku ingin bertanya pada dia. Tapi dia masih terus tertunduk. Dan perlahan dia menarik nafas panjang seperti ada rasa sesak yang menyumbat dadanya.

***

“Menikah, saya yakin disini pasti banyak yang telah menikah, pasti banyak yang masih merencanakan dan pasti banyak pula yang masih berkeinginan. Menikah kata yang indah, yang terpampang di pelupuk mata bagi orang yang belum merasakannya. Menikah peristiwa bersejarah bagi orang-orang yang telah melakukannya”, suara Fatiya mulai terdengar. Merdu dengan bait-bait kalimat yang memukau qalbu.

“Buku ini saya tulis tidak hanya saya ingin berbagi dengan pembaca, namun buku ini mempunyai kisah, kisah yang sangat berarti bagi saya. Buku ini adalah memoar, dimana ia menjadi bukti sebuah persahabatan sejati. Dia bukti deraian air mata, canda dan tawa. Pergolakan hati dan penantian atas semua qadlo Ilahi.
Buku ini adalah bukti bahwa madzab dalam agama tidak menjadikan para penganutnya egois menurutkan hawa nafsunya. Buku ini adalah penghargaan bagi seseorang yang telah membuka hati saya untuk berpikir lebih dalam bahwa Islam itu hanya satu. Walau madzab berbeda tapi landasan itu hanya satu, Al Qur’an dan Al Hadits. Buku ini adalah hadiah bagi mereka yang mampu mengalahkan egonya, yang mampu menerima saudaranya semuslim sebagai sahabatnya. Tempatnya bercerita, berkeluh kesah menyelesaikan masalah umat. Bukan untuk mencerai beraikan umat. Buku ini bercerita betapa persaudaraan dan persatuan itu agung. Walau berbagai perbedaan tapi bisa bersatu mewujudkan bahtera rumah tangga yang harmonis, sakinah mawadah warohmah”, Fatiya terus berceloteh dan tiba-tiba ia terdiam.

“Walau buku ini bisa tertulis diiringi dengan deraian air mata, pengorbanan perasaan, cinta dan kasih sayang. Namun….sebuah lilin telah menyala menerangi sebagian hidup saya sehingga saya bisa terbuka, saya bisa realistis dalam menerima ketetapan Allah. Bahwa perbedaan itu nyata dan jodoh itu memang benar-benar ditangan Allah. Tak ada hak manusia untuk mencampurinya. Dia adalah hak perogatif Allah”, nada-nada suara itu penuh arti. Arti yang mendalam. Aku semakin yakin bahwa aku mengenal sangat mengenal dia, walau aku baru kali ini berjumpa dengannya.

“Dalam buku ini ada kisah lilin yang menerangi hati saya. Bagaimana saya mengenal tentang perbedaan harokah dalam gerakan Islam. Dialah yang menjadikan saya bisa berpikir realistis untuk menerima semua perbedaan yang ada sehingga saya berani bertekad untuk menikah walau harus beda harokah. Banyak yang melarang, banyak yang memberi pertimbangan, banyak yang menyodorkan ke saya untuk menikah satu harokah. Namun ketika saya menjalani proses dengan mereka yang disarankan ada saja hambatan yang tidak sesuai dengan syari’at. Akhirnya hanya penyerahan diri kepada Allah. Allahlah yang berhak memilihkan pendamping hidup kita. Dialah yang tahu mana yang terbaik bagi hidup kita.

Lilin itu terus menyala dengan nasehatnya dihati saya. Lilin itu terus bersama saya, menjadi sahabat terbaik dalam mengarungi kehidupan yang penuh dengan ujian yang tak disangka-sangka. Lilin itulah penguat keistiqamahan untuk terus tetap di jalan-Nya yang lurus. Dan lilin itu bagaimanapun dia, dia sangat sukses menjadi lantaran kehidupan saya yang sangat lebih baik. Pernikahan beda harokah yang saya jalani tidak seperti yang ditakutkan orang. Pernikahan yang saya jalani seperti yang dinasehatkan sang lilin, mudah dan menyenangkan, indah dalam suasana persaudaraan dalam persatuan umat Islam”, perempuan berlesung pipi itu masih terus berbicara. Dia benar-benar memaknai apa yang dia ucapkan. Semua hadirin terpaku melihat mata sang Fatiya yang berkaca. Mereka mengikuti nyanyian hati Fatiya. Mereka seakan tahu apa yang akan diungkap Fatiya.

Ku yakin mayoritas hadirin sudah tahu apa isi buku itu. Memang sebuah tragedi ketika membacanya. Banyak perjuangan yang mungkin tak mampu dilakukan oleh kebanyakan orang.

“Aku menikah bukan karena nafsu. Tapi aku menikah punya misi besar. Dimana misi itu bisa ditiru oleh mereka yang ingin mengadakan perbaikan umat. Oleh mereka yang benar-benar menyatukan umat. Aku menikah bukan karena keinginanku, tapi aku menikah dengan laki-laki pemberian Allah. Karena aku pada mulanya tak mencintai bahkan tak mengenalnya. Aku telah berkorban apa saja demi misi ini. Keluargaku sempat kacau balau sehingga antara orang tua dan saudaraku bertengkar. Mereka melarangnya tapi orang tuaku mendukungnya hingga akhirnya ibuku meninggal dengan sakit struknya. Kakak terbaikku membenciku. Teman-teman sengajiku sedikit-demi sedikit menjauhiku. Dan sahabat terbaikku pergi walau dia sebenarnya yang kuharapkan menjadi pendamping hidupku. Namun apalah daya semua kehendak Allah. Orang yang kita inginkan belum tentu baik bagi kita. Dan Allah yang lebih tahu apa yang terbaik bagi kita. Sukses besar membutuhkan pengorbanan besar. Walau aku tak sempat melihat penyatuan umat tapi aku puas dan bahagia bila bisa menjadi salah satu bibit dari persatuan itu”. Itulah satu paragraf yang menurutku cukup berkesan untuk diingat dan dijadikan nasehat bagi pembacanya.

Suasana semakin haru dan tak sedikit yang menitikkan air mata. Rupanya Fatiya menangkap keharuan itu, dia pun segera menyerahkannya pada moderator. Disampingku seorang lelaki ikut menitikkan air mata. Dan baru kali ini aku melihatnya seperti itu. Shaqy, rupanya dia sangat memaknai apa yang dikatakan Fatiya. Tapi aku merasa aneh begitu mudahnya seorang Shaqy yang tegar itu menitikkan air mata, adakah cerita yang sama ?

Acara diskusi telah dibuka. Tiba-tiba aku ingat sebuah kisahku dengan Shaqy ketika masih kuliah. Terbuka begitu terbuka, aku ingat semuanya. Tepat. Aku memang kenal Fatiya. Tapi benarkah Fatiya itu teman Shaqy yang bernama Asmarani ? Apakah Fatiya itu hanya nama pena ataukah nama asli ? dan benarkah sosok Fatiya itu pernah menjadi bagian hidup dari Shaqy ? Inikah arti dari titik air mata itu ? Bila benar itu memang sebuah tragedi yang kembali terbayang di depan mata. Masyaallah ! “Jika benar dia…..”, mulutku mengoceh sendiri. Aku sangat terkejut ketika tiba-tiba Shaqy beranjak dari tempat duduk.

“Mau kemana Qy”, tanyaku cepat.

“Aku keluar sebentar”, jawaban politis. Kulihat matanya penuh air tak terbendung. Dia tertunduk dan akhirnya satu titik air jatuh ke lantai. Kenapa laki-laki bisa menangis ? Hatiku bertanya heran. Aku sangat susah untuk menangis walau peristiwa itu sangat mengguncang dadaku. Tapi ini…apa yang terjadi pada sosok Shaqy yang tegar. Apa karena lembutnya hatinya sehingga dia sangat tersentuh dengan cerita Fatiya ? Ku pikir tak sekedar itu.

“Ada yang kau sembunyikan. Mari keluar dan berceritalah”, pintaku pada seorang sahabat yang pernah menjadi gudang keluh kesahku ini. Waktunya untuk meringankan bebannya. Tidak aku saja yang terus memberatkan dia dengan keluh kesahku dalam menjalani hidup ini. Aku harus berarti bagi saudaraku. Yaa…lebih tepatnya bisa menjadi lilin seperti yang Fatiya bilang.

Acara belum selesai, namun kaki kami melangkah ke mushola. Kulihat Shaqy langsung pergi ke tempat wudlu. Dia ingin mengambil air suci untuk menyegarkan otak dan jiwanya. Pastilah sangat segar dengan guyuran air wudlu. Kulihat dia lebih tenang.

“Berceritalah”, aku masih memohon.

Kulihat dia mendesah panjang. Sepertinya dia sangat berat untuk membuka perasaannnya. Maklumlah dia laki-laki bukan perempuan.

“Kalau kau tak mau cerita aku yang akan bertanya”, aku memberondongnya.

“Bertanyalah”, jawab wajah tirus ini pelan.

“Aku teringat semua ceritamu tentang seorang wanita yang pernah menjadi sahabat dan adikmu. Sebelumnya maaf beribu maaf. Apakah Fatiya itu Asmarani ?”, aku tak sabar ingin tahu. Shaqy langsung menatapku lekat. Dia seakan tak percaya aku akan melontarkan pertanyaan yang telah 15 tahun lebih terpendam.

“Kenapa ?”, aku hanya bisa bertanya heran. Diapun langsung tertunduk dan kembali kudengar dia menarik nafas panjang.

“Dialah orangnya Mid”, jawabnya sambil memandang langit lepas.

Aku terdiam. Aku tahu apa yang dirasakan seorang Shaqy. Fatiya. Rupanya dia adalah Asmarani. Asmarani sebuah cerita yang pernah tergores di hati Shaqy. Wanita itu memang sempurna. Sempurna segala-galanya. Cantik, cerdas, anggun, sholehah. Semua laki-laki pasti mengharapkannya menjadi pendampingnya dan laki-laki yang mendapatkannya pasti sangatlah beruntung.

“Aku tahu sekarang kenapa engkau sampai saat ini belum menikah. Engkau sakit hati, hatimu hancur karena engkau belum sempat memberitahu dia bahwa engkau mencintainya dan akhirnya dia menikah dengan orang lain. Tapi….kenapa Rani tega melakukan itu kepadamu Qy, bukannya dia sangat menyayangimu. Bukannya dia juga berharap engkau bisa jadi pendampingnya ? Kenapa semua ini bisa jadi begini ? Dan siapa lilin yang disebut-sebutnya itu ? Betapa teganya dia berkata seperti itu dan dia tahu engkau hadir disini ? Kenapa Qy, jawab ?”, aku emosi. Aku tak rela sahabatku dihianati seorang wanita yang sangat dicintainya.

“Dasar perempuan!”, umpatku dalam hati kesal.

Aku tahu betul bagaimana Shaqy dan Asamarani. Tak hanya setahun persahabatan mereka. Walau mereka belum saling ketemu tapi dari surat yang ku baca mereka begitu dekat. Walau itu bukan pacaran tapi cukup menggoreskan sebuah kasih sayang yang benar-benar berlandaskan cinta karena Allah. Sebuah ironi, surat dan suara bisa mengikat dua hati tanpa bertemu wajah. Hanya foto-foto yang bisa dilihat dan itu tak cukup untuk melihat sosok seseorang tapi mereka mampu memaknai persahabatan itu tanpa harus bersama dan bertemu muka.

Tiba-tiba HP Shaqy berbunyi. Rington Ribatul Ukhuwah dari group nasyid Shoutul Harokah itu turut mengiringi kepiluan hati.

“Assalamu’alaikum”
“Kakak lagi di mesjid”
“Ya sudah ditunggu disini saja, suruh mengantarkan panitia ya….”
“Wa’alaikumsalam”

Sepenggal pembicaraan kudengar. Siapa yang mau ke mesjid ini ? bukan urusanku, sudahlah itu urusan Shaqy. Aku hanya ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi antara Shaqy dan Asmarani alias Fatiya sang penulis buku best seller itu. Sejak aku dan Shaqy berpisah memang aku tak mengetahui lagi bagaimana persahabatan mereka.

“Rani mau kesini Mid”, Shaqy memberi tahu. Aku terbelalak.

“Jadi engkau juga masih berhubungan dengan dia Qy ? Dan pasti dia juga yang menyeretmu untuk datang kesini ? Masih istimewakah dia di hatimu Qy ?”, aku mencecarnya. Aku tak rela, sekali lagi aku tak rela sahabat baikku ini terbelenggu oleh cinta tak yang disampainya.

“Dialah yang memberitahu acara ini. Dia tidak memaksaku datang Mid. Percayalah. Aku yang ingin bertemu padanya. Karena ada sesuatu yang dulu belum sempat kuberikan dan ingin kuberikan sekarang agar aku tidak terbebani lagi”, dia bertutur tabah walau kulihat segelayut kepiluan di matanya.

“Engkau sangat mencintainya Qy ?”, tanyaku sok romantis.

“Tak hanya mencintainya, dia sangat istimewa dan belum kutemukan seorang wanita yang melebihi dia bahkan yang menyamainya, belum kutemukan. Itulah sebabnya aku tak bisa menggantikan posisi dia di hatiku Mid”, Wow roman picisan. Rupanya aktivis da’wah juga menyimpan cerita cinta yang tak kalah bermakna dari anak-anak ingusan itu.

“Sampai kapan engkau akan seperti itu Qy ? Bukankah engkau telah dihianatinya dengan seorang lilin yang telah ditemukannya ? Engkau bukan anak SMA lagi tapi umurmu sudah berkepala tiga dan tak lama lagi sudah berkepala empat, apakah itu realistis bagimu ? Kenapa engkau mau dibodohi !”, aku mencecar. Aku tak rela temanku terpuruk hanya gara-gara seorang wanita yang membunuh kehidupannya. Tiba-tiba Shaqy menatapku tajam. Wajahnya memerah.

“Cukup Mid ! Cukup ! Jangan kau bilang dia membodohiku. Bukan dia yang pecundang tapi akulah yang bodoh dan akulah yang pengecut. Aku seperti ini bukan karena Rani, tapi karena diriku sendiri. Sekali lagi jangan kau jelek-jelekkan dia, karena dia sudah benar mengambil jalan hidupnya. Kau tidak tahu betapa menderitanya dia. Dia punya alasan kuat dia menikah dengan laki-laki lain. Karena aku tak bisa membahagiakannya”, suara Shaqy semakin merendah dan akhirnya tertunduk tak berkata-kata.

Kulihat sosok anggun itu berjalan menuju serambi mesjid ditemani seorang wanita yang tadi menjadi moderatornya. Aku taktertarik lagi melihatnya. Walau dia anggun bagaimanapun dia telah menghancurkan kehidupan sahabat terbaikku. Aku geram dan ingin kumarahi habis-habisan dia. Tapi emosiku tertahan. Ini di mesjid dan dia seorang berjilbab yang patut untuk dihormati. Jika melihat sosoknya aku sebenarnya tak percaya bila Rani alias Fatiya tega menyakiti Shaqy. Aku pun terdiam mendengar dia mengucapkan salam.

“Assalamu’alaikum”, suaranya lembut. Menenangkan.

“Wa’alaikumsalam”, Shaqy yang menjawabnya.

“Terimakasih kakak sudah mau datang”, kulihat Rani alias Fatiya tertunduk dalam.

Aku bingung, apa yang sebenarnya terjadi pada mereka berdua. Sepertinya perasaan itu masih ada. Aku bisa merasakan. Baru kali ini di depan mataku sendiri dua sahabat itu berbicara melalui perasaan. Aku masih heran. Mereka tak pernah bertemu tapi kenapa bisa sehati ? dan kenapa mereka bisa terpisah padahal mereka kelihatan sangat saling mencintai ? entahlah. Apakah memang begini kehidupan itu ? Hanya Allah yang tahu.

Rani dan Shaqy hanya diam. Aku juga tak tahu apa maksud mereka bertemu. Kadang saling pandang dan akhirnya pandangan itu mereka buang masing-masing ke pohon-pohon hijau yang menantang awan. Wanita yang tadi jadi moderator itupun kelihatan bingung. Tapi dia juga hanya diam karena dia merasa itu tak baik untuk ikut campur.
Ku arahkan pandangan pada Shaqy. Mulutnya seakan terkunci. Akupun menjadi berang. Aku tahu hati Shaqy luluh lantak. Bagaimana tidak, orang yang dicintainya kini hadir kembali. Namun yang dicintainya itu telah menjadi milik orang lain.

“Dik kau lihat sendiri apa yang terjadi. Lihat ! Lihat sahabatku ! Lihat !”, aku berbicara agak keras. Fatiya menoleh. Dia terkejut melihat aku berbicara keras sambil menunjuk-nunjuk Shaqy. Bengong tak tahu apa yang terjadi padaku. Semua pandangan mengarah padaku.

“Hanya karena engkau telah menemukan lilinmu akhirnya kau menyampakkan dia. Betulkan ?! Sebaik apakah lilinmu itu sehingga bisa menggantikan posisi dia di hatimu ?! Hah ?!”, aku kehilangan kendali. Aku kalap. Aku benar-benar tak rela sehingga diriku jadi lupa. Emosiku terus naik. Shaqy secepat kilat menatapku tajam. Mata Fatiya memerah dan berair.

“Cukup Mid ! Cukup ! Sudah kubilang ini bukan salah Rani. Cukup Mid !”, Shaqy memegangi tanganku dan membujukku untuk meredakan emosi. Entah mengapa aku jadi marah besar kepada Fatiya. Aku hanya membayangkan jika itu terjadi pada diriku. Dan betapa sakitnya bila terjadi pada orang lain. Apalagi pada sabahat yang sangat kusayangi.
Fatiya menatapku tajam.

“Anda tahu apa tentang kami berdua ? Siapa anda sehingga berani memarahi saya ? Hati-hati bila berbicara tuan. Lisan itu lebih tajam dari pada pedang”, kalem tapi mendalam. Pelan tapi geram. Aku tertegun. Diam seribu bahasa. Berani juga perempuan ini. Aku semakin mengenalnya. Begitulah Rani yang pernah diceritakan Shaqy. Berani, siapapun akan dilawannya bila menginjak harga dirinya.

“Sabar-sabar Dik, dia sahabatku. Dia memang tahu walau tak semuanya. Maafkan yaa…ini salah faham”, Shaqy menenangkan Fatiya.

“O ! Sahabat kakak, tapi dia tak bisa menjadi sahabat bagi dirinya sendiri. Kenapa dia bisa menjadi sahabat kakak. Kakak tidak salah memilih dia menjadi sahabat ?!”, suara Fatiya agak meninggi. Menyindir.

Plak ! Aku merasa tertampar dengan keras. Deretan kalimat yang keluar dari mulut mungil itu begitu menampar wajahku. Benarkah aku tak bisa jadi sahabat diriku sendiri ? Aku diam. Setelah kutelusuri hatiku, memang benar bahwa aku tak bisa jadi sahabat diriku sendiri. Emosiku selalu menekanku. Sehingga aku selalu terpancing untuk melawan hati kecilku. Pantaskah aku jadi sahabat Shaqy ?

“Bila Anda memang benar sahabat kak Shaqy seharusnya sikap Anda tidak demikian terhadap saya. Karena Anda sudah tahu bagaimana persahabatan saya dengan kak Shaqy. Bila Anda menyakiti perasaan saya berarti Anda telah menyakiti perasaan Kak Shaqy. Itu yang anda perlu camkan”, pelan tapi tegas. Ringan tapi keras. aku hanya tersekak. Rupanya Fatiya lebih piawai dalam bersahabat. Serta lebih diplomatis ketika berbicara. Dan Shaqy tidak salah memilih dia menjadi sahabat dalam hidupnya.

“Satu hal yang perlu anda tahu. Lilin yang anda tanyakan itu…..dialah Kak Shaqy. Sahabat anda sendiri. Dialan lilin hidup saya. Dialah yang membuka cakrawala hidup saya, sehingga saya mengerti makna hidup ini. Sehingga saya mau dengan ikhlas dan sabar menerima ketetapan Allah walau saya tidak menyukai. Saya seperti ini sekarang harus bisa menempatkan hati pada siapa yang menjadi belahan hidup saya dan siapa yang menjadi sahabat saya. Semua itu bukan semudah yang Anda bayangkan.

Anda harus lebih banyak belajar untuk mendengar dan mengerti orang lain. Jangan hanya pandai mencecar tapi tak mempunyai bukti kuat untuk menuduh”, kokoh. Sosok berjilbab sempurna itu masih kokoh berdiri di depanku. Kata-katanya tajam penuh isi. Shaqy yang berdiri tak jauh darinya hanya bisa diam. Dan aku semakin kaku dibuat Fatiya. Entah kemana kegaranganku tadi. Semua lenyap ditelan kalimat berwibawa itu.

“Kak…..maafkan aku, kayaknya aku harus pergi. Hatiku semakin perih bila harus berlama-lama dengan seperti ini. Maafkan aku tak ada yang istimewa di pertemuan yang tidak tahu bisa terulang lagi atau tidak. Aku pamit. Do’akan aku kak….”, tiba-tiba Fatiya menyeret temannya dan melangkah pergi. Aku tersentak. Begitu pula Shaqy. Dia lebih terhenyak karena tak menyangka pertemuan itu hanya sekilas lalu dan ternodai dengan kebodohanku.

“Dik tunggu !”, Shaqy tiba-tiba teriak.

Langkah Fatiya terhenti. Dia menoleh. Dan tak kusangka dia berderai air mata.

“Dik maafkan sahabatku yaa….ini hanya salah faham. Maafkan yaa….dan jangan sakit hati”, Shaqy memohon melas. Kulihat Fatiya hanya mengangguk dengan tatapan sendu. Aku jadi merasa bersalah dan memaki-maki diriku sendiri.

“O ya dik, sebenarnya kakak ingin bertemu karena ada sesuatu yang ingin kuberikan. Dulu tak sempat kuberikan karena Dik Rani telah menikah. Ini terimalah…. “, Shaqy menyerahkan kotak segiempat terbungkus rapi dari dalam tasnya.

“Apa ini kak?”, tanya Fatiya haru.

Kulihat Shaqy menarik nafas panjang. Ada rasa enggan dia bercerita apa isi dari kotak kecil itu.

“Dik Rani berjanji ya….setelah tahu Dik Rani mau menerimanya ?”, Shaqy mengajukan syarat.
Fatiya memandangi kotak itu dan tak segera memberikan jawaban. Tak lama kulihat Fatiya menggangguk.

“Itu isinya perhiasan. Dulu rencana untuk mahar kakak bila diberi izin Allah untuk menikahi Dik Rani. Tapi karena Allah menetapkan lain maka…..”, Shaqy terdiam. Tertunduk dalam. Tak ada yang berbicara. Semua tahu itu kejadian pilu, sangat memilukan.Tiba-tiba….

“Maka….maka….ini kuberikan sebagai hadiah untuk Dik Rani”, tegar kalimat itu terdengar.

Tak terasa air mataku menitik. Kasih sayang itu tak pudar walau dia telah menjadi milik orang lain. Itukah cinta suci, cinta sejati, cinta karena Ilahi ? Subhanallah ! Tak semua orang bisa tegar menerima semua ini. Dia memang lilin. Dia rela mengorbankan dirinya terbakar agar bermanfaat bagi orang lain.

Kulihat Fatiya masih ternganga mulutnya. Dia tak sanggup mau bilang apa. Semua tak disangkanya. Sebegitu jauhkan dulu Shaqy merencanakannya ? Sebegitu mendalamkah kasih sayangnya ? Semua tak di sangka Fatiya.

Kudengar Fatiya terisak. “Kak….”, tertahan.
“Kak, kenapa perhiasan ini tidak kakak berikan pada calon istri kakak nanti”, Fatiya masih belum percaya.

“Dik…itu hakmu, aku membeli untukmu bukan untuk orang lain. Jika nanti kakak menikah, ya…kakak beli lagi untuk istri kakak. Sudahlah terima ya….jangan kecewakan kakak”, Shaqy menjelaskan setengah memohon.

“Kak hanya Allah yang bisa membalasnya. Hanya Allah yang tahu tulusnya kasih sayang kakak pada Rani. Aku tak tahu harus bilang apa. Aku tak berdaya. Semua ditangan yang Maha Kuasa. Mungkin akan lebih bahagia jika kita bersama….tapi manusia tak boleh berandai. Manusia harus menerima apa yang ditetapkan sang Kuasa”, Fatiya tersedu.
Detik demi detik itu berlalu. Dan aku turut semakin pilu walau aku belum jelas tahu apa yang menyebabkan perpisahan dua sahabat yang saling merindu itu ?

Wanita disebelah Fatiya juga sibuk menghapus air mata dengan sapu tangannya. Dia membayangkan seandainya itu terjadi padanya pastilah lebih pilu lagi. Karena dia tahu bahwa dia tak setegar Fatiya dan Shaqy. Mungkin tak hanya yang berdiri disini, mungkin semua akan menarik nafas panjang yang menyesakkan dada, walau tak semua bisa menitikkan air mata. Ini bukan romanpicisan. Tapi kejadian yang sangat nampak di pelupuk mata.

“Sudahlah Dik….yang istiqamah ya…..sabar ya….semua pasti ada hikmahnya”, nasehat Shaqy. Sejuk terdengar di hati. Ya…memang hanya itu nasehat mujarab penenang hati.

“Ya….”, suara Fatiya serak.

“Kak….maaf Rani harus pergi, karena Rani harus ngejar jam terbang pesawat. Takut terlambat. Semoga kita bisa bertemu kembali…”, Fatiya berusaha mengakhiri.

“Hati-hati Dik….”, hanya itu yang bisa terucap dari mulut Shaqy melepas orang yang sangat disayanginya. Bertahun-tahun pernah tinggal dijiwanya.

Fatiya menatap Shaqy sendu. Antara berat dan harus pergi. Mata keduanya berkaca. Wanita pendamping Fatiya pun tak kalah terharunya. Aku sendiri setetes demi setetes mengalir ke pipi. Baru kali ini kelelakianku luluh lantak melihat tragedi yang terjadi di depanku. Seandainya itu terjadi padaku….? Wallahua’lam.

“Assalamu’alaikum”, Fatiya pun pamit diiringi langkahnya yang enggan.

Kamipun hanya bisa menjawab, “wa’alaikum salam”.

***

Dari jauh sang moderator Fatiya berlari-lari kecil.

“Mas Shaqy tunggu !”, teriaknya. Kami pun berhenti.

Dengan nafas ngos-ngosan dia menyerahkan bungkusan.

“Tadi Mbak Fatiya titip. Dia lupa ngasihkannya tadi. Dia bilang semoga bisa jadi kenang-kenangan”, jelasnya sambil terengah-engah.

“Oh…trimaksih ya..”, jawab Shaqy sopan.

“Dah Mas ya…assalamu’alaikum”

“Wa’alaikum salam”, jawab kami berdua.

Udara sejuk menerpa kami yang naik sepeda motor. Beginilah hari-hari kami ketika kuliah. Kesana kemari menyelesaikan tugas. Tak lama kami sampai di rumah tempat kontrakanku. Rupanya istri dan anakku sedang pergi jadi kami lebih bebas untuk melepas rindu di hati.Shaqy tak sabar ingin melihat apa isi dari bingkisan itu. Dengan pelan ia membuka bungkusnya yang terlipat rapi. “Subhanallah !”, rasa senang tersirat diwajahnya.
Kulihat bungkusan itu berisi sebuah qur’an tadjuwit lengkap dengan terjemahannya. Sepotong baju koko dan kopyahnya. Sebuah jam tangan yang cakep bentuknya. Dan ada sebuah amplop yang kupastikan isinya adalah surat. Dan aku tak salah lagi. Shaqy membukanya dan aku disuruh ikut membacanya.

Medan, 17 Januari 2008

Untuk saudara yang diberikan Allah kepadaku
Di ladang keistiqamahan

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Selamat ulang tahun yang ke-35 ya kak. Surat ini tertulis pas tanggal lahirmu, walau hadiah ini kuberikan lewat berbulan-bulan dari hari lahirmu. Hadiah ini kubeli pas hari lahirmu. Aku ingin mengirimkannya padamu tapi engkau tak kunjung memberikan alamatmu. Hadiah ini hanya kusimpan dan aku sangat yakin akan bisa memberikannya, walau aku tak tahu kapan aku akan diberi kesempatan untuk berjumpa denganmu.

Kak…alqur’an ini adalah pengganti diriku, jika engkau gundah gulanya bacalah dia sehingga engkau menemukan ayat-ayat cinta di dalamnya. Cinta yang abadi yang datang langsung dari yang Maha Mencintai. Semoga Al qur’an ini bisa menjadi penuntun keistiqamahanmu. Semoga bisa menjadi pengobat lara.

Jam ini semoga bisa mengingatkanmu bahwa waktu terus berjalan dan umurmu semakin pendek. Bersegeralah untuk menikah agar terpenuhi setengah dari dienmu. Sehingga ketika engkau meninggal engkau telah menggenapkan agamamu.

Baju koko batik dan kopyah ini. aku berharap ini bisa menjadi pendamping ijab qabulmu sebagai pengganti kehadiranku…

Semoga semua harapan ini bisa terkabulkan. Dan satu hal aku ingin engkau bahagia. Karena jika engkau bahagia aku akan lebih bahagia. Penuhilah harapanku….
Sekali lagi selamat ulang tahun. Semoga segera cepat menemukan wanita yang didambakan.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Asmarani

Aku dan Shaqy hanya bisa menarik nafas panjang. Tak ada yang terkatakan. Shaqy melipat surat itu dan memasukkannya kembali ke amplop. Kemudian membungkusnya lagi hadiah dari Fatiya itu. Dia minta izin untuk ke kamar mandi. Tiba-tiba HPnya bunyi.

“Qy telepon !”, teriakku.

“Angkatlah dulu”, jawabnya dari balik pintu kamar mandi.

“Assalamu’alaikum Fatiya”, sapaku.

Tut…tut….dimatiin.

“Siapa Mid?”, tanya Shaqy setelah selesai dari kamar mandi.

“Fatiya, tapi dimatiin”, jawabku pendek.

Taklama bunyi sms dari HP Shaqy.

Kak sp td yg angkt tlp ? kok lain suarany ? mkasih hadiahny. Sudah kulihat. Cakep n cantik tp maaf tdk akan ku pakai krn takut suamiku jd salah faham. Akan kusimpn sbg tbungan dn kenang2an. Sdh dlhat hadiah drku?

Kami hanya nyengir. Dan Shaqy kelihatan tegar dan sabar.

Y gpp. Dsimpan sj. Kk jg tak ingin bl nnti jd kericuhn d rmh tnggamu dik. O iya sdah ku buka. Makasih ya….walau aku tersindir tp tak apalah mngkin ini pringatan untkku. Hati-hati ya dik…

Walau lama ingin mengirim sms itu akhirnya terkirim juga. Sms balasan pun terdengar lagi.

“oiya kak tlng sms ini dbacakn untk temenmu itu. “Seorang sahabat adalah seseorang yang mengetahui nyanyian didalam hatimu, yang dapat menyanyikannya kembali untukmu”.smg engkau bs menjd sahabat terbaik lilinku.maaf bila td hrs menyakitimu

Aku tertegun. Terharu. Inilah persahabatan. Inilah penyerahan kepada tuhan. Dan akhirnya aku tahu kenapa sang lilin berpisah dengan Fatiya. Bukan Fatiya yang menyakitinya tapi lilinlah yang tak berani untuk memberikan harapan pada Fatiya. Lilin yang mengizinkan Fatiya menikah dengan orang lain. Karena ia merasa belum mampu membahagiakan Fatiya saat itu. Apa yang kita cintai belum tentu baik bagi kita. Dan pemberian Allah pasti terbaik untuk kita.*az

***********************************
Telah diterbitkan oleh Harian Analisa Medan
hari Rabu 19 Agustus 2009 dalam rubrik cerpen
************************************